
بسم الله الرحمن الرحيم
▪︎▪︎▪︎
"Adea?"
Dea menatap Yuli sembari menahan sesak di dadanya. "Ada apa?"
"Kamu harus sabar ini adalah ujian dari Allah, untuk menguji kesabaranmu dalam menghadapi masalah rumah tangga."
Dea terdiam, air mata yang ia bendung akhirnya jatuh juga. Membasahi pipi nan ayu itu, tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Melainkan hanya air mata yang mengalir deras dari pelupuk matanya.
"Menangislah, aku ada untukmu. Tapi kau harus ingat debay!" seru Yuli turut priatin melihat kondisi Dea.
Tanpa berlama-lama Dea berhambur kepelukan Yuli. "Makasih Yuli, sudah mengerti dengan perasaanku."
"Sama-sama Adea, tapi yang lebih paham soal ini adalah kakak."
▪︎▪︎▪︎
Diruang tamu.
Ustadz Azmi mempersilahkan Dion duduk, ia pun ikut duduk berhadapan dengan Dion. Sakit hati? Tentu saja, dunia ustadz Azmi seketika runtuh mendengar pernyataan Dion. Namun, dengan iman dan keteguhan hati, ia melawan rasa sakit yang teramat sangat. Dan meyakinkan bahwa Allah sedang mengujinya.
"Aku benar-benar masih mencintai Dea, Bang. Tapi aku tak bermaksud menyakitimu Bang." Tutur Dion merasa bersalah, ia manusia yang mempunyai perasaan. Jadi ia bisa merasakan apa yang tengah ustadz Azmi rasakan saat ini.
"Tak apa-apa Dion, bagiku itu tidak masalah. Yang terpenting kau sudah mau jujur." Ustadz Azmi tersenyum semanis mungkin, seakan tidak terjadi apa-apa barusan.
Dion yang melihat hal itu, merasa heran. Sebegitu sabarnya ustadz Azmi? Masih bersikap biasa saja, walau pernyataan menyakitkan baru saja ia hadapi. Kalau pria lain sudah tentu Dion babak belur, tapi kali ini ceritanya berbeda.
"Maaf Bang, maafkan aku!" Dion bangkit dari duduknya berlutut di kaki ustadz Azmi.
"Sudah jangan seperti ini, ingat ujin yang di berikan Allah ada bermacam-macam." Ustadz Azmi menuntun Dion untuk kembali duduk di sofa.
"Aku berjanji akan melupakan Dea sepenuhnya Bang, aku juga berharap Abang tidak akan menyakitinya."
"Terima kasih atas pengertiannya, insya'allah."
Ditengah-tengah perbincangan mereka, tiba-tiba di kagetkan dengan Andre yang mencari keberadaan Yuli.
__ADS_1
"Ada di kamar Adek," seru ustadz Azmi memberitahu.
Andre mengangguk paham, lalu ia berbalik menatap Dion.
"Dia datang menemuiku." Ucap ustadz Azmi yang mengerti dengan tatapan Dion.
"Oh ..."
▪︎▪︎▪︎
Setelah Dion berpamitan, ustadz Azmi membuatkan sarapan untuk Dea di bantu Yuli. Setelah selesai ia membawa sarapan ke dalam kamar. Karena sejak tadi, Dea tak kunjung keluar kamar.
"Dek?" panggil ustadz Azmi menaruh napan ke atas nakas. "Sarapan dulu Dek," lanjutnya sembari menyentuh punggung Dea yang sedang membelakanginya.
Seketika, Dea berbalik menghadap ustadz Azmi. Ia memeluk tubuh sang suami dengan begitu erat. "Aku hanya untuk mas, jadi tenang saja."
Ustadz Azmi tersenyum lebar, rasanya begitu lega mendengar ucapan Dea. Tapi di dalam benaknya masih berputar perkataan Dion.
Kau belum mencintai Bang Azmi.
Terkadang kita memiliki seorang yang kita cintai, tapi kita tidak tau dengan isi hatinya. Begitulah yang di rasakan ustadz Azmi. Memang betul Dea hanya untuknya, namun pengakuan Dea belum ada hingga detik ini.
"Kok malah begong sih?" tegur Dea membuyarkan ustadz Azmi dari lamunannya.
"Ayo sarapan bareng, ini banyak loh." Ajak Dea.
Ustadz Azmi mengangguk. "Iya, Dek."
"Mas bicara apa sama Dion tadi?" tanya Dea di sela-sela makannya.
