
بسم الله الرحمن الرحيم
▪︎▪︎▪︎
Dea dan ustadz Azmi berpamitan pulang, tiba-tiba Aleyna menghampiri mereka.
“Ada apa, Aley?” tanya ustadz Azmi.
“Makasih ya, sudah membimbing adikku menjadi wanita pemaaf.” Jawab Aleyna.
“Itu sudah menjadi tanggung jawabku sebagai seorang suami, Aley.”
“Sekali lagi terima kasih, Azi,” Aleyna tersenyum tulus menatap Dea.
“Huhh, kenapa harus pake nama khusus sih? Bikin kesal aja.” Gerutu Dea, sambil tersenyum di paksakan.
“Kami pamit dulu, assalamu'alaikum.” Ucap ustadz Azmi.
“Walaikum'salam,” balas Aleyna.
Ustadz Azmi dan Dea pulang menggunakan motor, menuju rumah. Tiba di rumah, Dea langsung masuk ke dalam. Tapi bukan ke dalam rumah mereka, melainkan rumah Abah dan Ummnya.
Ustadz Azmi menatap punggung Dea yang menghilang di baling pintu, dengan tatapan bingung. Sejak pulang dari kliknik tadi, Dea seperti marah padanya.
Ustadz Azmi menyusul Dea masuk ke dalam rumah. Ia melihat ke sekitar tidak menemukan Dea, kemudian ia menghampiri Abah.
“Abah, di mana Adek?” tanya ustadz Azmi.
“Ada di kamar Yuli, Nak.” Jawab Abah Rahman.
“Kalau gitu, Azmi menyusul Adek dulu, Bah.”
__ADS_1
“Iya, Nak.”
Ustadz Azmi melangkah menuju kamar Yuli. Tiba di depan pintu ia hendak mengetuk pintu. Namun, ia mendengar Yuli menasehati Dea.
“Adea, kita harus tulus memaafkan kesalahan orang lain. Karena semua manusia itu pernah melakukan kesalan. Begitu pun dengan Aleyna,” tutur Yuli.
“Bukan aku gak tulus, tapi aku malas bangat. Mereka berdua pake nama khusus segala.”
“Nama khusus gimana?” tanya Yuli tak mengertia dengan maksud Dea.
“Azi dan Aley!!” seru Dea sembari berteriak.
Ustadz Azmi yang berdiri di balik pintu menggeleng-geleng kepala.
“Oh ...itu sudah kebiasaan mereka dari kecil, tapi kamu tenang saja. Kakak tidak mempunyai perasaan khusus terhadapnya, seperti panggilan khusus yang kamu maksud.”
Dea memutar bola mata malas, ia menatap Yuli kesal. “Yang itu aku malas, kamu juga buat aku bertambah kesal.”
Dea terdiam sembari melototkan kedua matanya. “Gak mungkin,” Dea bangkit dari ranjang menuju pintu.
Ia membuka pintu dengan tergesa-gesa. Namun, ia langsung di kejutkan dengan keberadaan ustadz Azmi yang ada di balik pintu.
“Mas ngapain disini? Nguntit ya?” Dea menatap dengan penuh selidik.
“Gak, ayo ke rumah sebelah.” Ajak ustadz Azmi.
Dea mengangguk, lalu mengikuti sang suami dari belakang.
▪︎▪︎▪︎
Dea membuatkan susu hangat untuk ustadz Azmi. Setelah selesai ia menyerahkan segelas susu ke arah ustadz Azmi.
__ADS_1
“Makasih Dek,” ustadz Azmi meraih susu.
Dea mengangguk, lalu duduk di samping sang suami. “Mas dengar yang aku cerita sama Yuli kan?” tebak Dea.
“Iya, apa betul Adek cemburu?” ustadz Azmi berbalik menatap Dea.
“Haaa? Ng—nggak kok, aku hanya—” Dea meremas jari-jarinya gugup.
Jujur saja ia merasa cemburu, tapi ia malu mengakuinya. Ia juga berpikir seorang yang cemburu itu sudah memiliki perasaan terhadap lawan jenis. Seperti hal dirinya dengan sang suami.
“Kalau gak kenapa jadi gugup gini?” ustadz Azmi meraih kedua tangan Dea.
Dea tersenyum, “Sebenarnya aku tuh cemburu mas sama kak Aleyna punya panggilan khusus. Tapi aku juga heran, kenapa aku bisa cemburu. Pedahal aku belum mempunyai perasaan suka terhadap mas.” Ucap Dea jujur.
Walau ia malu mengakui hal ini, tapi ia tidak bisa berbohong. Karena ustadz Azmi selalu mengajarnya agar jangan berbohong, kepada dirinya. Dan kepada siapa pun itu.
“Kalau Adek udah cemburu, berarti Adek sudah mulai mencintai mas.” Ustadz Azmi menggenggam tangan Dea.
“Aku gak suka mas memanggilnya Aley, apalagi ia memangil mas dengan sebutan Azi .” Ucap Dea dengan wajah memerah.
“Maaf ya, mulai dari sekarang mas akan memanggilnya Aleyna.” Ustadz Azmi mencubit gemas kedua pipi Dea.
Dea mengangguk, lalu ia mendekat dan langsung mencium bibir sang suami. Jujur saja, ia sangat menyukai hal itu. Ia tidak merasa jijik sedikit pun, ustadz Azmi seorang pria yang pandai menjaga kesehatan tubuh.
▪︎▪︎▪︎
Jum'at barokah!!
Selamat menunaikan ibadah jum'at, somoga amal dan ibadahnya di terima oleh Allah swt.
Aminn ......
__ADS_1