
بسم الله الرحمن الرحيم
▪︎▪︎▪︎
Setelah memasak Dea menghidangkan makan ke atas meja. Lalu mereka makan bareng.
Ustadz Azmi tersenyum saat satu suapan masuk ke dalam mulutnya, ia seakan tak percaya kalau sebenarnya Dea pintar dalam hal memasak.
"Adek pinta masak juga. Siapa yang mengajari masak Dek?" tanya ustadz Azmi penasaran.
"Aku belajar dari ibunya Ulma. Karena aku selalu kesepian di rumah, kalau gak ada Ulma. Sering juga kelaparan, maka aku belajar memasak." Jawab Dea.
Dea menundukkan pandangannya, menahan air mata agar tak lolos dari pelupuk matanya.
"Dek jangan sedih sayang, ayo cerita sama mas. Siapa tau mas bisa membantu," ustadz Azmi mengelus puncak kepala Dea.
"Aku kesepian mas, jika Ulma tidak ada aku merasa dunia begitu sunyi. Sebab itu, aku tak pernah betah di rumah. Aku selalu ingin ke tempat- tempat yang banyak hiburan. Aku setiap malam selalu mengunjungi club malam, untuk menghilangkan ingatanku, aku selalu penasan bagaimana sosok ayah sama ibu. Mereka tega meninggalkan aku, saat masih bayi." Dea terisak.
"Sabar Dek, sekarang Adek sudah tidak kesepian lagi. Karena ada mas, soal ayah dan ibu itu memang sudah takdir Dek." Ustadz Azmi memeluk tubuh Dea.
"Dan mulai sekarang Adek gak bisa lagi main ke tempat seperti itu. Jika Adek mau ayah dan ibu bahagia, maka perbaikilah hidup Adek ke depannya." Lanjut ustadz Azmi.
Dea hanya mengangguk, lalu tersenyum. Entah ia sudah paham atau tidak peduli.
"Ayo makan," ustadz Azmi melepaskan pelukannya.
▪︎▪︎▪︎
Malam hari, ustadz Azmi mengajak Dea menunaikan solat isya berjamaah di mesjid. Yang ada di depan rumah mereka. Dea hanya menuruti saja, karena ia juga ingin bertemu Yuli.
Selepas dari solat isya, Dea memanggil Yuli yang hendak masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Ada apa kak?" tanya Yuli.
"Kenapa manggil kak? Aku belum setua itu, usia kita sama 19 tahun." Dea menekan kata 19 tahun.
Yuli terkekeh, ia yakin pasti kakanya butuh waktu lama untuk mendidik istrinya. Karena Dea bukan anak kecil yang bisa di atur.
"Kamu sekarang istri dari kakak ku, jadi harus di hormati." Ucap Yuli seraya tersenyum.
"Serah, kamu mau tidur sama aku gak?" tanya Dea.
Yuli tersenyum, lalu ia menatap wajah Dea. "Gak bisa, kamu udah punya suami. Kasian kak Azmi." Jawab Yuli.
"Kalau gak mau bilang, aku duluan." Ketus Dea. Berlalu meninggalkan Yuli.
Dea masuk ke dalam rumah, ia langsung masuk kamar. Sambil menunggu ustadz Azmi yang masih melakukan tadurus, ia mengambil laptop. Lalu menghubungi Ulma.
Adea
Ulmayirah
Nonton film.
Adea
Film apa Emang?
Ulmayirah
Biasa film favorite kita, aku dapat film yang baru nih. Pemain film bule, seru banget sumpah. Kamu udah punya suami bisa di coba.
Adea
__ADS_1
Kirim dong.
Tak beberapa lama kemudian, Ulma mengirimkan film tersebut. Dea langsung membuka film itu, dan menontonya hingga menit terakhir.
"Adek?" panggil ustadz Azmi.
Dea terkejut, ia langsung menutup laptop. "Ada apa?"
"Gak, mas pikir Adea udah tidur." ustadz Azmi naik ke atas tempat tidur.
Dea yang sudah terobsesi oleh film yang baru saja ia tonton, langsung mencium sang suami.
"Adek kenapa hm?" tanya ustadz Azmi lembut.
"Aku ingin," jawab Dea.
Ustadz Azmi mengabulkan permintaan sang istri. Walau awalnya heran, karena ia melihat istrinya seperti terangsang.
Setelah melakukan ibadah, yang layaknya wajib bagi suami istri. Ustadz Azmi turun dari ranjang hendak ke kamar mandi. Namun, tiba-tiba ia mendengar suara aneh.
Pelan-pelan ustadz Azmi menghampiri laptop Dea, ia membuka laptop itu. Dan langsung di kejutkan dengan pemandangan yang tidak harus di lihat. Film dewasa, yang tadi di putar Dea.
"Astafirullahaladzim, Dek." Ustadz Azmi langsung menutup layar labtop.
Dea memalingkan wajahnya menatap ustadz Azmi tanpa suara.
"Kenapa Adek menonto film seperti ini? Ini gak benar Dek. Dosa!"
Wajah Dea memerah menahan malu, ia lupa menghentikan vidio itu.
"Mas, maaf vidio itu di kirim Ulma. Terus aku menonton sambil menunggu mas pulang." Dea memalingkan wajah tanpa menatap ustadz Azmi.
__ADS_1
"Dek, kalau ingin tingga minta. Jangan menonton film begitu lagi."