
Ustadz Azmi melihat keseriusan di wajah Dea, ia mengalihkan pandangannya dari baby Vey. Kini menatap wajah istrinya. "Aku cuma mengingatkan saja bee, apalagi kamu marah pasti ceplas ceplos."
Faktanya demikian, karena setiap kali marah sudah pasti Dea ceplas-ceplos. Dan sikapnya itu sudah mendarah daging, emosinya susah di kontrol di saat marah.
"Aku juga ngomong yang benar, walau ceplas-ceplos." Pekik Dea yang melupakan keberadaan anak mereka. Seketika baby Vey terbangun dan langsung menangis.
Sudah lebih dari tiga puluh menit Dea menenangkan sang buah hati, namun tak kunjung diam. Malah makin tambah rewel, Dea sampai kewalahan menenangkan anaknya. Ia terlihat fustasi, dan tetap menengkan anaknya. Ustadz Azmi pun beberapa kali mengambil baby Vey dari gendongan Dea, tapi tetap saja menangis.
Dea mendesah lega, saat umma Sila datang menengkan anak mereka. Ia sempat merutuki dirinya yang ceroboh, suka ngeyel, terlebih lagi tidak sabaran. Sehingga membuat anak mereka terganggu dari tidur nyenyaknya.
••
Sebulan sejak kejadian itu, Dea tidak lagi berdebat dengan suaminya. Bukan karna takut, tapi ia tidak mau kejadian seperti itu terulang kembali. Jujur saja sejak kejadian itu Dea sempat drop beberapa hari, tubuhnya yang lemah dan tidak bisa kelelahan membuatnya drop. Untung saja ada Umma Sila dan Yuli menjaga anak mereka selama ia belum pulih total. Sedangkan ustadz Azmi menjaganya.
Ulma yang mendengar kabar sahabatnya yang sedang sakit terpaksa datang menjenguk. Sebenarnya ia tidak ingin datang ke desa di mana Dea berada. Namun ustadz Azmi memberitahu kalau yang sakit bukan hanya Dea saja, tapi juga baby Vey, anaknya dan Dea. Jadi mau tidak mau ia harus datang untuk melihat Dea dan juga baby Vey yang sudah di anggapnya ponakan itu. Dengan demikian dapat di pastikan bahwa Dea tidak berpura-pura sakit, karna Ulma tau betul bagaimana watak Dea.
"Semoga saja aku tidak akan berjumpa dengannya...!" Disinilah sekarang Ulma berada, di perkampungan sejuk di tambah dengan kenangan beberapa bulan silam dirinya dengan seorang pria.
Ulma menghela napas sejanak sembari menutup kedua matanya diekor mata itu terlihat jelas ada butiran air mata yang entah kapan jatuhnya. Tidak mau berlama-lama, Ulma segera turun dari mobil menuju rumah Dea. Jujur saja ia sangat rindu pada sahabatnya itu, apalagi sudah satu bulan lamanya ia tak mendengar ocehan Dea.
"Dea..." teriak Ulma tiba di depan pintu, yang membuat beberapa orang di ruang tengah menengok ke arahnya.
"Astga,Ulma?!" Dea menghampiri Ulma dan berhambur memeluk tubuh Ulma, tanpa mengomeli Ulma yang datang tanpa salam sedikit pun. Hanya berteriak kencang memanggil namanya.
__ADS_1
"Kenapa kamu datang tidak memberitahuku." Dea melepaskan pelukannya menatap Ulma.
"Aku sangat merindukanmu. Terlebih lagi kata kakak ipar kau sedang sakit." Selepas berkata demikian air matanya sudah membasahin pelupuk mata Ulma.
"Hey aku tidak apa-apa, hanya deman saja. Begitu pun dengan Vey, kau tidak perlu menangis."
Mendengar ucapan Dea tangisan Ulma semakin kencang, membuat ustadz Azmi dan Yuli menghampirinya dengan raut wajah priatin.
