
بسم الله الرحمن الرحيم
▪︎▪︎▪︎
Ustadz Azmi bersiap-siap, mengajak Dea jalan-jalan. Namun, saat dirinya sudah siap. Dea sudah tak mau pergi, dengan alasan matahari panas. Ia tak mau berpanas-panasan naik motor.
Ustadz Azmi tersenyum pasrah, ia sudah terbiasa dengan tingkah laku Dea.
"Mas?" panggil Dea dari dalam kamar mandi.
Ustadz Azmi segera menghampiri Dea, ia membuka pintu kamar mandi. "Ada apa Dek?" tanyanya.
Dea tak berkutik malah menarik tangan ustadz Azmi masuk ke dalam kamar mandi. Ustadz Azmi menautkan alis heran, saat Dea mengambil silet. Dan juga alat yang biasa di pakai mencukur kumis.
"Biar aku cukur dulu rambut-rambut mas." Dea mendudukan tubuhnya tepat di hadapan ustadz Azmi.
"Mencukur rambut apa?" tanya ustadz Azmi takut, sembari menghindari dari tatapan Dea.
"Ihh, mas pikirnya terlalu jauh deh. Aku itu mau mencukur rambut yang itu." Dea memegang kedua pipi ustadz Azmi, sembari menarik rambut yang tumbah di dagu ustadz Azmi yaitu jenggot.
"Dek, sakit jangan di tarik dong." Ustadz Azmi menahan tangan Dea.
__ADS_1
"Aku mau lepas, asal aku mencukurnya." Ucap Dea mendekatkan wajahnya ke wajah sang suami yang meringgis kesakitan.
"Iya Dek," ustadz Azmi mengangguk setuju.
Dea tersenyum puas, lalu ia segera melakukan keinginannya mencukur jenggot sang suami. Ia selalu merasa geli ketika ustadz Azmi menciumnya, begitu pun sebaliknya. Karena rambut halus yang tumbuh di dagu sang suami.
▪︎▪︎▪︎
Yuli yang hampiri ustadz Azmi dan Dea yang sedang duduk di teras rumah, ia kaget. Seketika tawanya pecah, saat melihat wajah sang kakak menurutnya berbeda.
Dea dan ustadz Azmi menatap Yuli heran, kemudian Dea melingkarkan tangan di pinggang suaminya. Lalu berkata, "Kamu sudah gila ya? ketawa gak jelas."
Dea mengangguk. "Iya, tapi gak buruk juga kan?"
"Gak, malah kakak terlihat lebih muda."
"Syukurlah," ustadz Azmi tersenyum, lalu ia melepaskan tangan Dea dari pinggangnya.
"Mas," Dea menatap ustadz Azmi kesal. Ia tak terima ustadz Azmi melepaskan pelukannya.
"Dek, bukan mas sudah bilang." Ustadz menatap Dea dengan tatapan penuh arti.
__ADS_1
Dea menghembuskan napas pasrah, ia mengerti dengan tatapan suaminya. Karena sang suami tidak mau ada orang lain yang melihat kemesraan mereka. Cukup hanya mereka berdua saja jika ingin.
"Adea? besok ikut aku ke pesantren yuk. Ada kunjungan lagi, mau dong ya." Bujuk Yuli, sembari memegang tangan Dea.
"Iya, nanti kakak ajak Dea besok." Ustadz Azmi yang membalas bujukan Yuli, karena Dea hanya diam. Mungkin masih kesal dengan tindakannya tadi.
"Okey, kakak benarin jilbab Adea besok lagi ya." Yuli tersenyum senang. Sedangkan ustadz Azmi hanya mengangguk setuju.
"Aku udah bisa sendiri, tanpa di bantu sama mas." Bantah Dea, tak terima dengan ucapan Yuli.
"Iya, bisa sendiri. Tapi gak rapi," ledek Yuli. Ia tau, Dea tak pernah belajar memasang jilbab yang benar. Karena sudah ada sang suami yang sangat mahir dalam memasang jilbab.
"Kamu benar," ucap Dea pasra. Ia tak mau lagi berdebat dengan Yuli.
"Kakak kenapa gak ajarin Dea? agar punya dede nanti kan sudah tau." Usul Yuli.
▪︎▪︎▪︎
Maaf setiap up hanya sedikit ya. Karena 'ana juga punya kewajiban tersendiri, sebagai hamba Allah.
Man jadda wajada!!!
__ADS_1