
بسم الله الرحمن الرحيم
▪︎▪︎▪︎
Usai sarapan Dea membersihkan meja makan. Lalu ia menghampiri ustadz Azmi yang sedang memasukan laptop ke dalam tas.
“Mas berangkat dulu ya, Adek mau ikut sama mas?” tanya ustadz Azmi.
Dea menggeleng, “Gak mau aku di rumah aja.”
“Kalau gitu mas pamit ya,” ustadz Azmi mengulurkan tangannya.
Dea mencium punggung tangan ustadz Azmi. Lalu ustadz Azmi mencium kening Dea sekilas.
“Mas pergi dulu ya, Assalam'alaikum.”
“Iya, Walaikum salam.”
Sepeninggal suaminya, Dea membersihkan rumah. Seperti mencuci pakaian, menyapu, menyetrika dan lain sebagainya. Dea melakukan semua pekerjaan rumah, ia terlihat seperti seorang istri pada umumnya.
Walau sering bersikap kasar Dea juga pandai mengenai hal seperti itu. Karena ia sudah terbiasa, ia tinggal di rumahnya dulu hanya seorang diri. Sesekali Ulma mengunjunginya.
Menurut Dea hanya paman dan bibinya yang peduli padanya. Selama 19 tahun hanya paman dan bibinya yang selalu berkunjung, dan mengkhawatirkan dirinya. Sedangkan keluarga yang lain tidak pernah peduli padanya.
"Syukur deh rumah ini gak gede," gumam Dea, sembari mengambil bahan makanan dari dalam kulkas.
Dea memasak makan untuk makan siangnya, walau ia tak tau jika ustadz Azmi akan pulang atau tidak.
__ADS_1
▪︎▪︎▪︎
Tiba waktu solat zuhur, Yuli mengajak Dea solat berjamaah di mesjid. Karena jika tak di ajak Dea tak mungkin menunaikan ibadah seorang diri.
“Yuli, temani aku di rumah dong.” Ucap Dea setelah sampai di halaman rumah.
“Ayo,” balas Yuli.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah.
“Duduk dulu ya, aku mengantar mukena ke atas.” Yuli mengangguk.
Tak beberapa lama kemudian, Dea menghampiri Yuli sembari membawa minuman dan juga cemilan.
“Minum dulu,” Dea menyerahkan segelas minuman ke arah Yuli.
“Makasih.” Yuli meraih gelas minuman itu.
“Dea aku pamit dulu ya, soanya mau bantuin umma bikin kue.”
“Kue untuk apa?”
“Besok ada kunjungan di pesantren, jadi umma membuat kue.”
“Yaudah pergi aja.”
“Assalamu'alaikum.” Yuli beranjak dari duduknya menuju pintu.
__ADS_1
“Walaikum'salam,” balas Dea kesal.
Ia mengajak Yuli ke rumah, karena ia bosan tak ada teman. Tapi belum juga beberapa menit Yuli sudah mau pulang.
Pukul 02:30 ustadz Azmi pulang, ia melihat Dea yang sedang tertidur pulas di sofa. Dan tv yang masih menyala.
Ustadz Azmi menghampiri Dea, ia mengibarkan rambut yang menutupi wajah sang istri dan mencium kening istrinya.
“Mas udah pulang ?” tanya Dea seraya membuka mata.
“Iya, kenapa gak tidur di kamar Dek?” tanya ustadz Azmi.
“Aku hanya nonton, terus malah ketiduran.” Jawab Dea.
“Oh... mas ke kamar dulu kalau gitu.” ustadz Azmi melangkahkan kakinya menuju kamar.
Dea mematikan tv, lalu ia menyusul ustadz Azmi ke dalam kamar.
“Mas?” panggilnya.
“Ada apa Dek?” tanya ustadz Azmi, keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya.
“Aku pingin makan bakso,” jawab Dea, ia mengambil alih handuk kecil yang ada di tangan ustadz Azmi.
“Biar aku keringin rambut mas, tapi harus temani aku makan bakso ya.” Lanjut Dea.
“Iya nanti mas temani,” balas ustadz Azmi seraya tersenyum. Ia menatap lekat wajah istrinya yang sedang mengeringkan rambutnya.
__ADS_1
“Adek membersihkan rumah?” tanya ustadz Azmi. Ia melihat di sekitar, terutama banyak bajunya yang sudah tertata rapi.
“Iya,” jawab Dea singkat.