Cinta Seorang Ustadz

Cinta Seorang Ustadz
Ustadz Azmi Tetap Tersenyum Walau Dibohongi


__ADS_3

بسم الله الرحمن الرحيم


▪︎▪︎▪︎


Dea dan ustadz Azmi berpamitan, rumah yang akan mereka tempati tidak jauh dari rumah paman dan bibinya Dea.


Dea duduk di sofa, sambil membuka membalas chat dari Ulma. Ulma sudah mengetahui perihal pernikahan Dea, walau ia hanya melihat foto pernikahan.


Ulmayirah


Cie yang udah nikah, suaminya cakep. Tubuhnya elastis, idaman kamu bangat. Gimana malam pertama?


Adea


Emang cakeplah, kalau gak ogah aku. Sakit bangat sumpah.


Ulmayirah


Terus kamu sampe nangis?


Adea


Gaklah, aku yang ngajak ia duluan. Masa aku nangis? kan malu.


Ulmayirah


Tapi ada nikmatnya juga kan?

__ADS_1


Baru saja Dea mengetik sesuatu di ponselnya, tiba-tiba ustadz Azmi memanggilnya.


"Adek ..."


Dea menaruh ponselnya ke atas meja, lalu ia menghentakan kaki nya menuju dapur.


"Ada apa?" tanya Dea kesal.


"Adek bisa masak kan?" Dea mengangguk.


"Kalau gitu Adek masak ya, buat makan siang nanti." Tutur ustadz Azmi.


"Gak mau, kamu pikir aku pembantu? Aku menikah sama kamu itu karena aku ingin tau bagaimana rasanya bercinta." Dea langsung bungkam.


"Duhh, kenapa pakai keceplosan segala."


"Ya'allah, Dek apa maksud kamu? Kamu mencintai mas karena nafsu?" tanya ustadz Azmi, sambil mengelus dadanya.


"Bukan seperti itu mas, aku bisa jelasin." Dea mendekati ustadz Azmi, lalu mengentuh tangan ustadz Azmi.


"Adek tidak bisa berbohong, mas tau memang hanya itu kan tujuan Adek?"


Dea menggeleng cepat, "Mas bukan seperti itu maksud aku."


"Mas akan berusaha untuk membuat Adek jatuh cinta pada mas. Bukan karena nafsu," ustadz Azmi memalingkan pandangannya.


Ia tak berani menatap wajah sang istri. Ini yang pertama kali ia jatuh cinta, dan sekarang yang ia cintai adalah istrinya. Tapi istrinya tak mencintainya hanya ingin menikmati tubuhnya saja.

__ADS_1


Ia harus sabar, mungkin ini ujian dalam rumah tangga yang baru saja ia bangun.


"Tapi mas mohon sama Adek. Walau Adek belum mencintai mas, Adek harus menuruti permintaan mas."


"Basa-basi banget sih, aku udah bosan. Mending pura-pura aja deh."


"Aduh mas, perut aku sakit. Lapar," Rengek Dea dengan nada manja. Sambil menahan perutnya.


"Adek duduk dulu, ntar mas masakin nasi goreng." Ustadz Azmi menuntun Dea duduk di kursi.


Ustadz Azmi mengambil bahan makanan yang ada di kulkas. Tiba-tiba Dea menghampirinya.


"Nanti aku yang masak, mas duduk aja." Pinta Dea.


"Adek yang duduk aja, ntar perutnya tambah sakit." Ustadz Azmi langsung mencegah, ketika Dea hendak mengambil pisau dari tangannya.


Dea merasa bersalah, ia telah berbohong pada suaminya. Apalagi melihat raut wajah ke khawatir ustadz Azmi.


"Mas maafin aku ya. Sebenarnya perut aku gak sakit, aku hanya pura-pura. Karena mas selalu membahas itu," ucap Dea merasa bersalah.


Ustadz Azmi hanya tersenyum, ia tak marah walau sudah di bohongi. Karena akhirnya Dea tetap jujur padanya. Ia menghampiri Dea, lalu memeluk Dea dari belakan.


"Mas gak marah sama aku?" tanya Dea heran, sudah di bohongi masih bersikap biasa saja.


Ustadz Azmi menggeleng, "Mas gak akan marah Dek, karena Adek sudah jujur. Mengakui kalau hanya pura-pura sakit perut."


"Kok ia tetap tersenyum walau udah aku bohongi?"

__ADS_1


Dea memfokuskan diri mengiris sayuran. Ia membiarkan ustadz Azmi memeluknya dari belakang.


__ADS_2