Cinta Seorang Ustadz

Cinta Seorang Ustadz
Suamiku lebih tampan darimu


__ADS_3

بسم الله الرحمن الرحيم


▪︎▪︎▪︎


Dea semakin mengeratkan bantal yang menutup wajahnya. Di saat ustadz Azmi berusaha menyingkirkan bantal tersebut.


"Dek, jangan bandel lagi dong." Ustadz Azmi memutuskan untuk tidak menarik bantal itu.


"Gak mau ahh, aku malas." Ucap Dea ketus.


Ustadz Azmi tersenyum lebar menanggapi sang istri. Mungkin bawaan Dea sedang hamil muda atau sedang kesal, hingga ia kembali bandel dan bersikap ketus.


"Mas gendong ya," ustadz Azmi meminta izin terlebih dulu. Takutnya Dea akan bertambah kesal jika ia akan bertindak semaunya.


"Gak usah." Dea membuka bantal yang menutupi wajahnya, seraya turun dari ranjang.


Ustadz Azmi mengikuti langkah kaki Dea dari belakang menuju tempat biasa mereka mengambil air wudhu.


Setelah berwuduh Dea kembali ke dalam kamar. Ia berebahkan tubuhnya di ikuti ustadz Azmi.


"Mas?" panggil Dea memeluk leher ustadz Azmi dari belakang. Karena ustadz Azmi sedang membelakanginya. "Hadap sini, ihh!" Dea mencubit kecil leher suaminya.


"Jangan mencekik lagi ya." Ustadz Azmi berbalik menghadap Dea.


Dea mengangguk, lalu ia kembali memeluk leher sang suami seraya membenamkan wajahnya di dada ustadz Azmi.


"Dek ini sudah malam," tutur ustadz Azmi yang merasakan tangan Dea mulai masuk ke dalam kaos putih polos yang ia kenakan. "tidurlah!" serunya.


"Mas kalau waktu itu aku gak mau hamil, pasti mas akan mencari maduku juga kan?" tanya Dea sembari cemberut.

__ADS_1


Ustadz Azmi yang sudah merasakan kantuk, tiba-tiba saja rasa kantuknya hilang saat mendengar ucapan Dea.


"Gak mungkin Dek, bagi mas cukup hanya satu saja tidak perlu lebih." Ustadz Azmi menatap Dea dengan tatapan serius.


Dea tersenyum puas, setidaknya ia bahagia mendengar ucapan sang suami. Apalagi melihat keseriusan, dan pengorbanan suaminya dalam menghadapi perilakunya selama ini.


▪︎▪︎▪︎


Pagi hari seperti biasa, ustadz Azmi pergi mengajar di pesantren begitu pun dengan Yuli. Sebelum pergi ia sempat mengajak Dea, tapi Dea menolak ajakan sang suami.


Dea duduk bersantai di teras rumah, pekerjaan rumah sudah selesai sejak tadi. Karena sebelum berangkat ustadz Azmi membersihkan rumah terlebih dulu. Bahkan ia sudah memasak makan untuk Dea, ia tak ingin Dea capek.


Dea memainkan ponsel di tangannya, rasa bosan sudah mulai menghampirinya. Biasanya Yuli selalu menemaninya jika ustadz Azmi sedang mengajar.


Ia memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Namun, langkahnya terhenti saat melihat sebuah mobil berhenti tepat di halam rumah.


Dea menghentakan kakinya kesal, ia hanya bisa mendengar pembicaraan Andre dengan Abah dan Umma. Tak bisa mencampuri pembicaraan mereka, ia juga tak ingin bayinya kenapa-kenapa. Hanya karena emosinya.


"Bapak, ibu, saya benar-benar serius sama Yuli. Maka dari itu saya tidak mengajak Ranty, berharap agar bapak dan ibu mengerti." Tutur Andre penuh harap.


"Nak, kami sudah memasrahkan semua pada Yuli. Kami hanya mengikuti saja apa yang menjadi keinginan Yuli." Abah Rahman menghela napas panjang.


"Jika Yuli menerimamu, kami juga setuju. Tapi jika tidak kami tidak boleh memaksanya, Nak." Timpal Umma Silla.


"Setidaknya bapak dan ibu harus bertindak. Bapak dan ibu harus meminta Yuli, agar menerimanya." Andre menatap Abah dan Umma dengan permohonan.


"Baiklah kami akan mencobanya!" seru Abah Rahman.


Dea mengepalkan tangannya erat, ia beranjak dari duduknya ke luar ruang tamu. Ia tak ingin mendengar kelanjutan cerita mereka. Apalagi mendengar Andre yang selalu basa basi, itu membuatnya semakin jengkel.

__ADS_1


Dea berdiri di balik tembok, menunggu Andre keluar dari dalam rumah. Tak beberapa lama kemudian, Andre keluar dengan senyum yang berbinar di wajahnya.


"Hm," Dea berdehem menatap wajah Andre sekilas dengan tatapan yang begitu sinis.


"Adea ya?" tanyanya memastikan, Dea hanya mengangguk cuek.


"Apa ustadz Azmi sedang mengajar?" tanya Andre kembali.


"Jangan banyak basa basi," sarkas Dea kesal. "Dan jangan syok tampan, sehingga kau bisa menjadikan Yuli madu istrimu. Sekali lagi aku tekankan, Yuli perempuan solehah. Tidak mungkin bisa bersanding dengan pria yang hanya tergila-gila dengan dunia sepertimu."


"Hanya kau sudah punya suami, sehingga tidak dapat melihat ketampananku." tutur Andre, ia tak memasukakan ke dalam hati ucapan Dea.


Dea berdecih. "Suamiku lebih tampan darimu."


"Pak Andre?" panggil ustadz Azmi tiba-tiba yang sudah ada di belakang Dea. Melihat suaminya berdiri di belakangnya, Dea segera mendekat.


"Ustadz Azmi," sapa Andre.


Ustadz Azmi tersenyum menanggapi ucapan Andre. Lalu ia kembali menatap Dea yang memeluk lengannya.


"Mas kan sudah bilang Dek, jangan terbawa emosi saat mendengar ucapan pak Andre." Ustadz Azmi menatap Dea khawatir.


"Abisnya dia bikin aku kesal, sudah punya istri masih saja ingin menikahi Yuli." Ucap Dea kesal dengan wajah memerah.


"Pak Andre, jika anda ingin mengatakan sesuatu kepada Abah dan Umma tolong lewat telpon saja. Karena saya tak ingin istri saya terbawa emosi lagi." Bisik ustadz Azmi pelan.


"Istrimu galak juga ya." Seru Andre menatap Dea mengeri.


Ustadz Azmi tersenyum, lalu ia berpamitan terlebih dulu kepada Andre kembali ke pesantren. Tujuannya pulang ke rumah, yaitu mengajak Dea ikut bersama ke pesatren. Walau ada Umma Sila yang menjaga Dea, tetap saja ia khawatir.

__ADS_1


__ADS_2