Cinta Seorang Ustadz

Cinta Seorang Ustadz
Khawatir


__ADS_3

بسم الله الرحمن الرحيم


▪︎▪︎▪︎


Ustadz Azmi menghampiri Umma Sila dan Abah Rahman yang sedang duduk di ruang tamu. Kebetulan Dea masih tidur, jadi ia ingin mengutaran rencana bulan madunya kepada kedua orangtuanya.


"Ada apa Nak?" tanya Abah Rahman.


"A—anu Bah, itu Azmi mau." Jawab ustadz Azmi gugup, sudah barang tentu ia merasa malu. Ia bukan tipe laki-laki yang asyik mengejar dunianya.


"Ngomong yang jelas Nak, apa kamu bertengkar dengan Adea lagi?" tanya Umma Sila khawatir.


Ustadz Azmi menggeleng. "Tidak Umma," jawab ustadz Azmi seraya mendudukan tubuhnya di sofa. "Adek ingin berbulan madu," lanjutnya kemudian.


Umma Sila dan Abah Rahman mengangguk mengerti. Ustadz Azmi yang melihat kedua orangtuanya hanya mengangguk merasa heran.


"Begini saja Nak, kalian pergi berbulan madu setelah pernikahan Yuli. Sekalian ajak Yuli dan Andre, anggap saja kalian sedang berliburan." Tutur Abah Rahman.


"Iya Nak, tapi kamu harus menjaga Adea baik-baik dia sedang hamil." Timpal Umma Sila.


"Baik Umma, tema kasih banyak, Abah!" seru ustadz Azmi.


"Kamu jangan beritahu Yuli ya, soal pernikahannya."


"Iya Abah, kalau gitu Azmi pamit ke rumah sebelah dulu." Ustadz Azmi beranjak dari duduknya keluar dari ruang tamu.


"Mau kemana Dek?" teriak ustadz Azmi yang baru saja keluar dari rumah Ummanya, langsung di kejutkan dengan Dea sudah memakai pakaian rapi berjalan keluar rumah.


"Mau nyusulin Yuli, sekalian ajak dia makan bakso."


Ustadz Azmi melangkah cepat mendekati Dea. "Biar mas temani ya Dek, apa Adek gak ngidam sesuatu?"


Dea menggeleng. "Aku hanya ingin bakso aja."


"Ayo biar mas temani," ajak ustadz Azmi.


Dea kembali melangkahkan kakinya di ikuti ustadz Azmi dari belakang. Tiba di warung tempat penjualan bakso, ternyata di sana sudah ada Yuli. Senyum Dea mengembang sempurnah, ia sudah tak perlu repot-repot menyusul Yuli.


"Assalamu'alaikum," ucap Dea dan ustadz Azmi.


"Wa'alaikumsalam," balas Yuli dan juga Habil yang kebetulan ada di warung tersebut.

__ADS_1


"Adea, duduk sini." Yuli menepuk bangku kosong yang ada di dekatnya.


Dea segera menghampiri Yuli, sedangkan ustadz Azmi memesan bakso untuknya dan juga untuk Dea.


"Kak Habil gak dinas hari ini?" tanya Dea sembari memasuk bakso ke dalam mulutnya.


"Belum, soanya kemaren dinasnya di kota." Jawab Habil.


"Oh iya, kak Habil bilang kemaren dia sempat melihat Ulma bertengkar sama pacarnya." Timpal Ulma.


Dea membulatkan matanya kaget, ia menaruh sendok yang hendak di masukkan ke dalam mulut. "Maksudnya Dion?" Dea berbalik menatap Habil yang ada di depannya.


Habil mengangkat kedua bahunya tak tau. "Kakak juga gak tau, Dion itu siapa."


"Lalu apakah Dion menyakiti Ulma, kak?" raut wajah Dea yang awalnya ceria kini di ganti dengan khawatir. Serta tatapan matanya berubah sendu, mengingat sahabatnya sedang bertengkar dengan Dion.


"Tenang dulu Dek, habiskan dulu makanannya. Setelah itu, Adek hubungi Ulma." Bujuk ustadz Azmi.


Dea mengangguk, dengan cepat ia melahap baksonya. Walau Dion sudah akrab dengannya, tetap saja ia khawatir jika Dion bertengkar dengan Ulma. Dion hanya laki-laki yang pekerjaannya di dunia malam, yaitu pemilik club malam dan juga pedagang para wanita malam. Yang tentunya kesabarannya menghadapi sikap Ulma jauh lebih kecil di bandingkan ustadz Azmi.


