
بسم الله الرحمن الرحيم
▪︎▪︎▪︎
Dea menatap lurus ke depan rumah. Rasanya ia tak ingin Ulma pulang, ia masih ingin bersama dengan Ulma lebih lama lagi. Tapi Ulma sudah mendapat telpon dari ibunya, besok ia harus masuk kampus.
“Jangan sedih, aku harus kuliah. Ntar kalau ada waktu kamu bisa temui aku di rumah, sekalian kita pergi ke tempat Dion.” Ucap Ulma menggoda sahabatnya, agar tidak sedih lagi.
Dea tersenyum. “Apaan sih, kamu gak lihat?” ucap Dea melirik ustadz Azmi berdiri di sampingnya.
“Bercanda, udah sini peluk dulu.” Ulma merentangkan kedua tangannya.
Dea memeluk Ulma, lalu ia melepaskan pelukaannya. Ulma menghadiahkan ciuman di pipi kanan dan kiri sahabatnya. Umma, Abah, Yuli, dan ustadz Azmi yang menyaksikan itu kagum. Sebab, Ulma dan Dea seperti saudara kandung. Pedahal sama sekali tak ada ikatan darah.
“Abah, Umma, Yuli, Kakak ipar, dan Dea. Aku pamit ya, Assalam'alaikum.”
“Walaikum salam,” jawab mereka serentak. Kecuali Dea, yang hanya mengangguk menahan air mata.
__ADS_1
Setelah mobil Ulma melaju meninggalkan rumah, ustadz Azmi mengajak Dea masuk ke dalam rumah.
“Dek gak usah sedih ya,” ustadz Azmi menghampiri Dea, ia memeluk tubuh Dea.
Dea mengangguk, “Iya.”
Suasana ruang tamu, mendadak hening. Ustadz Azmi dan Dea larut dalam pikiran masing-masing. Ustadz Azmi tau istrinya sedih karena kepulangan Ulma.
Maka yang ia lakukan hanya memeluk tubuh istrinya, kemudian Yuli menghampiri ustadz Azmi dan Dea.
“Yuli?” panggil Dea melepaskan pelukannya.
Wajah Dea berbinar seketika, bakso adalah makanan kesukaannya. Ia sering memakan bakso, saat masih di kota. Tapi sekarang sudah jarang, jadi ia senang ketika Abah membelikan ia bakso.
“Makasih ya,” ucap Dea tersenyum.
“Sama-sama, aku ke rumah sebelah dulu.” Pamit Yuli, yang dianggukan Dea dan juga ustadz Azmi.
__ADS_1
“Mas suapin aku dong, ntar mas juga makan bareng aku.” Pinta Dea.
Ustadz Azmi tersenyum, ia mulai menyuapi sang istri. Suapan demi suapan berlalu, hingga bakso itu habis. Ustadz Azmi meraih segelas air putih dan menyodorkannya pada Dea. Dea menggeleng.
“Kenapa? Gak mau minum air ceritanya?” tanya ustadz Azmi mengerutkan keningnya.
“Bukan kegitu ceritanya,” jawab Dea terhenti, ia naik ke atas pangkuan ustadz Azmi.
“Dek?” ustadz Azmi membuka lebar kedua mata, ia kaget hingga segelas air yang ada di tangannya sedikit tumpah.
Dea meraih gelas dari tangan ustadz Azmi, lalu ia menatap wajah ustadz Azmi kesal. “Aku itu hanya duduk di pangkuan mas. Kenapa malah seperti orang yang ketakutan?”
“Ya'allah, mas hanya kaget aja Dek.”
Ustadz Azmi tersenyum kaku, ini pertama kali baginya seorang perempuan duduk di pangkuannya. Walau Dea istrinya tetap saja ustadz Azmi merasa gugup. Ia sudah terbiasa dengan kenakalan Dea, hanya saja setiap Dea melakukan aksi nakalnya itu di kamar. Bukan di ruang tamu seperti ini, ia takut siapa tau ada yang melihat.
“Mas kenapa malah jadi gugup kayak gini?” tanya Dea. Sembari meneguk air putih.
__ADS_1
“Adek bebas melakukan apa aja yang penting di kamar. Jangan di tempat ini, kalau ada yang lihat itu tidak baik.” Jawab ustadz Azmi, jantungnya berdetak kencang saat Dea menyandarkan kepalanya di dada ustadz Azmi.
“Yaelah, kok mas deg-degkan ya?” Ledek Dea turun dari pangkuan sang suami, lalu menyerahkan air putih.