Cinta Seorang Ustadz

Cinta Seorang Ustadz
Keputusan Andre


__ADS_3

بسم الله الرحمن الرحيم


▪︎▪︎▪︎


Ustadz Azmi membawa segelas putih, lalu ia menyerahkan susu tersebut pada Dea. Dea meraih segelas susu, tapi ia belum meminumnya.


"Minum susunya dulu Dek," pinta ustadz Azmi yang melihat Dea hanya diam sembari menatap gelas susu yang ada di tangannya.


Dea mengangguk, ia meminum susu hingga tandas. Kemudian, ia menaruh gelas kosong ke atas nakas.


"Mas punya uang gak?"


Ustadz Azmi menatap istrinya heran. Sebab, sejak ia menikah semua masalah keuangan sudah di serahkan pada sang istri. "Kan mas udah ngasih semua sama Adek, uangnya hanya ada di ATM yang Adek pegang."


"Iya aku tau, aku malas narik uang. Jadi aku ingin minta uang sama mas."


"Ada sih Dek, tapi hanya tingga 50 ribu, Adek mau membeli apa?" ustadz Azmi menarik selimut untuk menutupi tubuh Dea.


"Aku ingin membeli susu cokelat mas, bosan minum susu putih mulu."


"Kalau gitu biar mas temani Adek besok ya, kita menarik uang dulu. Abis itu membeli susu." Ustadz Azmi mengecup sekilas kening Dea, dan ikut merebahkan tubuhnya di samping Dea.


Keesokan harinya ustadz Azmi menemani Dea pergi ke bang BRI terdekat untuk menarik uang. Lalu ia mengajak Dea ke toko, membeli susu yang di inginkan Dea. Dea juga membeli beberapa cemilan kesukaannya.


"Mas mau beli apa?" tanya Dea menggandeng tangan ustadz Azmi.


"Gak ada Dek," jawab ustadz Azmi seraya menggeleng.


"Ya udah kalau gitu, ayo pulang."


Ustadz Azmi mengangguk, kebetulan ia harus pergi ke pasantren. Tapi ia menemani Dea terlebih dulu.


▪︎▪︎▪︎


Sementara itu.


Andre berdiri di parkiran, sidang perceraian selesai 15 menit yang lalu. Ia menunggu Ulma menjemputnya, karena tadi sebelum berangkat ke pengadilan Ulma bersikeras mengantarnya. Dan tak membiarkan ia membawa mobil sendiri.

__ADS_1


"Kok belum pulang Yah?" tanya seseorang yang tiba-tiba sudah ada di hadapan Andre.


"Masih nungguin Ulma," jawab Andre singkat.


"Aku mohon yah, beri aku satu kesempatan lagi. Kenapa ayah menceraikan aku? bukannya ayah sudah berjanji?" Ranty mengatupkan tangan di depan dada, sembari memohon. Ya, seorang yang datang menghampiri Andre yaitu Ranty. Sejak beberapa menit yang lalu ia memperhatikan Andre.


"Sudah tak ada kesempatan untukmu lagi, aku rasa ini jalan yang terbaik. Dan sekarang kau sudah bebas, masalah janjiku itu hanya pada orangtuamu. Namun, semua sirna karena kau menghianatiku."


"Yah, itu hanya masa laluku. Semua orang pasti punya masa lalu," bantah Ranty dengan suara bergetar di ikuti air mata yang mulai meluncur membasahi pipinya.


Andre tersenyum tipis, entah mengapa setiap berhadapan dengan Ranty hatinya sangat sakit. Tapi ia selalu menutupi rasa sakit itu, dengan tersenyum tipis.


"Ini bukan masa lalu, tapi masa kini. Karena kau menghianatiku baru beberapa bulan yang lalu." Suara Andre terdengar meninggi dari sebelumnya.


Ranty terdiam beberapa saat, kemudian ia kembali menatap Andre yang masih setia berdiri di depannya. "Bukannya Allah membenci perceraian? tapi kenapa Ayah memutuskan menceraikan aku?"


"Allah tak akan membenci jika semua yang kita lakukan untuk kebaikan."


"Itu sama saja yah," air mata Ranty semakin deras membasahi pipinya. Andre yang melihat tangisan Ranty tak kuasa mengambil keputusan untuk menceraikan Ranty. Tapi semua sudah terlanjur, talak sudah jatuh di antara keduanya.


"Berhentilah menangis, aku akan tetap menafkahimu walau kau sudah bukan istriku lagi." Andre mengusap air mata Ranty dengan ibu jarinya.


"Iya aku janji kok," Andre mengangguk seraya tersenyum tulus ke arah Ranty.


