Cinta Seorang Ustadz

Cinta Seorang Ustadz
Penyesalan Aleyna


__ADS_3

بسم الله الرحمن الرحيم


▪︎▪︎▪︎


Dea berbalik hendak melangkah pergi dari rumah Paman Zaki. Namun, langkahnya terhenti saat melihat ustadz Azmi yang berdiri tepat di belakangnya. Dengan wajah yang penuh dengan kecemasan dan juga kekhawatiran.


Dea mengusap air mata, lalu ia melangkah pergi melewati ustadz Azmi yang masih mematung di tempat.


Tiba di rumah, Dea masuk di ikuti ustadz Azmi dari belakang. Ia berbalik menutup pintu rumah dengan kasar, sehingga bunyi pintu sampai ke telinga Yuli. Yuli yang ada di teras rumah kaget, tapi ia tidak berani mendekat.


Dea menghampiri ustadz Azmi dengan raut wajah tak ada senyum sedikit pun. Ustadz Azmi merasa was-was, ia takut istrinya akan berbuat nekat terhadapnya.


“Dek, maafkan mas yang ti—” Ucapan ustadz Azmi terhenti, karena bibirnya sudah di bungkam Dea dengan ciuman lembut.


Ustadz Azmi kaget, ia pikir Dea akan menamparnya. Karena tidak jujur dari awal, tapi semua ketakutan sirna di saat Dea memulai aksi nakalnya.


Ustadz Azmi hanya pasrah, yang terpenting istrinya tidak salah paham. Walau ia malu dengan tindakan nakal yang Dea lakukan pada tubuhnya ia tetap tersenyum menanggapi Dea.


“Kenapa mas gak ngasih tau aku dari awal?” tanya Dea melepaskan tangannya dari leher ustadz Azmi.


“Mas gak ingin Adek kepikiran hal itu sayang. Dan Adek harus tau, mas tidak pernah mencintai Aleyna. Mas hanya menganggap Aleyna sebagai adik sama halnya dengan Yuli.”

__ADS_1


“Hanya Adek yang mas cintai, mas harap Adek bisa percaya sama mas.” Lanjut ustadz Azmi dengan penuh harapan.


“Iya, tapi jangan ulangi lagi. Aku udah blak-blakan sama mas, tapi mas masih nutupin kayak gini?”


“Maaf sayang, ini semua juga demi Adek!!”


▪︎▪︎▪︎


Dua hari setelah kejadian itu, Paman Zaki drop hingga masuk klinik terdekat. Mendengar Paman Zaki sakit Dea pasrah, walau ia belum berani bertemu dengan Aleyna. Tapi ia harus bisa menghadapi semua ini, demi Paman Zaki yang sudah ia anggap sebagai ayah.


Tiba di ruangan, Dea membuka pintu perlahan di ikuti ustadz Azmi dari belakang. Ia melihat Aleyna menangis di pelukan Bibi Rani.


Dea menghampiri ranjang tempat Paman Zaki berbaring. Namun, belum sempat ia mendekat ke arah ranjang langkahnya terhenti. Sebab, Aleyna berlutut di kakinya sambil menangis meminta ampun.


“Dea, maafkan kakak. Maafkan kakak, Dea. Gara-gara kakak, ayah sampai drop seperti ini. Maafkan kakak mengatai—”


“Jangan menyebutku perempuan bebas lagi,” potong Dea ketus.


“Dek, berbicaralah dengan sopan sayang.” Ucap ustadz Azmi lembut. Ia tau istrinya ingin mencabik-cabik Aleyna.


“Huhhh, kalau bukan Paman masih sakit. Aku akan mencakar wajahmu.” Gerutu Dea kesal menatap wajah Aleyna.

__ADS_1


“Dae maafkan kakak, kakak tidak bermaksud merusak rumah tanggamu. Kakak sungguh menyesali perbuatan kakak terhadap ayah dan ibu.” Ucapnya berderai air mata, dengan penuh penyesalan.


Dea merasa kasian, “Sudahlah, aku memaafkan mu. Berdirilah,” pintanya.


“Terimah kasih Dea,” Aleyna memeluk Dea erat. Sedangkan ustadz Azmi menatap dengan penuh syukur, ternyata selama empat tahun Aleyna sudah banyak berubah. Ia sudah tak seegois dulu.


Dea melepaskan pelukannya menuju ranjang. Paman Zaki dan Bibi Rani tersenyum.


“Bagaimana keadaan Paman?” tanya Dea khawatir.


“Alhamdulillah sudah lebih baik. Terima kasih Dea, sudah memaafkan kakakmu.” Balas Paman Zaki.


“Iya sama-sama Paman,” Dea tersenyum lembut.


▪︎▪︎▪︎


Karena setiap novel harus ada pemeran antagonis, maka 'ana menghadirkan pemeran antogonisnya walau hanya sementara waktu.


Tapi, 'ana menulis novel ini hanya untuk menghibur para pembaca. Maka 'ana langsung membuat pemeran antagonis bertobat!!


—Kesempurnaan hanya milik Allah swt. Sebesar apa pun kesabaran dan iman seseorang tetap akan runtuh di suatu waktu. Begitu pun dengan Aleyna, perempuan sholehah dan juga selalu berbakti kepada orangtua—

__ADS_1


By Alnisa' aleadiat


__ADS_2