
بسم الله الرحمن الرحيم
▪︎▪︎▪︎
Ustadz Azmi menunaikan sholat isya berjama'ah bersama istrinya di rumah. Selepas sholat isya, ia menuntun sang istri membaca Al-Qur'an.
Dengan teladan Dea mengikuti arahan sang suami. Usai belajar mengaji Dea mengajak ustadz Azmi makan malam. Tiba-tiba ponsel Dea berdering, dengan semangat Dea berlari menghampiri ponsel yang berdering di ruang tamu.
“Jangan berlarian Dek,” tegur ustadz Azmi, melihat Dea berlari dengan menggunakan sendal jepit agak tinggi.
Dea tak menghiaukan suara ustadz Azmi, ia meraih ponsel. Saat itu juga moodnya berubah, ia berharapkan Ulma yang menelpon. Tapi yang menelpon kali ini hanya Bibi Rani, bukan Dea tak ingin Bibi Rani menghubunginya. Hanya saja ia kecewa saat mengetahui si penelpon bukan Ulma. Melainkan Bibi Rani.
“Walaikum'salam Bi,” balas Dea.
“Dea, kenapa sudah berapa hari tidak datang ke rumah nak?” tanya Bibi Rani di seberang telpon.
“Maaf Bi, beberapa hari ini Dea lagi senang banget. Soanya Ulma datang ke sini, sampe jadi lupa berkunjung ke rumah Bibi.” Jawab Dea.
“Syukurlah, Bibi pikir kamu gak enak badan nak.” Tutur Bibi Rani dengan penuh kekhawatiran.
__ADS_1
“Gak kok Bi, Dea sehat!!”
“Kalau begitu besok kamu datang ke rumah ya. Kakak kamu besok kembali dari Malaysia.”
“Iya-iya Bi,” balas Dea gugup.
“Sudah dulu ya nak, asalam'alaikum.”
“Walaikum'salam.” Dea menggigit bibir bawahnya gelisah.
Tak beberapa lama kemudian, ustadz Azmi menghampiri Dea. Dengan membawa segelas air putih di tangannya, lalu ia menyerahkan air itu ke arah Dea. Karena tadi Dea belum sempat minum air.
“I—itu” jawab Dea gugup.
“Ada apa? Ayo cerita,” ustadz Azmi meraih tangan Dea. Lalu menggenggamnya.
“Besok, anak Paman sama Bibi balik dari Malaysia.” Dea menghela napas sejenak, ustadz Azmi hanya diam, ia tidak bertanya. Ia memilih menunggu Dea melanjutkan ceritanya.
Entah berapa lama Dea hanya diam, begitu pun dengan ustadz Azmi. Ustadz Azmi tidak bisa mendesak, karena itu akan membuat Dea kesal. Seperti sebelum-sebelumnya.
__ADS_1
“Aku belum tau bagaimana wajah dan perilaku anak Paman dan Bibi. Selama Paman dan Bibi mengunjungiku, anaknya tidak pernah ikut menjengukku. Aku takut saja siapa tau ia tak menyukai kehadiranku.” Lanjut Dea, setelah beberapa menit sang suami menunggu kelanjutan ceritanya.
“Jadi Adek belum mengenal anak Paman dan Bibi?” tanya ustadz Azmi heran, hingga tanpa sadar ia menggenggam erat tangan mungil Dea.
“Aduh ...Sakit tau,” pekik Dea menarik tangannya dari genggaman ustadz Azmi.
Ustadz Azmi gelagapan, “Maaf Dek, maaf mas gak—”
“Udah, gak apa!” potong Dea.
“Kenapa Adek tak mengenalnya?”
Helaan napas Dea terdengar begitu berat. “Aku tak mengenalnya, yang aku tau ia perempuan. Ia sedang menempuh pendidikan s1 di Malaysia. Maka dari itu, ia tak pernah berkunjung ke rumahku. Aku juga tidak mengetahui namanya, kerena Paman dan Bibi tidak menceritakan tentangnya padaku. Jadi besok aku pergi ke rumah Paman, nanti ia sudah datang.”
“Tapi mas gak bakal temani Adek, maaf ya. Soanya besok di pesantren kembali ada kunjungan dari donatur baru.” Ustadz Azmi mengelus puncak kepala Dea, yang sudah tidak tertutup dengan jilbab lagi.
“Gak apa-apa kok, santai aja. Rumah Paman dan Bibi itu dekat bangat.”
“Iya-iya!!”
__ADS_1