
بسم الله الرحمن الرحيم
▪︎▪︎▪︎
Ustadz Azmi mengajak Dea dan Ulma pulang, karena hari sudah petang. Sebentar lagi sholat magrib.
Tiba di rumah, Dea mengajak Ulma sholat, begitupun dengan ustadz Azmi ia mengajak Andre. Mereka membersihkan diri terlebih dulu sebelum menunaikan sholat magrib. Lalu mereka menunaikan sholat magrib berjama'ah di mushola yang biasa di gunakan oleh kedua orangtua Ulma ketika masih hidup.
Selesai sholat Dea duduk sembari menyandarkan kepalanya di bahu Ulma. Ia sangat merindukan pelukan sahabatnya. Yuli dan yang lainnya duduk bersama mereka, tapi hanya hening tak ada obrolan. Kecuali suara Dea dan Ulma yang terdengar, memecahkan keheningan di ruang tamu itu.
"Kok pak Andre bisa bersama kamu?" tanya Dea menatap Ulma heran.
"Bang Andre kan sepupu aku, jadi wajar dong dia menemani aku." Jawab Ulma.
"Jadi, dia sepupu kamu?" Dea menautkan alis tak percaya, sebab selama ini ia tidak pernah melihat Andre di rumah Ulma. Ulma pun tidak pernah memberitahunya.
Ulma mengangguk. "Bang Andre tinggal di Malaysia, dia balik ke Indonesia setelah kamu menikah dan tinggal bersama kakak ipar. Jadi, kamu gak tau kalau sebenarnya Bang Andre sepupuku."
"Kebetulan bangat kalau gitu, pak Andre sempat melamar Yuli. Tapi di tolak, karena dia sudah punya istri." Dea menatap sinis ke arah Andre dengan menekan kata istri.
"Ternyata Yuli? yang di lamar sama Bang Andre, tapi kenapa malah di tolak sih?" ucap Ulma dengan raut wajah penuh kekecewaaan.
"Karena dia sudah punya istri, terlebih lagi dia melamar Yuli membawa Mbak Ranty!" seru Dea.
Mendengar nama Ranty yang di sebut Dea, tatapan Ulma berubah menjadi tatapan tajam ke arah Andre.
"Sudah berapa kali aku bilang bang? jangan peduli dengan Ranty, pantas saja Yuli menolak lamaran Abang. Ternyata malah membawa wanita tidak tau malu itu." Ulma membanting pas bunga yang ada di atas meja tepat di hadapan Andre.
Dea yang melihat kemarahan Ulma berlari memeluk tubuh ustadz Azmi. Ia tidak pernah melihat Ulma marah sebelum-sebelumnya. Apalagi sampai membanting barang.
"Biar bagaimana pun Ranty masih istri sah Abang." Andre menghembuskan napas kasar sembari menyinggirkan setangkai bunga yang ada di atas kakinya.
"Aku gak habis pikir sama Abang, setelah dia selingkuh di belakang Abang. Dan Abang masih mempertahankan perempuan seperti Ranty?"
Ustadz Azmi, Dea, dan juga Yuli kaget bukan main. Mereka mencerna perkataan Ulma, Selingkuh? batin ketiganya. Kecuali Habil yang hanya diam, tak mengerti situasi.
__ADS_1
"Bukannya Mbak Ranty gak bisa memberi pak Andre keturunan ya? hingga pak Andre ingin menikah lagi?" tanya Dea.
"Dek?" ustadz Azmi menatap istrinya memberi kode agar diam.
"Gak, itu gak benar!" Ulma menggeleng. Ya, sengaja Andre berbohong soal Ranty tak bisa memberinya keturunan karena menutup aib Ranty.
Andre dan Ranty sudah lama tinggal di Malaysia, kehidupan rumah tangga mereka awalnya sangat harmonis. Namun, semua tak berlangsung lama. Ranty memutuskan pulang ke indonesia, setelah kepulangan Ranty sudah setengah tahun barulah Andre ikut pulang ke indonesia juga.
Kepulangan Andre ke indonesia membawa bencana besar bagi keluarga Ranty. Ranty memberitahu pada semua keluarganya bahwa ia dan Andre sudah berpisah. Dan pada saat itulah semua terbongkar, ternyata Ranty berselingkuh di belakang Andre. Yang lebih parahnya lagi Ulma memorgoki Ranty tengah bercinta dengan selingkuhannya di sebuah kamar yang ada di club malam milik Dion.
Dari situlah awal kemarahan Ulma terhadap Ranty. Bahkan Ulma sempat menyuruh Dion mengambil vidio Ranty dan selingkuhannya itu. Sebagai bukti, jika Andre tidak percaya dengan omongan Ulma.