Tak jauh dari tempat mereka berdua, ada sepasang mata yang sedang mengawasi sejak tadi. Yaitu Ulma, ia mengepalkan tangan erat, sengaja ia belum menghampiri keduanya. Ia ingin tau bagaimana cara Ranty meluluhkan Andre, walau sudah di hianati.


"Ehm." Ulma berdehem, pada saat itu juga Andre menjaukan tubuhnya dari Ranty.


"Udah datang Ulama?" Andre gelagapan, takutnya Ulma memarahinya di tempat umum.


Bukannya menjawab Ulma malah menarik tangan Andre menuju mobil yang terparkir agak jauh. Tiba di mobil Ulma mendorong keras tubuh Andre ke dalam mobil.


"Jangan coba-coba keluar dari mobil ya Bang. Atau tidak Abang akan lebih sulit lagi mendapatkan Yuli." Ancam Ulma.


Mendengar ancaman adik sepupunya, Andre sudah tak begeming. Seakan takut jika Ulma akan melakukan niatnya.


Takut rupanya, baiklah aku akan membuat perhitungan dengan perempuan tidak tau malu itu.

__ADS_1


Ulma kembali melangkah mendekati Ranty, ia mempercapat langkah kakinya ketika melihat Ranty hendak masuk ke dalam mobil.


"Ulma kamu kenapa?" Ranty berbalik menghadap Ulma dengan senyum manis terukir di wajahnya.


"Aku ingin membuat perhitungan denganmu."


"Perhitungan apa? jangan macam-macam, aku sudah resmi bercerai dengan Abangmu." Tutur Ranty, jujur saja setiap berhadapan dengan Ulma ia selalu takut. Yang membuatnya takut bukan karena Ulma akan mengadu pada Andre. Tapi akan berbuat nekat, ia pun sadar Ulma bukan berdiri sendiri. Di belakangnya masih ada Dion, yang selalu membelanya setiap ada masalah.


"Rupanya kau masih belum sadar, kau memanfaatkan kelemahan Bang Andre selama ini."


"A—aku tidak memanfaatkan apapun darinya." Bantah Ranty gugup.


"Aku tekankan padamu, jangan pernah dekati Bang Andre lagi. Sekarang kau sudah bukan istrinya lagi, jadi cari saja selingkuhanmu itu." Ucap Ulma berapi-api, lalu melangkah pergi meninggalkan Ranty yang masih melongo.


▪︎▪︎▪︎


Tiba di rumah, Ulama langsung menginterogasi Andre dengan berbagai macam pertanyaan. Dengan sabar Andre menjawab semua pertanyaan yang di ajukan Ulma.


Dari semua pertanyaan hanya satu yang membuat Andre ragu menjawab. Yaitu, kenapa Bang Andre masih ingin menafkahi Ranty.


"Jawab Bang," desak Ulma. "Aku yakin Yuli tak bisa menerima semua ini, jika mengetahui Abang masih menafkahi Ranty." Lanjut Ulma meluapkan emosinya.


Mendengar nama Yuli yang di sebut Ulma, Andre terdiam sejenak. Sebenarnya ia tak ingin menafkahi Ranty, tapi melihat tangisan Ranty ia menjadi tak rela. Maka dari itu, ia berjanji akan menafkahi Ranty walau sudah bukan istrinya lagi.


"Abang hanya memberi nafka berupa uang tiap bulan. Bukan berarti masih menafkahinya lahir batin," ucap Andre dengan helaan napas terdengar begitu berat.


"Gak bisa, pokonya mulai dari sekarang Abang pokus pada Yuli. Lupakan Ranty, dia hanya memanfaatkan kelemahan Abang."


"Maksudnya?" tanya Andre diiringi kerutan kening yang terlihat jelas.


"Maksud aku Bang Andre terlalu lemah, masa lihat perempuan nangis aja udah luluh sih. Jadi cowok harus kuat," Ulma berdiri sembari berkacak pinggang.


Andre mencerna ucapan Ulma, ternyata benar. Selama ini tangisan Ranty sudah menjadi titik kelemahannya. Mulai detik ini aku tak akan termakan lagi dengan tangisan Ranty. Kecuali Yuli, ahh pokonya aku gak bisa membuatnya menangis. Batin Andre.


"Mau kemana sih Bang?" teriak Ulma kesal, ia belum selesai bercerita Andre sudah melangkah pergi.


"Mau ke rumah pak ustadz," Andre hentikan langkahnya.

__ADS_1


"Hah? Mau ngapain?" Ulma membulatkan kedua matanya kaget.


"Abang ingin menjadi imam terbaik untuk Yuli nantinya, maka dari itu Abang belajar mengaji sekaligus doa-doa yang biasa di gunakan ketika sholat."


__ADS_2