Cinta Seorang Ustadz

Cinta Seorang Ustadz
Takut Hamil


__ADS_3

بسم الله الرحمن الرحيم


▪︎▪︎▪︎


Dea sudah kembali ke rumah bersama ustadz Azmi setelah semalam menginap di rumah Paman Zaki. Tapi ia merasa ada yang berbeda dengan sifat ustadz Azmi.


Ia merasa ustadz Azmi menghindarinya, Dea semakin bingun di tanya menjawab tak apa.


“Mas aku butuh penjelasan kenapa mas selalu menghindari aku?” tanya Dea kesal, sembari mendudukan tubuhnya di samping ustadz Azmi.


“Mas bukan menghindar Dek, hanya saja mas belum bisa terima kalau Adek gak mau hamil.”


Dea terdiam, ini kelemahan Dea. Ia paling takut yang namanya mengandung. Karena hamil banyak sejarah dalam hidupnya.


“Sekarang mas ingin tau apa alasan Adek gak mau hamil?” tanya ustadz Azmi menatap Dea.

__ADS_1


Dea membalas tatapan ustadz Azmi. Ia bisa melihat bahwa ustadz Azmi ingin tau apa alasannya, walau berat Dea harus pasrah dan menceritakan alasan yang sebenarnya.


“Baiklah, sebenarnya aku takut melahirkan. Bukannya aku tak ingin punya anak dari mas, jujur aku suka punya dede bayi. Hanya saja kehamilan adalah hal yang paling aku takuti. Ibu ku meninggal di saat melahirkan ku, dan ayah meninggal terserang jantung saat mengetahui bahwa ibu meninggal pasca melahirkan. Aku tau ini dari mbak Mina, mbak Mina yang merawatku dari bayi.” Dea memberi jeda, ia menarik napas dan membuanya perlahan. Agar air matanya tak jatuh.


“Mbak mina adalah kariawan di tokoh bunga Ibu, karena tak ada yang berani mengadopsiku. Maka mbak Mina bersedia mengadopsiku, walau waktu itu mbak Mina belum menikah. Saat usiaku beranjak 10 tahun, barulah mbak Mina menikah. Tapi selama aku hidup bersama mbak Mina ia selalu membebaskanku. Setelah menikah, mbak Mina hamil, dan pada saat melahirkan mbak Mina meninggal bersama calon bayinya.” tangisan Dea pecah.


Dan saat itu juga, ustadz Azmi paham. Kenapa istrinya tidak mau hamil. Ia juga ikut terluka mendengar curhatan sang istri. Ia berjanji pada dirinya sendiri, ia akan membahagiakan istrinya.


“Dan aku bukan keponakan Paman dan Bibi, ayah dan ibu anak tunggal. Paman dan Bibi adalah teman dekat ayah sama ibu.” Lanjut Dea.


“Iya, tapi aku sangat menyangi mereka. Karena dari semua keluargaku hanya Paman dan Bibi yang begitu khawatir dengan kondisiku.” Jawab Dea.


“Adek tenang aja sekarang sudah ada mas yang selalu menjaga Adek. Gak usah sedih lagi, dan Adek harus yakin ajal sudah di atur oleh Allah. Jadi gak perlu takut dengan kehamilan.” Ustadz Azmi mencium kening Dea.


Dea berpikir, kalau ia menolak permintaan ustadz Azmi, ia takut akan di cerai dan menjadi janda. Tapi di sisi lain, ia sangat takut mengenai hal itu.

__ADS_1


“Kalau aku gak mau hamil apa mas aku menceraikan aku?” tanya Dea mengangkat wajahnya, menatap ustadz Azmi.


“Gak akan, mas gak akan menceraikan Adek. Perceraian memang tidak di larang dalam agama islam, hanya saja Allah membenci perceraian. Dan satu lagi, mas gak suka Adek ngomong kegitu.”


“Iya, aku mau hamil.” Ucap Dea tersenyum. Ia yakin pasti ia bisa menghadapi semua ini.


Mata ustadz Azmi berbinar gembira. “Terima kasih sayang,” ucapnya sambil mencium bibir sang istri.


“Kalau gitu, mas boleh minta hak mas kan?”


Dea hanya mengangguk.


▪︎▪︎▪︎


'Ana berharap para pembaca memberi 'ana like, vote, dan rate bintang 5 di menu sampul!!

__ADS_1


—Man Jadda WaJada


__ADS_2