Cinta Seorang Ustadz

Cinta Seorang Ustadz
Ibadah di siang hari


__ADS_3

بسم الله الرحمن الرحيم


▪︎▪︎▪︎


“Cie, merona.” Tunjuk Yuli pada wajah Dea.


“Apaan sih, gak kok biasa aja.” Bantah Dea.


“Gak usah mengelak deh. Kamu memang udah jatuh cinta sama kak Azmi kan?” goda Yuli sambil terkekeh melihat reaksi Dea.


Dea menjadi sangat gugup, rona malu di wajahnya terlihat jelas. Yuli terus menggoda Dea, ia tau kalau sebenarnya Dea mencintai kakaknya. Hanya saja Dea belum mengakuinya.


Sedangkan ustadz Azmi maju ke depan untuk memberikan selamat pada donatur. Ia tersenyum ramah, lalu mengulurkan tangan ke arah pria yang berdiri di depannya.


“Terima kasih anda sudah menjadi donatur di pesantren ini. Semoga kebaikan anda di balas Allah dengan melimpahkan rezeki.” ustadz Azmi menarik tangannya dari genggaman donatur itu. Lalu ia mengikuti arah pandangan donatur, pandangannya terhenti tepat pada Yuli dan Dea.


“Maaf pak, kenapa bapak menatap istri dan juga adik saya?”


Pertanyaan ustadz Azmi membuat pria tersebut kaget. Istri? Apa betul ustadzah itu sudah menikah? Pikirnya.


“Oh maaf, perkenalkan nama saya Andre.” Ucapnya mengulurkan tangan.


“Saya Azmi,” ustadz Azmi menerima uluran tangan Andre yang ke dua kali.


“Saya pamit ke tempat duduk dulu,” Andre hanya mengangguk.


Ustadz Azmi menghampiri Dea dan juga Yuli. Ia menatap kagum kepada sang istri, penampilan Dea hari ini benar-benar berbeda dari biasanya.


“Udah selesai mas?” tanya Dea di saat ustadz Azmi duduk tepat di sampingnya.


“Iya Dek,” jawab ustadz Azmi.


Setelah doa syukuran gedung baru khusus para laki-laki selesai, mereka bertiga berjalan menuju ruangan ustadz Azmi. Namun, Andre menghalangi jalan, ia tersenyum ramah menatap Yuli yang sedang menunduk.


“Dek, Yuli, perkenalkan ini donatur pesantren namanya pak Andre.” Ucap ustadz Azmi.


“Saya Dea, istri ustadz Azmi.” Dea memperkenalkan diri, tapi acuh dengan pria itu. Ia menggandeng mesra lengan sang suami.


“Saya Yuli, adiknya ustadz Azmi.” Yuli mengatupkan tangan di depan dadanya.


“Alhamdulillah, rezeki anak soleh. Ternyata sih ustadzah ini hanya adiknya, aku pikir istrinya.” Batin Andre kegirangan.


“Kak, aku ke ruangan sebentar ya. Kakak pulang duluan saja, Assalam'alaikum.” pamit Yuli meninggalkan mereka. Ia tidak nyaman, karena Andre selalu menatap wajahnya.


“Iya, wa'alaikumsalam.” Balas ustadz Azmi.


Setelah ke pergian Yuli, senyum Andre pudar. Kemudian, ia pamit pulang.


Ustadz Azmi dan Dea melanjutkan langkah mereka menuju ruangan. Ustadz Azmi mengambil beberapa berkas, karena ruangannya akan menjadi ruangan Yuli. Ia akan menempati ruangan baru di gedung sebelah.

__ADS_1


Ustadz Azmi sibuk memilah-milah berkas di tangannya, tiba-tiba Dea menghampirinya dan langsung duduk di pangkuan ustadz Azmi.


“Dek,” panggil ustadz Azmi melototkan mata.


Cup.


Satu kecupan lembut mendarat di pipi ustadz Azmi.


“Mas pulang yuk,” rengek Dea sambil memelas.


“Kenapa tiba-tiba ingin pulang? Tadi bilangnya bosan di rumah.”


Dea membisikkan sesuatu di telinga ustadz Azmi. Ustadz Azmi melototkan kedua matanya kaget.


“Apa Adek masih sering nonton film begituan?” tanya ustadz Azmi dengan dahi yang berkerut.


Dea menggeleng cepat. “Gak kok, aku hanya ingin aja. Aku tuh merasa mas hari ini tampan banget, bikin aku pangling.”


