Cinta Seorang Ustadz

Cinta Seorang Ustadz
Berwudhu dapat menyegarkan hati dan pikiran


__ADS_3

بسم الله الرحمن الرحيم


▪︎▪︎▪︎


Di ruang tamu, Andre kembali meminta jawaban Yuli. Ia berharap Yuli akan menerima lamarannya. Namun, Yuli malah menolak secara halus. Yuli bisa membaca dari tatapan mata Ranty, tatapan matanya seakan mewakili perasaannya. Yang tak rela di madu.


"Begini Nak, kamu dan istrimu berdoa. Insya'allah kalian akan mendapat keturunan. Karena kami tidak bisa memaksa Yuli," Abah Rahman menasehati Andre. Ia bisa melihat jelas bahwa Andre jauh dari iman.


"Iya pak, terima kasih. Kalau begitu kami pamit dulu," ucap Andre kecewa.


"Hati-hati di jalan Nak," seru Umma Sila di saat Andre dan Ranty berpamitan.


Andre hanya mengangguk pasrah, berbeda dengan Ranty. Senyum di wajahnya terlihat mengembang sempurnah.


Di depan mobilnya, Andre tak sengaja berpapasan dengan Aleyna. Aleyna terkejut dengan keberadaan Andre dan juga istrinya di rumah ustadz Azmi. Apalagi saat mendengar alasan Andre datang ke rumah Umma Sila, yaitu melamar Yuli.


"Gak bisa kegitu Ndre, biar bagaimana pun Ranty akan sakit hati. Begitu pun dengan Yuli, di madu itu memang sakit." Tutur Aleyna lembut sembari menatap Ranty dengan sendu.


"Kamu gak usah menasehatiku, Aley. Kau belum menikah, bagaimana kau bisa tau?" Andre menghela napas, ia merasa bahwa keputusan yang di ambilnya itu sudah benar.


"Aku memang belum menikah, tapi aku bisa merasakan apa yang Ranty dan Yuli rasa. Karena aku juga perempuan," bantah Aleyna.


"Yaudah, gadis solehah. Terus kamu ngapain di sini?" Andre mengalihkan pembicaraan.


"Mau antarin bakso adik aku," jawab Aleyna menunjuk pada kantong plastik di tangannya.


"Oh, aku pamit dulu." Andre membuka pintu mobil.


"Aleyna, aku pamit dulu ya." Ucap Ranty, ikut masuk ke dalam mobil.


Aleyna hanya mengangguk.


Dari dalam rumah, Dea memperhatikan obrolan singkat di antara mereka.

__ADS_1


"Assalam'alaikum." Aleyna mengucapkan salam saat tiba di depan pintu.


"Wa'alaikum salam," balas Dea tersenyum manis.


"Baksonya, di makan ya." Aleyna menaruh kantong plastik ke atas meja, tepat di hadapan Dea.


"Iya maksih banyak kak, mari silahkan duduk." Dea menepuk sofa di sebelahnya.


Ustadz Azmi tersenyum, ia tau maksud istrinya. "Mas ambilin piringnya ya Dek," serunya seraya beranjak dari duduknya.


Dea mengangguk. "Iya, tapi makannya nanti sebentar mas."


"Kak Aleyna saling kenal sama pria yang melamar Yuli?" tanya Dea penasaran.


"Iya, kami saling kenal. Waktu kakak di Malaysia sering di bantu sama dia," jawab Aleyna.


"Aku gak suka, dia mau nikahin Yuli." Keluh Dea dengan tarikan napas terdengar begitu berat.


"Kamu tenang saja, Andre laki-laki yang baik dan bertanggung jawab."


"Entahlah, kakak juga tidak mengerti." Balas Aleyna lalu berpamitan pulang.


Sepeninggalnya Aleyna, ustadz Azmi menyuapi Dea makan bakso. Tapi Dea malah berbalik menyuapinya, hingga bakso tersebut habis.


▪︎▪︎▪︎


Malam hari, selepas sholat isya berjama'ah, ustadz Azmi mengajak Dea pergi ke pesantren bersama dengan Yuli. Tiba di pesantren ustadz Azmi menyuruh Dea ikut bersama Yuli bergabung dengan para ustadzah lainnya. Sedangkan dirinya bergabung dengan para ustadz.


"Ihh ...aku gak tenang bangat, ini gara-gara mas Azmi." Gerutu Dea kesal melihat suaminya dari kejauhan.


"Sabar sebentar lagi selesai," Yuli menggenggam tangan Dea menunggu seorang kiyai sampai selesai berceramah.


"Aku mual, bukannya gak nyaman mendengar orang yang berceramah." Dea menutup hidungnya. Bau minya wangi dari beberapa murid perempuan di dekatnya membuatnya tak nyaman.

__ADS_1


"Kau tunggu di sini, biar aku panggil kak Azmi dulu." Yuli beranjak dari duduknya, ia melangkah lebar mendekati ustadz Azmi.


Mengetahui bahwa istrinya mual, ia segera menghampiri Dea dan mengajaknya pulang walau ceramah yang sedang di dengarnya belum selesai. Tapi masih di depan pintu gerbang pesantren, Dea sudah lebih dulu memuntahkan isi perutnya di jubah yang berwarna putih yang di kenakan ustadz Azmi.


"Dek? bukannya hanya mual?" tanya ustadz Azmi melihat jubah yang ia kenakan sudah kotor.


"Tadinya hanya mual, tapi lama-kelamaan ingin muntah. Mas marah?" Dea menetap wajah ustadz Azmi dengan tatapan lemas.


Ustadz Azmi menggeleng cepat. "Gak sayang, mas gak marah kok." Ustadz Azmi tersenyum lebar.


"Kita pulang ya," ustadz Azmi mengelus puncak kepala Dea. Lalu ia melirik Yuli yang berdiri di belakang Dea, Yuli mengangguk.


Tiba di rumah ustadz Azmi membersihkan diri terlebih dulu. Lalu ia membantu Dea membersihkan dirinya, karena Dea sudah sangat lemas.


"Dek, makan dulu ya." Ustadz Azmi menaruh napan ke atas nakas seraya membangunkan Dea.


"Mas jangan lebay deh. Aku hanya lemas bukan sakit," ucap Dea meraih sendok dari tangan ustadz Azmi yang hendak menyuapinya.


Usai makan, Dea merebahkan tubuhnya di samping ustadz Azmi. Ustadz Azmi sudah lebih dulu memenjamkan matanya. Sementara Dea hanya bergerak-gerak mencari keyamanan.


Ia memeluk erat leher ustadz Azmi, yang membuat ustadz Azmi membuka lebar kedua matanya sembari terbatuk-batuk.


"Jangan mencekik Dek, peluk saja ya." Ustadz Azmi melonggarkan tangan Dea dari lehernya.


"Mas malah tidur sih, aku gak bisa tidur." seru Dea kesal.


"Kenapa hm?" tanya ustadz Azmi seraya menyelipkan rambut panjang Dea di balik telinga.


"Aku gak tenang," jawab Dea menatap wajah ustadz Azmi dengan jarak yang sangat dekat.


"Ambil air wudhu dulu Dek," ustadz Azmi bangun. "Sini biar mas temani, tadi Adek gak sempat berwudhu."


"Gak mau ahh," tolak Dea malah menutup wajahnya dengan bantal.

__ADS_1


"Berwudhu dapat menyegarkan hati dan pikiran, Dek." Ustadz Azmi menarik pelan bantal yang menutupi wajah Dea.


__ADS_2