
Ulma mendatangi Dea, ia menceritakan apa yang baru saja dilakukannya. Dea yang mendengar omongan Ulma, shock setengah mati. Bagaimana tidak, dirinya saja yang sudah menikah, belum juga menyatakan perasaannya pada sang suami. Bukannya ia gengsi, namun baginya menyampaikan sebuah perasaan harus pada waktu yang tepat.
"Gitu dong jadi orang, kalau udah cinta langsung jujur aja. Gak usah di tutup-tutupin, terserah sama yang kita cinta. Dia mau sama aku allhamdulillah. Gak mau juga gak masalah, yang terpenting sudah tak ada lagi yang mengganjal di hati."
"Itu kan prinsip kamu Ulma, kalau aku beda lagi." Dea memutar bola mata malas, ia tau kalau saat ini yang sedang Ulma desak adalah dirinya. Disisi lain, Ulma juga serius mencintai Habil. Dan ia juga mau Dea jujur pada ustadz Azmi. Agar supaya rumah tangga sahabatnya itu menjadi lebih harmonis lagi. Terlebih lagi jika bayi yang di kandungan Dea saat ini, akan lahir.
"Aku tau beda orang pastinya beda prinsip, tapi setidaknya kau jujur tentang perasaanmu." Ulma menyentuh lembut tangan Dea, "percayalah padaku, pasti setiap pasangan juga butuh kejujuran tentang perasaan."
"Bukannya aku gak jujur dengan perasaanku, tapi Mas Azmi menginginkan aku mencintainya karena allah. Jadi aku harus meyakinkan hatiku dulu," Dea menggenggam tangan Ulma.
"Baiklah aku paham kok," Ulma mengangguk.
"Bagaimana kau menyampaikan perasaanmu pada kak Habil? Kau tak merasa malu gitu?" tanya Dea, mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa harus malu, kan semua yang aku katakan benar. Yah kalau kata orang sih, hal ini menjatuhkan harga diri cewek. Tapi apa salahnya kita jujur?dan memperjuangkan cinta kita. Lagian ini juga kan bukan cinta yang salah, aku dan kak Habil sama-sama masih bujangan." Jawab Ulma panjang lebar, seakan mengeluarkan semua unek-unek yang ia rasakan.
"Iya, kau benar." Potong Dea.
"Lalu kenapa kau gak langsung jujur saja sama kakak ipar, soal perasaan kamu."
__ADS_1
"Aku sudah bilang tadi," Dea membuang muka jenggah. Merasa bosan, Ulma selalu mengembalikan topik tentang perasaannya.
"Aku tau Dea, tapi kasian kakak ipar. Kamu gantungin dia," Ulma beranjak dari duduknya. "Yaudah aku mau sia-siap dulu." Lanjutnya berlalu meninggalkan Dea. Karena dini hari, ia akan pulang ke kota. Masa liburnya sudah berakhir, jadi harus masuk kuliah kembali.
Setelah semua sudah siap, Ulma berpamitan pada semua keluarga ustadz Azmi yang ada disana. Kecuali Habil.
***
Dea memutuskan untuk sholat di rumah, dalam keadaan duduk. Sejak tadi perutnya terasa sakit, tapi ia masih diam. Belum memberitahu siapa pun, termasuk sang suami yang selalu menemaninya.
"Kenapa Dek?" tanya Ustadz Azmi menghampiri Dea.
Dea menggeleng lemah, "Gak apa-apa kok."
"Sakit perut kan Dek?" tanyanya lagi.
Kali ini, Dea mengangguk tanpa melihat wajah ustadz Azmi.
***
__ADS_1
Yuli, Umma Sila, dan yang lainnya sudah menunggu di luar. Kata seorang perawat, Dea akan lahiran. Umma Sila mendar mandir di luar ruangan. Menunggu ustadz Azmi keluar, ia akan masuk ke dalam ruangan.
Di dalam ruang persalinan.
"Mas keluar dulu ya Dek, biar gantian sama Umma." Bisik ustadz Azmi pelan di telinga Dea.
Dea yang awalnya menutup mata, kini membuka matanya sembari menggenggam erat tangan ustadz Azmi.
"Aku mencintaimu Mas, maaf baru mau jujur." Ungkap Dea.
Ustadz Azmi tersenyum lembut, senang? Sudah tentu ia senang. Tapi di sisi lain ia menghawatirkan kondisi Dea saat ini, akan tetapi ia lebih yakin kepada sang pencipta. Masa segala-galanya.
"Alhamdulillah, Adek harus kuat ya." Ustadz Azmi mengelus lembut puncak rambut Dea.
"Aku takut gak sempat ngungkapin perasaan aku, di saat—"
Sssst. Ustadz Azmi menaruh telunjuknya di bibir Dea, seakan mengerti apa yang akan Dea ucapkan.
***
__ADS_1
Skip ya.
Jika ada typo dalam penulisan mohon tinggalkan kometar anda.