Cinta Seorang Ustadz

Cinta Seorang Ustadz
Menyembunyikan perasaan


__ADS_3

بسم الله الرحمن الرحيم


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dea hanya mengangguk cuek, dan semua itu tak luput dari perhatian ustadz Azmi. Hati Dea berdesir, tapi anggota tubuh berkata lain. Tak ada dorongan sama sekali untuk menyatakan bahwa dirinya juga merasa nyaman, jika di dekat ustadz Azmi.


Biarlah dulu ahh... kapan-kapan aja! Lagian masih banyak waktu juga.


"Aku mau ke rumah sebelah dulu," pamit Dea, ustadz Azmi hanya mengangguk tanpa suara.


Dea melangkahkan kakinya keluar, menuju rumah Umma Sila. Tujuannya yaitu, menemui Yuli. Tiba di depan pintu, Dea berpapasan dengan Yuli. Yang kebetulan juga ingin menemuinnya. Maka mereka memutuskan untuk berbicara di kamar tamu saja.


"Ada apa Adea? Kok serius amat?" tanya Yuli, seraya menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. "Bukannya kamu sudah baikan dengan kakak ya!"


"Iya, masalahnya aku pingin bersama kamu aja, Yul." Jawab Dea.


Yuli menatap Dea penuh tanya, "Kok sama aku?"


Dea hanya diam, ia menundukkan pandangannya menghindar dari sorot mata Yuli yang sedang mengawasinya.


"Adea ...."


"Hm?" Deheman Dea, masih menunduk.

__ADS_1


"Kamu nyaman dengan kak Azmi kan?" Yuli diam sejanak, memberi jeda agar Dea kembali menatapnya. Namun, tidak demikian. Dea malah semakin menunduk.


"Aku mengerti Adea, masih banyak waktu. Jangan terlalu di pikirkan, kasian debaynya. Tapi kamu harus ingat waktu akan berlalu jika tidak di pergunakan dengan baik."


Mendengar ucapan Yuli, Dea mendogakkan kepalanya menatap Yuli. Apa yang di katakan Yuli itu benar, jangan pernah menyia-nyiakan waktu.


"Aku tau!" seru Dea.


"Syukurlah, mencintai seorang pasangan karena Allah itu lebih baik. Jadi cintailah kak Azmi karena Allah."


"Iya Yuli, aku akan berusaha. Doakan saja."


Yuli mengangguk, "Iya."


Hari hari berikutnya, Dea tetap masih teguh dalam pendiriannya. Ia belum bisa jujur tentang perasaannya saat ini. Entah kapan perasaan nyaman itu tumbuh, mengingat perilaku ustadz Azmi, sudah barang tentu pasangnya akan nyaman. Walau belum sepenuhnya mencintainya. Perempuan mana yang tak akan luluh, jika pasangannya seperti ustadz Azmi. Selalu memasang mode kalem, walau ia sedang kesal.


"Adea, kita makan bakso yuk. Mau gak?" Ajak Yuli, melihat Dea hanya duduk melamun.


"Boleh juga tuh, sekalian mampir ke apotek ya." Dea bangkit dari duduknya.


"Apotek," ulang Yuli. "Mau apa emangnya?"


"Udah ayo, pasti kamu akan tau kalau kita udah tiba."

__ADS_1


"Tapi apotek di sebelah Adea," tunjuk Yuli bukan pada arah pesantren.


"Iya gak apa-apa, kamu yang bawah motor, boleh kan? sekalian jalan-jalan."


Yuli mengangguk setuju, sebelum menghampiri motor di parkiran ia berbalik menghadap Dea. "Kamu udah izin ke kakak?"


Dea menggeleng. "Dia mengajar, gimana izin sama dia coba? ayo jalan dulu."


"Yaudah, ayo."


Motor yang di kendarai Dea dan Yuli melaju dengan kecepatan sedang, tidak terlalu cepat, dan tidak juga terlalu lambat. Di sepanjang perjalanan mereka saling berbagi cerita. Terutama Yuli, yang di besarkan di desa tersebut.


Sebelum pergi ke apotek, Yuli mengajak lebih dulu singgah ketempat penjualan bakso. Memang itu yang menjadi tujuan utama mereka keluar rumah.


"Kamu ngapain ke apotek? mau beli obat apa?" tanya Yuli, setelah motor yang mereka kendarai tiba di depan apotek.


"Udah diam aja, enggak usah kepo. Tinggal ikutin aku aja." Dea menarik tangan Yuli masuk ke dalam apotek.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kakak mohon maaf🙏


'Ana nulisnya lagi gak fokus, kalau ada typo silahkan komentar di bawah ya.

__ADS_1


__ADS_2