“Udah pintar ngegombal yah!!” Seru ustadz Azmi mencubit pipi Dea.


“Ayo doang mas, pulang.”


“Iya-iya.”


▪︎▪︎▪︎


“Setelah solat Zuhur aja Dek,” cegah ustadz Azmi saat Dea hendak membuka gamis yang ia kenakan.


“Mas menolak?” tanya Dea kesal.


“Bukan seperti itu, hanya saja sebentar lagi waktu sholat Zuhur.” Jawab ustadz Azmi.


“Baiklah”


Waktu sholat Zuhur ustadz Azmi dan Dea menunaikan sholat di rumah. Usai sholat, ustadz Azmi mengabulkan keinginan Dea. Sebenarnya ia juga menginginkan hal itu, tapi ia sadar ini masih siang. Jadi ia mengurungkan niatnya meminta Dea untuk memenuhi kebutuhan biologisnya.


“Tuh kan, mas juga suka bangat. Tapi gengsi,” ucap Dea lemah.


“Karena masih siang Dek,” balas ustadz Azmi turun dari ranjang.


“Kan bukan bulan puasa mas.”


“Mas kasian aja Adek kepanasan,” ustadz Azmi menarik selimut menutupi tubuh Dea.


“Di kamar ada Ac-nya nggak usah lebay. Sana mandi,” pinta Dea.


Ustadz Azmi tersenyum, lalu, ia melangkah menuju kamar mandi. Setelah ustadz Azmi keluar kamar mandi, kini gilirian Dea masuk ke dalam kamar mandi.


Dea mengganti pakaian santai, baju dan kaos berlengan panjang tanpa memakai jilbab. Ini kebiasaan di rumah jika hanya berdua. Walau ia sudah terbiasa memakai jilbab tapi ia lebih suka melepaskan jilbab di depan sang suami.

__ADS_1


“Dek, makan bareng mas aja ya.” Ucap ustadz Azmi.


Dea mengangguk, ia belum memasak makan siang. “Iya, suapi aku.” pinta Dea.


Ustadz Azmi tersenyum, ia menyuapi Dea sekaligus makan bersama.


Dea melirik piring sudah kosong, pedahal ia masih sangat lapar. Aktivitas mereka tadi menguras banyak tenaga, apalagi ia belum makan siang.


“Mas?” panggil Dea menatap lekat wajah ustadz Azmi.


“Kenapa Dek, apa masih lapar?”


“Boleh jujur gak?” tanya Dea polos.


“Boleh sayang, mas selalu mengajari Adek untuk jujur kan. Jadi gak bisa berbohong, okay!!”


Dea mengangguk, “Aku masih lapar mas.”


“Kita makan di rumah Umma aja ya.”


“Iya!”


Mereka berdua berjalan menuju rumah Umma Sila.


Ustadz Azmi dan Dea memberitahu pada Umma Sila ingin makan siang. Umma Sila mengangguk tersenyum, ia tau Dea tidak sempat memasak. Karena Dea ikut ke pesantren tadi.


“Pulangnya dari tadi, kenapa baru datang makan siang?” tanya Umma Sila.


“Umma ngomongnya sebentar Dea lapar bangat.” Jawab Dea melahap makanannya.


Umma Sila mengangguk, ia memilih duduk di kursi. Sambil menunggu ustadz Azmi dan Dea selesai makan siang.


Selepas makan, ustadz Azmi menghampiri Umma Sila. Sedangkan Dea mencuci piring.


“Adea kelaparan nak, kenapa baru makan siang? Bukannya kamu pulang dari pesantren sebelum masuk waktu zuhur. Dan ini sudah pukul tiga.” Tanya Umma Sila heran.


“Itu Umma, setelah sholat Zuhur Azmi dan Adek melakukan ibadah lagi. Adek juga belum makan siang ma,” jawab ustadz Azmi.


“Lain kali, makan dulu nak. Kalau ia pingsang gimana?”


“Iya, Umma. Azmi gak akan mengulanginya lagi.”


Dea yang berdiri di belakang ustadz Azmi tersenyum dengan wajah yang memerah.


“Mas, kenapa harus kasih tau sih?” kesal Dea, saat Umma Sila meninggalkan mereka berdua.


“Gak apa-apa sayang, kan harus jujur.” Balas ustadz Azmi tersenyum.


“Aku malu tau, ibadah di siang hari.”

__ADS_1


__ADS_2