
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
**
"Bukannya susah, belum terbiasa."
Dea cuma mengangguk ia yakin ustadz Azmi pasti juga akan terbiasa dengan panggilan barunya itu. Sebab, ia dulu seperti itu. Awalnya manggil ustadz Azmi dengan sebutan mas masih kaku, namun seiring dengan berjalannya waktu ia pun terbiasa.
Tak lama kemudian, umma Sila menggendong si kecil Vey masuk ke kamar diikuti Ulma dari belakang yang sedang membawa napan berisi makanan buat sahabtnya Dea. Ulma menaruh napan tersebut ke atas nakas, lalu ia menghampiri Dea. Ulma hanya mengecup kening Dea karena kondisi Dea yang baru lahiran itu membuatnya takut memeluk Dea.
"Nanti kakak ipar saja yang menyuapimu ya." Ucapnya yang mendapat anggukan dari Dea.
Senyum Dea mengembang di saat melihat buah hatinya yang begitu indah di pandang oleh mata. Ia meminta menggendong Vey, namun ustadz Azmi mencegahnya. Karena Dea juga harus makan dan istrahat dulu.
**
Seminggu setelah melahirkan, kesehatan Dea beransur pulih. Ia sudah bisa mengerjakan pekerjaan rumahnya seperti mencuci piring dan menyapu. Akan tetapi ustadz Azmi tidak mengizinkan Dea mengerjakan pekerjaan rumah. Setiap hari ustadz Azmi bangun lebih pagi untuk bersiap-siap sholat subuh, sehabis sholat subuh baru ia mengerjakan pekerjaan rumah. Dari memasak, mencuci piring, membereskan pakaian dan mencucinya hingga menyapun lalu menyepel lantai rumah. Setelah pekerjaan selesai baru ustadz Azmi siap-siap berangkat ke pesantren.
Rumah Dea dan ustazd Azmi memang dekatan dengan rumah kedua orang tua ustadz Azmi. Tapi ustadz Azmi dan Dea memutuskan untuk merawat anak mereka sendiri. Terutama Dea juga pingin jadi anak yang mandiri.
__ADS_1
Paman Zaki dan Bibi Rani pun selalu mendatangi rumah Dea, begitupun dengan Yuli ia selalu menemani Dea jika ustadz Azmi sedang mengajar di pesantren.
"Bee," panggil Dea.
"Ya, bee!" jawab ustadz Azmi.
"Sana siap-siap aja, nanti kesiangan lo. Udah jam berapa masih santai aja." Dea melirik jam dinding.
"Tadi kan hari libur, Bee." Ustadz Azmi mengangkat sebelah alisnya. "Ini hari minggu."
"Oh, iya. Aku lupa." Dea menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan.
"Assalamu'alaikum." Yuli memberi salam.
"Waalaikumsalam," balas Ustadz Azmi dan Dea barengan.
"Dedek masih tidur ya?" tanya Yuli sama Dea.
"Iya Vey masih tidur." jawab Dea sembari mengambil potongan roti di atas meja.
__ADS_1
Kemudian Yuli berbalik ke arah kakaknya, "Panggilan baru?"
Ustadz Azmi yang mendengar ucapan Yuli cuma diam, tak bisa berkata apa-apa lagi. Dengan cepat Dea menimpah ucapan Yuli pada suaminya, "Iya aku yang nyuruh dia manggil Bee."
Yuli tersenyum sembari menatap kagum pada sang kakak iparnya itu, sebab Dea mampu menyelamatkan suaminya yang di kala itu sedang menahan malu.
"Kenapa gak di panggil abi aja, Adea?"
Dea menggeleng cepat, "Dia kan suamiku. Ayah dari anakku, bukan ayahku."
Sebenarnya ustadz Azmi tidak mempermasalahkan panggilan apa yang di buat istrinya, baginya selagi itu masih sopan tidak jadi masalah.
Terlebih lagi hidupnya dan Dea memang sangat berbeda, Dea berasal dari kota besar jadi bagi dirinya panggilan mas itu tidak wajar bagi dirinya bersama suami.
Aku kan bukan orang jawa kenapa harus manggil mas juga?
***
Next ya. Kita fokuskan ke Dea dan Azmi.
__ADS_1