
بسم الله الرحمن الرحيم
▪︎▪︎▪︎
Setelah ustadz Azmi melangkah pergi, tak beberapa lama kemudian Yuli menghampiri Dea yang masih duduk di sofa ruang tamu.
"Apa tempat menjual bakso jauh dari sini?" tanya Dea di saat Yuli mendudukan tubuhnya di dekat Dea.
"Lumayan jauh sih, soanya tempatnya ada di desa seberang." Jawab Yuli.
Mendengar penuturan Yuli, Dea merasa bersalah karena telah mengerjai suaminya. Entah kenapa ia ingin melihat seberapa besar kesabaran ustadz Azmi dalam menghadapi sifatnya.
Cukup lama Dea menunggu kepulangan ustadz Azmi. Namun, belum juga ada tanda-tanda kedatangan ustadz Azmi. Perasaan bersalah Dea semakin bertambah. Tiba-tiba Dea merasa tidak enak, ia merasa aneh mengingat ustadz Azmi yang pergi ke desa seberang.
"Adea, kamu kenapa?" tanya Yuli bingung yang melihat Dea mondar mandir di depannya. "Duduk dulu Dea, mata aku pusing." Lanjut Yuli.
Dea menghentikan kakinya berbalik menghadap Yuli. "Perasaan aku gak enak, aku takut siapa tau terjadi apa-apa sama mas Azmi."
"Kamu tenang saja, kak Azmi tak pernah ugal-ugalan naik motornya." Tutur Yuli sembari menenangkan Dea.
Dea hanya mengangguk, ia membuang napas pasrah. Semoga mas Azmi baik-baik saja. Batin Dea tersenyum ke arah Yuli.
"Ponsel kamu berdering," Yuli melirik ke atas meja melihat ponsel Dea yang berdering. Lalu ia meraih ponsel dan menyerahkannya pada Dea.
"Halo," sahut Dea.
"..."
__ADS_1
"Wa'alaikum salam."
"..."
"Apa?" tanya Dea kaget, sehingga ponsel yang ada di tangannya jatuh.
Yuli yang melihat hal itu, langsung meraih ponsel Dea. "Halo," ucap Yuli.
"Iya Mbak, ustadz Azmi kecelakaan." Balas seseorang di seberang sana.
"Saya—"
Tut ... tut ...
Sambungan telpon terputus. Yuli menaruh ponsel ke atas meja, lalu ia menghampiri Dea yang terlihat syok setelah menetahui suaminya kecelakaan.
Tangisan Dea semakin terdengar, yang awalnya hanya air mata. Kini suaranya sudah mulai terdengar oleh panca indra Yuli.
"Adea, kamu harus sabar ya. Ins'allah kakak baik-baik saja," Yuli menggenggam tangan Dea yang bergetar.
Dea menggeleng. "Ini semua salah ku, kalau saja aku tak meminta makan bakso pasti dia gak kecelakaan."
"Tidak Dea, ini bukan salahmu. Kamu gak bisa menyalakan dirimu sendiri," balas Yuli.
"Ini salahku," Dea melepaskan genggaman tangan Yuli. "Aku ingin menyusul mas Azmi."
Dea hendak melangkah pergi, namun, langsung di cegah Yuli. "Tenangkan dulu dirimu, kakak pasti baik-baik saja!!" Seru Yuli.
__ADS_1
"Baik-baik saja bagaimana? dia kecelakaan, masih di bilang baik-baik saja?" ucap Dea dengan nada bergetar, tubuhnya lemas saat mendengar suaminya kecelakaan.
Ia melangkah keluar rumah, dan Yuli hanya mengikutinya dari belakang. Yuli tak berani mencegah, karena ia tau Dea tak bisa di bantah. Apalagi dalam keadaan seperti ini, sudah pasti Dea keras kepala dan mengotot untuk menemui ustadz Azmi.
"Semoga kakak baik-baik saja Ya'allah. Lindungilah kak Azmi," batin Yuli.
Dea menghapus air matanya, ia sangat menyesali perbuatannya. Kalau saja ia tak mengerjai ustadz Azmi, pasti ustadz Azmi tak kecelakaan.
"Ya'allah lindungilah mas Azmi, Aku benar-benar menyesalinya." Batin Dea sedih.
▪︎▪︎▪︎
Ustadz Azmi berbaring di ranjang, sambil menutup matanya. Rasanya begitu sakit, lengannya terluka selain itu bagian dadanya juga terluka.
"Buka bajunya dulu pak, biar saya obati lukanya." Pinta seorang perawat.
Ustadz Azmi membuka lebar kedua matanya. Ia kaget, karena tak berani membuka baju di depan perempuan. Kecuali istrinya, Dea. Selain itu, ia juga malu membuka baju jika bukan di depan Dea.
"Maaf, saya tidak bisa." Tolak ustadz Azmi, "Apa tidak ada perawat laki-laki yang bisa membersihkan luka saya?" tanyanya kemudian.
Perawat tersebut mengeringitkan alis heran. Kenapa pria yang di depannya begitu malu?pikirnya.
"Ada pak, tapi ini jam istrahat mereka sedang beristrahat. Sebaiknya bapak menuruti saja apa yang saya katakan."
"Tapi saya tidak bisa," bantah ustadz Azmi tanpa menatap wajah wanita itu.
"Baiklah, saya akan memanggil perawat laki-lakinya dulu." Ucapnya pasrah. Lalu melangkah ke luar ruangan.
__ADS_1
"Mentang-mentang ganteng sok jual mahal." Gerutu perawat itu kesal.