"Ulma kalau ada masalah kamu bisa cerita sama Adea, atau tidak sama aku juga boleh." Yuli berucap dengan nada yang sangat lembut nan pelan, sehingga ucapannya tidak bisa di tangkap oleh pendengaran Ulma.
"Ulma?!" panggil Dea sembari menatap Ulma dan Yuli secara bergantian.
Tidak ada jawaban dari Ulma membuat Dea, Ustadz Azmi dan juga Yuli paham. Mengapa Ulma tidak menyauti Yuli, itu karena ia tidak menangkap apa yang Yuli katakan. Malah sibuk dengan tangisannya.
Pertanyaan Dea membuat Ulma tersadar dari tangisannya, ia menghapus air mata dengan kedua telapak tangan.
"Ayo masuk kita bicara di dalam saja." Ajak Dea, Ulma pun mengikutinya dari belakang. Sedangkan Ustadz Azmi dan Yuli memutuskan untuk pergi ke rumah umma Sila, kebetulan baby Vey di jaga oleh umma Sila. Ustadz Azmi memberi ruang untuk kedua perempuan itu, agar mereka bisa bercerita tanpa beban. Kehadiran dirinya dan Yuli tentu saja akan terasa canggung buat Ulma mengungkapkan yang ada di benaknya.
"Kamu ada masalah apa?" Dea menuntun Ulma duduk di sofa dan ia pun mendudukkan tubuhnya di sana.
Ulma menggeleng cepat, sebagai jawaban.
"Kalau tidak ada masalah, kenapa kamu menangis seperti itu?" Dea menatap Ulma penuh selidik.
__ADS_1
"Aku merindukanmu dan juga merindukan ponakan kecilku, apalagi saat mengetahui kalian sakit. Aku sangat sedih karena hal itu, aku juga mengira kau marah padaku. Sudah sebulan ini kau tidak pernah menghubungiku, Dea dear."
Dea mendengus mendengar penuturan dari sang sahabat, ia sengaja tidak menghubungi Ulma sebelum Ulma menghubunginya terlebih dahulu. Perkara satu bulan lalu memang ada hubungannya dengan Ulma.
"Kau tidak sedang menutupi sesuatu dariku kan?" Dea bisa menebak dari raut wajah Ulma, Ulma menangis bukan karna itu tapi ada hal lain. Yang tidak di ketahui Dea, serindu-rindunya Ulma pada dirinya hanya air mata yang keluar tanpa suara. Seperti apa yang di lakukan barusan.
"Tidak ada!"
"Kau jangan berbohong padaku Ulmayirah." Sarkah Dea. "Tangisan Ulma seperti tangisan dia putus sama tunangannya dulu."
Dan kini Ulma kembali terisak, Dea hanya bisa menenangkan terlebih dahulu. Ia tidak memaksa Ulma untuk bercerita masalah apa yang sedang di hadapi, dan sudah sangat jeles bahwa Ulma menangis bukan karna dirinya tapi seorang pria. Dea sudah menebaknya.
Beberapa saat kemudian.
"Jadi kau menangis karena mendengan dia akan menikah?" tanya Dea dengan penuh kecemasan.
"Apa menikah?" Tanya Ulma kembali berkaca-kaca.
"Kak Habil akan menikah, tapi belum tau kapan. Aku hanya mendengarnya dari Azmi." Jawab Dea tanpa ragu, karna faktanya demikian.
"Oh..Calon istrinya pasti sangat cantik." Ulma tersenyum ketir, di lubuk hatinya tidak terima mendengar pria yang sudah mencuri hatinya akan menikah, namun ia bukan siapa-siapa. Apalagi untuk menghalangi.
"Belum pasti, kau tenang saja. Nanti aku tanyakan pada Azmi kejelasannya."
__ADS_1
"Emm...tidak usah di tanyakan, lagian itu tidak ada hubungannya denganku. Aku juga sudah mempunyai kekasih." Tolak Ulma,