
••
"Pernah! Sekarang pun masih cinta."
Dea yang mendengar pernyataan itu langsung murka, ia memandangi wajah ustadz Azmi dengan tatapan tajam. Seketikan pikiran Dea melayan sama satu nama perempuan yang pernah hadir di kehidupan ustadz Azmi. Apa mungkin sih A?
Oh tidak bisa seperti ini, cinta emang tak ada yang tau, tak bisa di perkirakan kapan ia datang dan pergi meninggalkan hati yang terluka atau pun pudar dengan sendirinya. Itu lah sebabnya mengapa cinta tidak bisa di paksa. Akan tetapi cinta yang sudah menjadi takdir allah adalah cinta yang membawa bahagia, bukan luka yang berulang-ulang. Luka yang berulang-ulang itu tandanya bukan takdirmu. Jadi tinggalkan yang membuat luka, terlebih lagi jika luka yang sama.
Ehm...
Ustadz Azmi berdehem, melihat Dea hanya diam saja. Tanpa menghiraukan apa yang ia ucapkan. Kenapa Adea cuma diam? tadi perasaan raut wajahnya seperti orang marah.
"Kenapa hanya diam bee?"
"Boleh aku tau siapa perempuan itu?" Dea kembali melayangkan pertanyaan pada sang suami. Ia tadinya ingin marah, tapi entah mengapa tiba-tiba saja rasa itu hilang di ganti dengan kalimat-kalimat berupa nasehat yang hadir dengan sendirinya.
"Umma sama Yuli!" jawab ustadz Azmi santai di ikuti tawa kecil di bibirnya.
Dea yang mendengar jawaban ustadz Azmi langsung berdiri menunjuk wajah suaminya. "Kau..." sentaknya Dea dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Kok ngamuk sih bee?" ustadz Azmi hendak menurunkan tangan Dea yang pas di depan matanya. Namun sudah lebih dulu di tarik oleh pemiliknya.
"Gimana gak ngamuk, kamu jawabnya gitu! jelas pikiran aku melayan kemana mana." Dea kembali duduk. "Gimana gak marah, kalau kamu masih cinta sama perempuan lain di saat sudah punya istri. Apalagi sudah ada baby Vey." Lanjut Dea dalam hati.
"Iya bee maaf."
Dan perbincangan pagi itupun baru berakhir di saat anak mereka menangis. Dea yang selalu memaksa suaminya mengatakan siapa saja wanita yang pernah ia doakan untuk hidup bersamanya, selain umma Sila dan Yuli. Walaupun berulang kali ustadz Azmi mengatakan hal yang sama, yaitu tidak ada. Dea tetap bersikas menanyakan hal itu lagi, hingga membuat ustadz Azmi kewalahan meladeni tindakannya.
••
Malam harinya, Dea menghubungi Ulma untuk menanyakan kabar sahabatnya itu. Sekaligus untuk melepaskan rindu walau hanya berbincang-bincang lewat udara saja. Ia pun sempat meminta Ulma untuk datang ke tempat tinggalnya, namun Ulma menolak. Bukan tanpa alasan ia menolak tapi karena rasa malunya belum hilang saat di tolak Habil, dan kini Dea malah memintanya datang ke desa mereka lagi. Yang sudah jelas ia akan bertemu dengan pria itu.
Dan detik berikutnya sambungan telpon mati, Dea yang menatap ponsel dengan alis berkerut. "Dasar tuh anak, gak sopan bangat orang masih ngomong malah di matiin. Awas saja kau"
Ustadz Azmi hanya bisa geleng-geleng kepala, milihat wajah istrinya yang terlihat begitu kesal.
"Mungkin sinyal Ulma kali, Bee!" seru ustadz Azmi sembari duduk di samping putri kecilnya yang tidur nyenyak.
"Mana mungkin sinyal, kita saja yang tinggal di desa sinyalnya bagus apalagi dia yang di kota. Emang Ulma saja yang sengaja nutup telpon tanpa pamit. Benar-benar gak sopan." Balas Dea ketus. Ia malah meluapkan kekesalannya pada ustadz Azmi, ustadz Azmi hanya diam saja. Sudah biasa itu mah! Bagi ustadz Azmi
__ADS_1
"Sudahlah bee, kan nanti bisa di telpon lagi. Atau gak telponlah dulu." Ustadz Azmi mengisyaratkan Dea untuk mengambil ponsel yang ia letakkan di atas meja.
Dea menggeleng. "Biarin aja, aku tunggu sampai dia nelpon lagi."
"Benar?"
"Benar bee, emang aku terlihat bohong ya." Menghampiri ustadz Azmi dan ikut duduk di dekat putri mereka.
"Gak!" Ustadz Azmi menaruh telujuknya di bibir Dea. Suaranya lumayan keras, takutnya Vey bangun karena ulah Dea.
"Oh iya maaf bee, kan aku jadi lupa ada anak kita tidur." rengek Dea sembari memeluk suaminya. Kapan lagi ia bisa sedekat ini dengan suaminya, kesempatan hanya seperti sekarang. Di saat anak mereka sedang tidur.
"Emosi itu di kontrol lagi sayang. Kalau bisa marah dalam diam saja." Pinta ustadz Azmi.
"Oh no, aku gak bisa seperti itu bee. Emang kamu mau aku marah terus diamin kamu berbulan-bulan, mau?" tolak Dea mentah-mentah, ya begini lah watak aslinya. Kalau ada apa apa pasti bakal blak blakan.
"Yakin berbulan-bulan marahnya," ustadz Azmi tersenyum sembari mengelus tangan Dea yang melingkar di pingganya. Namun tatapannya tertuju pada anak mereka, sangat adem jika di pandang.
"Yakinlah, jadi jangan coba-coba buat aku marah. Nanti aku bakal diamin kamu selama berbulan-bulan. Bahkan setahun pun bila perlu." Ancam Dea penuh keseriusan, namun di dalam hatinya berkata lain. "Jangankan sebulan aku diamin kamu bee, seminggu aja aku gak tahan. Apalagi setahun, mati berdiri aku jadinya."
__ADS_1