▪︎▪︎▪︎
Dea merasa bersalah pada Andre, ia sudah berpikir bahwa Andre hanya tergila-gila dengan dunia. Padahal, Andre sedang menutupi aib istrinya. Jika bukan Ulma pasti mereka tidak mengetahui kebenarannya.
"Pak Andre, maafkan saya sudah berpikir yang tidak-tidak." Ucap Dea pada Andre.
"Tidak apa-apa, panggil aku Abang seperti Ulma memanggilku." Andre tersenyum lembut.
"Ustadz Azmi, saya ingin berbicara. Apa anda punya waktu sebentar?" tanya Andre ragu. Karena sudah larut malam, Ulma dan Yuli juga sudah tidur. Hanya tinggal mereka bertiga yang belum tidur. Sebab, Dea mengajak ustadz Azmi menemui Andre yang kebetulan masih duduk sembil menonton tv.
"Boleh kok," jawab Dea. Ia melihat suaminya hanya diam. "Aku duluan ke kamar ya mas." Pamit Dea, yang di anggukan ustadz Azmi.
"Pak Andre mau ngomong apa?" Ustadz Azmi mendudukan tubuhnya di samping Andre.
"Santai aja, panggil aku Andre. Gak usah pake embel-embel segala, aku juga akan memanggilmu Azmi." Andre menepuk punggung ustadz Azmi.
Ustadz Azmi hanya mengangguk. "Mau bicara apa?"
"Begini Azmi, aku sekarang bingung. Ranty tidak mau bercerai dariku, sementara Yuli tak mau menikah denganku. Apa aku menceraikan Ranty secara paksa saja?"
Ustadz Azmi tersenyum, jujur saja ia kagum dengan Andre. Andre menutupi aib istrinya, walau hatinya begitu sakit menerima kenyataan yang ada.
"Jika ingin bercerai dengan Ranty, selesaikan secara baik-baik. Ins'allah dia akan menerima kenyataannya."
__ADS_1
Andre menggeleng cepat. "Aku sudah membujuknya, tapi dia tetap tidak mau. Dia rela aku menikah lagi asal jangan menceraikannya."
"Apa Ranty sudah menikah sirih dengan selingkuhannya?" tanya ustadz Azmi tiba-tiba.
"Ada yang berkata seperti itu," jawab Andre dengan pandangan yang sendu. Ia cukup tampan, bertanggung jawab, tidak pernah bertindak kasar pada Ranty. Namun, semua kebaikannya di balas Ranty dengan keburukan. Yang sangat menyakiti hati dan batinnya.
"Sudah larut malam tidurlah, Adea pasti sedang menunggumu!"
Ustadz Azmi mengangguk, lalu ia berpamitan ke kamar. Tiba di kamar ustadz Azmi di kejutkan dengan Dea yang masih setia menunggunya.
"Kenapa lama bangat sih mas?" Dea menatap wajah ustadz Azmi cemberut.
"Maaf ya Dek," ustadz Azmi mencubit gemas pipi istrinya.
Dea menepis tangan ustadz Azmi, "Ayo buka baju." Pintanya.
"Jangan mulai lagi Dek." Ustadz Azmi memalingkan pandangnnya ke arah lain.
"Mas malah mikirin apa sih?" Dea menarik tangan ustadz Azmi agar melihat ke arahnya. "Aku hanya ingin memegang otot-otot di perut mas. Kalau mas gak buka baju, ntar gak bisa bebas." Rengek Dea manja.
"Iya-iya, mas buka tapi ingat cepat tidur jangan malah nakal lagi." Ustadz Azmi membuka kaos yang berwarna hitam polos itu. Lalu menaruhnya ke atas nakas.
"Mas pikir aku perempuan nakal?" Dea mencubit perut ustadz Azmi yang sudah terlihat polos tanpa balutan kain.
"Bukan kegitu Dek," ustadz Azmi tersenyum malu. Jujur saja ia sangat menyukai tindakan nakal Dea. Toh, Dea nakal pada suaminya sendiri jadi tidak masalah.
▪︎▪︎▪︎
Alhamdulillah allah swt. masih memberikan 'ana kesembuhan. Agar bisa kembali up lagi!!
Insya'allah para pembaca sehat wal'afiat ya. Amin.
Jangan lupa like, vote, dan rate bintang 5 ya. Jika ada kata-kata yang kurang berkenan silahkan kritik. Dengan senang hati 'ana akan memperbaikinya. Karena pada dasarnya 'ana hanya menghibur para pembaca, dan senantiasa tetap mengingat pada sang ilahi (Allah swt).
Tambahkan ke favorite❤ agar setiap up ada pemberitahuannya.
__ADS_1
Man jadda wajada.