
بسم الله الرحمن الرحيم
▪︎▪︎▪︎
Waktu begitu cepat berlalu, kini pernikahan Yuli dan Andre akan di adakan. Andre sudah berulang kali datang ke rumah kedua orangtua Yuli. Dan semua itu tanpa sepengetahuan Yuli.
Umma baru saja memberitahunya, ketika penganting pria sudah dalam perjalanan menuju rumah. Awalnya Yuli syok, bahkan ia sempat menolaknya. Namun, berkat Dea yang selalu berceloteh akhirnya Yuli luluh.
Ijab qabul di adakan di rumah. Karena itu adalah permintaan dari mempelai pria, semua sudah siap. Hanya tinggal menunggu penganting pria saja, tak beberapa lama kemudian penganting pria tiba.
Dea yang melihat Ulma yang berjalan mendampingi Andre, langsung menghampiri dan memeluk tubuh sahabatnya.
"Udah kangen-kangenan aja nih?" sindir seorang pria yang baru saja menghampiri Dea dan Ulma.
"Dion?" panggil Dea tak percaya, sebab Dion tak pernah mau jika di ajak jalan bareng. Alasannya masih banyak pekerjaan.
"Iya, ini aku!" seru Dion menepuk punggung Dea.
"Tumben mau di ajak, biasanya sibuk terus."
"Yah, karena ini pernikahan Bang Andre. Jadi dia gak ada alasan lagi," ucap Ulma seraya menarik tangan Dea masuk ke dalam rumah.
▪︎▪︎▪︎
Kata sah, terdengar begitu merduh. Satu persatu orang-orang mengucapkan selamat pada kedua mempelai. Dan kini yang terakhir adalah Dea, "Selamat berbahagia Bang Andre, dan Neng Yuli. Pokoknya doa terbaik untuk kalian berdua."
__ADS_1
"Makasih!"
Dea mengangguk, lalu ia kembali menghampiri ustadz Azmi. "Mas?"
"Kenapa Dek?" tanya ustadz Azmi memalingkan pandangannya dari Dion. Ya, ustadz Azmi memang sedang bercerita dengan Dion. Karena Dion mudah akrab dengan orang lain, itu sebabnya ia cepat mengenal ustadz Azmi.
"Aku mau—" jawab Dea terhenti ketika Ulma menghampiri mereka.
"Dea sayang, aku pulang dulu ya." Ucap Ulma merangkul Dea.
"Kok udah mau pulang sih," Dea mendengus.
"Iya, besok aku harus masuk kampus. Jangan nangis dong, di liatin suami itu." Ulma melirik ustadz Azmi yang berdiri di samping Dea.
"Mantap," Ulma mengajukan jempolnya. "Pamit dulu ya."
"Aku juga pamit ya," timpal Dion.
"Iya, ingat jangan macam-macam kamu." Dea menatap Dion dengan penuh ancaman.
"Gak bakal," Dion menghampiri Dea. "Sehat selalu my life." Lanjutnya sembari mengecup kening Dea sekilas. Lalu ia beranjak pergi.
Dea syok dengan tindakan Dion. Apalagi ustadz Azmi yang berdiri di sampingnya menatap tanpa ekspresi sedikit pun.
▪︎▪︎▪︎
__ADS_1
Dea merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu, ia baru saja kembali dari rumah Umma Sila. Sejak rombongan Ulma dan Dion pulang, Dea memilih bergabung bersama Andre, Yuli, dan juga Habil.
"Mas boleh minta tolong gak?"
"Tolong apa Dek?" ustadz Azmi menghampiri Dea, dan ikut duduk di samping sang istri.
"Pijitin dong mas, badan aku pegal semua nih." Dea memelas sembari melepaskan jilbabnya.
Ustadz Azmi hanya diam, ia menatap wajah Dea saksama. Melihat tatapan sang suami, Dea merasa bersalah. Tadi ia tak menghindar saat Dion akan mencium keningnya.
"Maaf mas, aku gak sempat ngehindar tadi."
"Mas maafin Dek, tapi jangan ulangi lagi hal yang kegitu. Dion itu bukan mahram Adek, apalagi dia mencium Adek di depan orang banyak." Ustadz Azmi menarik tubuh Dea ke pelukannya. Ia melihat mata Dea sudah berkaca-kaca mendengar penuturannya.
"Jangan nangis Dek, tumben akhir-akhir ini Adek cengeng bangat." Ustadz Azmi mencubit gemas kedua pipi sang istri. Memang benar sikap keras kepala Dea dulu, sekarang sudah terganti Dea sikap manja. Yang membuat hari-hari ustadz Azmi menjadi begitu berwarna dari yang sebelumya.
▪︎▪︎▪︎
Kita pokus saja pada cerita ustadz Azmi dan Dea ya. Yuli dan Andre hanya tokoh pendukung saja.
Jadi novel ini tidak ada konflik. Memang ada, tapi itu sudah di part sebelumnya.
Konflik antar tokoh 'ana tiadakan, yang ada hanya cobaan dari Allah swt. Untuk menguji sampai di mana kesabaran seseorang hamba dalam menghadapi masalah rumah tangganya.
Untuk visual, insya'allah akan menyusul. Kebetulan visual ustadz Azmi dan Habil sudah ada. Terus dukung novel ini, agar 'ana tetap semangat.
__ADS_1