"Gak usah di pikirin Dek, ingat sama debaynya." Jawab ustadz Azmi.
"Hm ..." Dea hanya berdehem, kemudian kembali pokus pada sarapannya.
▪︎▪︎▪︎
Keesokan harinya, ustadz Azmi menemani Dea di rumah. Kondisi kesehatan Dea memang sudah pulih, namun belum di perbolehkan mengerjakan perkerjaan rumah. Jadi hal itu, yang membuat ustadz Azmi khawatir.
Ustadz Azmi berjalan mendekati Dea, yang sedang duduk bersantai di ruang tamu. Pekerjaan rumah sudah selesai satu jam yang lalu. Tapi ustadz Azmi masih ragu, dan bingung bagaimana caranya menyampaikan ke Dea, tentang apa yang tengah ia rasakan saat ini.
__ADS_1
Sejak menikah, Dea belum pernah menyatakan perasaan yang sesungguhnya terhadap ustadz Azmi. Bahkan menyebut nama mantan saja Dea tidak pernah. Jujur saja, ustadz Azmi sangat bersyukur akan hal itu. Namun, di sisi lain ia juga khawatir jika Dea akan meninggalkannya di suatu saat.
Ustadz Azmi mencintai Dea sebagai seorang istri, seperti halnya sunah Rasulullah. Ia merasa sudah mampu maka dari itu ia melaksanakan sunah Rasullah. Dengan menikahi Dea. Ia pun mencintai Dea karena adanya Allah, yang selalu ada di setiap doanya.
"Ada apa mas?" tanya Dea saat melihat ustadz Azmi menghampirinya.
"Mas mau bertanya satu hal!" Jawab ustadz Azmi lembut, akan tetapi dengan tegas.
"Apa?"
"Apakah Adek mencintai mas?" ustadz Azmi balik bertanya, sembari menatap Dea lekat.
Dea terdiam seribu bahasa, entah berapa menit di ruang tamu tempat ustadz Azmi dan Dea duduk menjadi hening. Tak ada obrolan sedikit pun, Dea masih memikirkan apa yang harus di ucapkan.
"Gimana Dek?"
Dea mengalihkan pandangannya dari cincin yang terpasang di jari manisnya. Sedari tadi ia hanya pokus menatap cincin itu, sembari berpikir.
"A—aku," ucap Dea gugup.
"Gak usah gugup kegitu Dek, santai aja!" Seru ustadz Azmi. "Adek harus jujur dengan perasaan Adek saat ini." Lanjutnya.
Dea mengangguk seraya menggit bibir bawahnya. "Baiklah aku akan jujur sama mas."
"Iya Dek," ustadz Azmi tersenyum kaku. Apapun yang di ucapkan Dea, ia akan menerimanya. Toh, perasaan seseorang tidak boleh di paksakan. Walau sakit hati, ustadz Azmi tetap bersikap tegar. Ia tau ini ujian dari Allah.
"Terkadang kita harus merelakan kebahagiaan orang lain. Demi menggapai kebahagiaan kita." Perkataan itu yang di lontarkan Dea, di ikuti hembusan napas berat.
"Mas tau Adek belum mencintai mas," ustadz Azmi menunduk. Walau Adek belum mencintai mas, tapi nama Adek selalu mas sebut dalam doa Dek.
"Memang benar mas, aku belum mencintai mas."
"Gak apa-apa Dek, semoga seiring dengan berjalannya waktu Adek akan mencintai mas. Tapi ingat cintailah mas karena Allah"
▪︎▪︎▪︎
Mohon maaf yang sebesar-besarnya, belum sempat update. Karna bukan hanya tokoh cerita di novel saja yang mendapat ujian dari Allah swt. 'ana juga di uji ya.
Terima kasih banyak kepada kakak-kakak yang sudah bergabung di gc Fatra. Kak Endang Rahayu, kak Woro Wuryani, Keyla, 'ana mengucapkan banyak terima kasih. Sudah support karya 'ana, walau belum bisa menjadi penulis yang baik buat kalian semua.
__ADS_1
Kemarin author Fatra sudah memberi pengumuman ya. Tapi mungkin hanya ada beberapa orang saja yang tau. Karena yang lain belum bergabung.
Bagi yang ingin bergabung silahkan, judul novel "Cinta terlarang" atau "Istri manja" nama author Fatra. Nah disana 'ana stay. Kalau ada halangan akan ada pengumuman di sana. Begitu juga jika 'ana off, ka Fatra yang akan mengumumkan!