
بسم الله الرحمن الرحيم
▪︎▪︎▪︎
Sesuai dengan apa yang 'ana katakan pada part sebelumnya. Akan ada cobaan yang di hadapi oleh tokoh utamanya. Ingat!
Ini hanya cobaan bukan konflik. Karena konflik 'ana sudah tiadakan lagi, jadi harap bijak dalam memaknai cerita.
▪︎▪︎▪︎
"Paan sih, aku gak kegitu ya." Bantah Dea mencubit perut ustadz Azmi.
"Emang betul kok, Adek akhir-akhir ini udah gak bandel lagi. Melainkan udah manja, tapi mas senang kok."
"Ihh ... kesal deh sama mas." Gerutu Dea bangkit dari duduknya. Ia berjalan menuju kamar sembari menghentakan kakinya.
"Astagfirullah, maaf Dek!" seru ustadz Azmi, mengejar Dea.
Tiba di kamar Dea membersihkan tubuhnya terlebih dulu, setelah berpakaian ia merebahkan tubuhnya di ranjang. Rasanya ia benar-benar capek, padahal sehari ia tidak banyak bergerak. Mungkin saja faktor kehamilan, yang membuat dirinya cepat kecapean.
"Sini Dek, biar mas pijitin." Ustadz Azmi menghampiri Dea.
"Setelah sholat isya aja mas," tolak Dea melihat ustadz Azmi sudah mengenakan baju koko lengkap dengan sarung.
"Walau hanya sebentar Dek, nanti di lanjutin lagi setelah sholat." Ustadz Azmi duduk di tepi ranjang, seraya mengulurkan tangannya ke arah Dea. "Pijit yang mana dulu, betis atau apa Dek?"
"Betis sama kaki dulu aja mas, ntar yang lain nyusul ya?"
"Iya!"
"Udah dulu ya Dek, kita sholat dulu yuk. Ntar mas lanjutin lagi pijitannya."
Dea hanya mengangguk.
Dea dan ustadz Azmi menunaikan sholat isya berjama'ah di rumah saja. Biasanya ustadz Azmi mengajak Dea sholat berjama'ah di mesjid. Tapi kali ini, ia tak bisa. Melihat raut wajah Dea seperti seorang yang sangat lelah. Maka ia memutuskan sholat di rumah saja.
"Kenapa di lepas? Bukannya mas mau ajak aku membaca Al-Qur'an?" tanya Dea, saat melihat ustadz Azmi membuka baju koko yang ia kenakan.
"Adek mau ngaji dulu?" Ustadz Azmi balik bertanya.
"Iya."
"Istri idaman mas bangat deh, biar capek tetap nyempatin waktu buat membaca Al-Qur'an."
__ADS_1
"Baru sadar?" sindir Dea. "Ayo cepat!" serunya lagi.
Ustadz Azmi tersenyum lebar. "Iya Dek."
Setelah membaca kitab suci Al-Qur'an, Dea sudah merasa lebih baik. Pikirannya sudah tentram, bahkan rasa pegal-pegal sudah tak terasa lagi. Ia memutuskan untuk tidur lebih awal, tapi sebelum tidur ia tak lupa meminum susu yang sudah tersaji di atas nakas.
▪︎▪︎▪︎
Tak terasa usia kehamilan Dea kini sudah lima bulan. Selama lima bulan, ustadz Azmi merasa sedikit bingung. Pasalnya selama hamil mudah, Dea tidak pernah mual dan muntah-muntah, pusing dan lain sebagainya. Seperti yang di alami oleh ibu hamil pada umumnya.
Setiap hari ustadz Azmi selalu bertanya, jika Dea ingin makan sesuatu. Namun, Dea selalu menjawab tidak.
"Gak pengen makan sesuatu Dek?"
Dea menggeleng. "Syukur deh, aku gak ngerasa morning sickness yang terjadi di trimester pertama."
Ustadz Azmi hanya senyum-senyum, tanpa tau apa yang di maksud sang istri. Maklumlah ia hanya seorang ustadz di pesantren, yang tentunya berbeda dengan Dea.
"Mas gak ngerti ya?" tebak Dea.
"Iya Dek!" seru ustadz Azmi.
"Maksudnya aku itu hamil tanpa mual dan ngidam. Tapi mas—"
Dea menutup matanya sejenak, dan hal itu membuat ustadz Azmi semakin panik. "Adek deman."
Ustadz Azmi segera menggendong tubuh Dea masuk ke dalam kamar. Ia menelpon Habil, kebetulan Habil bekerja di bagian kesehatan. Ia ingin menghubungi bu Bidan, tapi nomor telpon bu Bidan tak ada.
