
بسم الله الرحمن الرحيم
▪︎▪︎▪︎
Ustadz Azmi sudah bersiap-siap pergi pengajar. Karena profesinya sebagai guru, yang mengajar Akidah Akhlak.
Ia menghampiri sang istri yang masih tertidur pulas di atas ranjang. Ia mencium kening Dea sekilas, dan berlalu ke luar kamar menuju rumah Umma dan Abahnya.
“Assalamu'alaikum Umma,” ucap ustadz Azmi tiba di depan pintu.
“Walaikum'salam nak, ayo silahkan masuk.” ustadz Azmi mengangguk, ia berjalan menuju meja makan.
“Azmi mau sarapan di sini ya, Umma.” Ustadz mendudukan tubuhnya di kursi, yang ada di depan Yuli.
“Iya nak,” balas Umma Sila.
Ustadz Azmi dan Yuli sarapan dalam keadaan hening. Mereka fokus pada sarapan masing-masing, kemudian Umma Sila menghampiri meja makan.
“Azmi? Apa Adea sakit?” tanya Umma Sila.
Ustadz Azmi menggeleng, lalu tersenyum manis.
“Loh, terus Adea kenapa? Biasanya Adea selalu membuatkan kakak sarapan.” Yuli menatap wajah sang kakak heran.
“Apa kalian bertengkar lagi nak?” Umma Sila menghampiri ustadz Azmi.
__ADS_1
“Tidak Umma, semalam Azmi dan Adek melakukan ibadah. Terus tidur hanya berapa jam, abis itu Azmi mengajak Adek melaksanakan shalat tahajud berjamaah. Selepas dari shalat tahajud, Azmi mengajari Adek mengaji sambil menunggu waktu shalat subuh.”
Umma mengangguk sambil tersenyum.
“Azmi berangkat dulu ya Umma. Assalamu'alaikum.” Ustadz Azmi mencium punggung tangan Umma Silla.
“Walaikum'salam.” Balas Umma Sila.
“Abah pulangnya kapan ma?” tanya Yuli, sembersihkan meja makan.
“Mungkin dua hari lagi,” jawab Umma Sila. Lalu mengangkat keranjang pakaian kotor, “Nak, kamu temani Adea di rumah ya, sekalian bawain sarapan. Umma mencuci pakaian dulu.” Lanjut Umma Sila.
“Iya, Umma.”
Yuli menaruh napan di atas meja makan. Kemudian ia menyapu dan membersihkan rumah kakaknya. Rumah ustadz Azmi tidaklah besar, walau berlantai dua. Jadi Yuli tidak terlalu ribet dalam membersihkan ruangan.
“Yuli? Gak usah repot-repot, biar aku yang bersihin.” Dea menghampiri Yuli yang sedang mencuci piring.
“Gak apa-apa kok, kamu sarapan aja. Udah aku bawain sarapan.” Tutur Yuli masih fokus pada piring di tangannya.
“Makasih Yuli,” Dea mendudukan tubuhnya, lalu meneguk segelas susu.
Yuli mengangguk. Selepas mencuci piring Yuli menghampiri Dea, yang sedang memakan roti bakar di tangannya.
“Kakak kamu udah berangkat? Ia gak bangunin aku.” Keluh Dea.
__ADS_1
“Iya, kamu gak usah khawatir kak Azmi sarapan di rumah Umma,” ucap Yuli.
“Syukurlah, kamu gak capek abis bantu Umma membersihkan rumah. Terus membersihkan rumah ini lagi?”
“Gak kok, rumah sebelah Umma yang bersihin. Memang sebelum kak Azmi punya istri, Umma menugaskan aku membersihkan rumah kakak. Jadi pas kakak memberi tahu kalau ia sudah siap menikah aku senang bangat, udah gak repot-repot lagi bersihin rumahnya.” Yuli tersenyum lebar.
“Jadi mas Azmi tinggal di rumah ini sendirian?” tanya Dea yang di anggukan Yuli.
“Apa udah lama mas Azmi membeli rumah ini?” tanya Dea lagi.
“Iya udah lama, kak Azmi membeli rumah ini sejak 4 tahun yang lalu. Saat itu usia kakak baru 23 tahun. Ia membeli rumah ini dengan uang tabungan, kebetulan rumah ini hanya di jual murah. Karena pemiliknya akan pindah ke kota dan butuh uang.”
“Dan sejak rumah ini sudah menjadi milik kakak, ia pindah ke sini. Kecuali makan ia makan di rumah Umma.” lanjut Yuli.
“Wah, mas Azmi benar-benar keren. Terus kamu gak kuliah? Perasaan usia kamu baru 19 tahun kan?” Dea menaruh gelas susu ke atas napan, setelah susunya habis.
“Udah wisuda.” jawab Yuli santai.
“What?” teriak Dea kaget.
“Santai aja Adea, ceritanya begini. Dari kecil aku gak pernah sekolah seperti anak-anak pada umumnya. Aku sekolah paket, dari SD sampai SMA. Jadi usia 14 tahun aku udah dapat ijazah SMA. Setelah mendapat ijazah SMA aku kuliah di Universitas Islam Attahiriyah, mengambil jurusan sastra arab. Dan aku akan mengajar di pesantren, jika usiaku sudah genap 20 tahun.”
“Kamu ingin jadi guru juga?”
“Iya!!”
__ADS_1