Terlebih lagi, Dion pernah di penjara akibat memperdagangkan wanita. Namun, setelah keluar dari penjara Dion belum juga bertobat. Ia masih memperdagangkan wanita secara diam-diam.


▪︎▪︎▪︎


Ting.


Ting.


Dengan terpaksa Yuli meraih ponsel dari sakunya. "Siapa sih?" gumannya.


Assalamu'alakum, calon istri solehah.


Kok gak di balas sih? ustadzah lagi sibuk ya?


Yuli di buatnya semakin heran setelah membaca pesan tersebut. Tapi ia berpikir hanya orang salah nomor saja, jadi ia tak pusing-pusing membalas pesan itu.


"Kenapa Yuli?" tanya Habil yang baru saja mensejajarkan langkah kakinya dengan Yuli.


"Nih orang salah nomor kali. Dia ngirimin pesan ke Yuli," jawab Yuli.


"Oh ...Yuli apa kak Habil bisa bertanya?" Habil melirik Yuli sejenak, kemudian kembali pokus ke depan.

__ADS_1


"Boleh bangat kok!" seru Yuli.


"Apa sahabat Dea sudah lama berpacaran dengan laki-laki itu?" Habil tersenyum getir, sebenarnya ia ragu menanyakan hal ini. Namun, ia juga merasa khawatir ketika mengingat pertengkaran hebat yang di saksikan oleh mata kepalanya sendiri. Sama halnya dengan Dea, ia juga bingung kenapa harus kepikiran perempuan itu.


"Yuli gak tau jelas kak, setahu Yuli dia berpacaran dengan Dion setelah pulang dari sini. Ulma juga pernah bertanya kalau Yuli masih punya saudara lagi yang laki-laki."


"Ternyata dia pernah datang ke sini juga?" Habil kaget, sebab ia belum pernah melihat Ulma berada di desanya.


"Iya, tapi waktu itu kak Habil sedang dinas di luar kota." Yuli menghentikan langkahnya tiba di depan rumah. "Duluan ya kak, Assalamu'alakum"


"Wa'alaikumsalam."


▪︎▪︎▪︎


Yuli menghampiri Dea yang sedang duduk di teras rumah, sembari menunggu ustadz Azmi mengambil ponsel di dalam rumah. Ia mengelus lembut punggung tangan Dea. "Sabar, insa'allah Ulma akan baik-baik saja."


Dea hanya mengangguk lemah, tak lama kemudian ustadz Azmi keluar dengan ponsel Dea di tangannya.


Dea mengambil ponselnya dari genggaman ustadz Azmi. Kebetulan pada saat yang bersamaan ponselnya berdering, dan yang menelponnya yaitu, Ulma. Ia menekan ikon berwarna hijau untuk mengangkat telpon dari Ulma. Namun, belum sempat ia mengatakan "halo" panggilan telpon terputus. Ia kembali menelpon Ulma, tapi nomor Ulma sudah tidak aktif lagi.


"Mas?" panggil Dea dengan mata yang berkaca-kaca.


Ustadz Azmi segera menghampiri Dea, ia memeluk tubuh istrinya erat. Ia sudah tak peduli dengan keberadaan Yuli di antara mereka. Toh, sebentar lagi Yuli akan menikah.


"Gimana kita pergi ke rumahnya aja mas?" Dea mengangkat wajahnya menatap sang suami.


"Gak bisa Dek, jaraknya cukup jauh. Apalagi hanya naik motor," cegah ustadz Azmi.


"Tapi aku khawatir bangat sama Ulma." Air mata Dea sudah meluncur dari pelupuk matanya, yang kini membasahi pipinya.


"Begini saja Adea, tunggu sampai beberapa menit lagi. Kalau nomornya tetap tidak bisa di hubungi baru itu kita pergi ke kota. Aku akan mengajak kak Habil ikut bersama." Usul Yuli.


"Bagaimana? Adek mau kan menunggu beberapa menit lagi?" ustadz Azmi menatap Dea penuh harap.


"Iya mas!" seru Dea seraya menyandarkan kepalanya di dada ustadz Azmi.


Ustadz Azmi bernapas lega, ia sedikit ragu pergi terburu-buru ke kota. Tapi bukan berarti ia tak memenuhi keinginan Dea, hanya saja keselamatan Dea juga penting.


▪︎▪︎▪︎


Like, vote, dan rate bintang 5 ya!!!

__ADS_1


__ADS_2