"Semoga gak apa-apa Dek, demam Adek tinggi bangat." Ustadz mengelus lembut pipi Dea yang berwarna merah jambu. Mungkin pengaruh demamnya tinggi, hingga kulit wajahnya bisa demikian.
"Assalamu'alaikum, Az."
"Wa'alaikumsalam." Ustadz Azmi mengalihkan pandangannya ke arah pintu. "Ayo masuk, demam Adek tinggi bangat kayaknya."
Habil melangkah mendekat ranjang, ia memariksa kondisi kesehatan Dea di temani ustadz Azmi. Setelah selesai Habil memberitahu bahwa Dea baik-baik saja. Hanya demam biasa, demamnya akan turun setelah mengonsumsi obat yang baru saja ia berikan.
"Minum obatnya dulu ya Dek," ustadz Azmi membangunkan Dea dari tidurnya.
"Iya mas!"
▪︎▪︎▪︎
Pagi hari Dea bangun dari tidurnya, badannya semalam demam tinggi kini sudah turun. Ia hendak pergi ke dapur membuat sarapan. Namun, tangan seseorang yang tiba-tiba saja memeluknya membuat Dea syok. Ia sudah hafal betul dengan wangi tubuh suaminya. Jadi walau ia belum berbalik ia sudah bisa menebak, kalau bukan ustadz Azmi yang memeluknya.
__ADS_1
"Di—Dion?" Dea meronta melepaskan cekalan tangan Dion dari pingganya.
"Aku khawatir bangat sama kamu, ayo kita ke dokter." Dion menggenggam tangan Dea erat.
Dea menarik tangannya sedikit kasar, ia melihat ustadz Azmi hanya diam sembari menatapnya penuh tanya.
"Dea, seharusnya kamu ngerti."
"Apa maksudmu? Kenapa malah kau yang datang?" tanya Dea bingung. Sebab semalam ustadz Azmi menghubungi Ulma, dan memberitahu Dea demam tinggi.
"Ulma masih ada urusan, jadi aku yang gantiin dia." Jawab Dion semakin mendekat ke arah Dea.
"Dion stop!" teriak Dea, yang tak terima atas tindakan Dion.
"Aku gak peduli, sekarang aku harus jujur." Dion berbalik menatap ustadz Azmi.
"Jujur soal apa?" ustadz Azmi mendekat dengan raut wajah biasa saja.
"Aku sebenarnya sudah lama mencintai Dea, Bang. Jauh sebelum kau mengenalnya, tapi aku hanya menyembunyikan perasaan aku. Karena Ulma mencintaiku, aku tak mau persahabatan mereka akan hancur hanya karena diriku." Tak terasa air mata Dion meluncur dari pelupuk matanya. Mewakili apa yang sedang ia rasakan saat ini.
"Aku bertekat merubah gaya hidupku Bang, tapi kau sudah lebih dulu menghalalkannya. Memang betul aku pacaran dengan Ulma. Tapi aku tak mencintainya." Lanjutnya.
"Maaf Dion, aku yakin kau mendapat yang lebih baik dariku." Dea menghampiri ustadz Azmi, ia menggandeng mesra lengan ustadz Azmi. Memberi semangat.
"Kau belum mencintai Bang Azmi," elak Dion.
Dea terdiam, ia menghembuskan napas panjang sebelum memutuskan masuk ke dalam kamar kembali. Setelah tarikan napas terdengar begitu berat, Dea melangkah gontai masuk ke dalam kamar. Jujur saja, ia masih bingung dengan perasaannya terhadap ustadz Azmi.
Ya'allah aku harus bagaimana?
"Adea?" panggil seseorang dari balik pintu.
"Masuk, Yul. Pintunya gak di kunci kok!"
Yuli masuk ke dalam kamar, ia mendudukan tubuhnya di sisi ranjang. "Kamu sudah gak demam kan?"
Dea menggeleng, "Dimana mas Azmi?"
"Ada di luar, sedang berbincang-bincang dengan Dion. Kakak menyuruhku menemanimu."
Tatapan Dea berubah sendu. "Aku harus bagaimana sekarang? kakak kamu pasti marah, aku takut dia akan mencari maduku."
Yuli mengelus lembut punggung tangan Dea, ia tau Dea belum terlalu paham soal agama. Sehingga tak berpikir bahwa ini cobaan dari Allah swt. Untuk menguji apakah Dea mampu mempertahankan rumah tangganya.
__ADS_1
▪︎▪︎▪︎