
بسم الله الرحمن الرحيم
▪︎▪︎▪︎
Dea sedang duduk bersantai di ruang tamu bersama Yuli. Sambil menonton tv, Dea menyandarkan kepalanya di bahu Yuli. Ia sudah mulai terbiasa dengan Yuli, karena perlakuan baik Yuli mengingatnya pada Ulma. Sahabat sekaligus saudara bagi Dea.
Sedangkan Umma Sila sedang menyapu di teras rumah. Tiba-tiba ada sebuah mobil mewah yang masuk ke halaman rumah. Umma Sila menatap mobil, dan mengerka siapa pemilik mobil tersebut.
Pengemudi turun dari mobil, mata Umma Sila membulat sempurna. Seorang gadis seumuran dengan Dea dan Yuli. Penampilan yang begitu terbuka. Ia menggunakan rok mini yang hanya sebatas paha, di padukan dengan blouse tanpa lengan.
“Permisi tante,” ucapnya.
Umma Sila tersenyum, ia yakin bahwa gadis tersebut nonmuslim. Dari cara berpakaian, dan juga tak mengucapkan salam.
“Iya, ada yang bisa saya bantu nak?” tanya Umma Sila.
“Apa benar di sini rumah Dea?”
“Maksud kamu Adea? Keponakan pak Zaki dan ibu Rani?” tanya Umma Sila.
Gadis itu mengangguk. “Iya, Adea yang sudah menikah dengan seorang ustadz. Kalau tidak salah namanya Azmi.” Jawabnya.
__ADS_1
“Oh iya benar nak, di sebelah rumahnya. Saya ibu mertua Adea.” Sahut Umma Sila seraya tersenyum.
“Perkenalkan tante, nama saya Ulma. Saudara Dea,” ucapnya mengulurkan tangan.
Ya gadis itu adalah Ulma, ia segaja tak memberi tau terlebih dulu. Karena ia ingin memberi kejutan pada sang sahabat sekaligus saudara kembarnya.
Umma Sila terdiam, ia mencerna kata 'saudara' yang di ucapkan Ulma. Ia tau bahwa Dea anak tunggal.
“Saya Sila, panggil Umma saja. Karena kamu saudara Dea,” Umma Sila menjabat tangan Ulma.
“Siapa Umma?” teriak Dea dari dalam rumah, ia melihat dari jendela ada mobil yang terparkir di depan rumah.
Dea tak mengenali mobil Ulma, karena Ulma tak menggunakan mobilnya. Melainkan mobil ibunya.
“Ul ...Ulma,” ucap Dea dengan mata yang berkaca-kaca. Ia masih tidak percaya bahwa sahabatnya datang, apalagi bisa tau tempat tinggalnya.
“Kok malah bengong? Gak kangen kamu.” Cibir Ulma.
Dea langsung berhambur ke pelukan Ulma. Ia sudah tak dapat menahan tangisan haru, hingga isak tangisnya terdengar.
“Udah jangan nangis lagi, gak malu di lihatin sama ibu mertua?” Sindir Ulma.
__ADS_1
“Aku kangen bangat sama kamu, kenapa gak kabarin aku dulu?” tanya Dea, melepaskan pelukannya.
“Aku pingin memberimu kejutan,” jawab Ulma.
“Ihh...kangen,” Dea kembali memeluk Ulma.
“Dea, aku haus nih.” Ulma menelan ludah, tenggorokannya benar-benar kering.
“Nak ajak Ulma masuk,” pinta Umma Sila.
“Iya Umma.” Dea mengajak Ulma masuk ke dalam rumah.
Ustadz Azmi menyaksikan semua itu, ia kembali ke rumah untuk mengambil data siswa yang tertinggal. Tapi sebelum langkahnya sampai di halaman rumah, ia melihat istrinya begitu bahagia ketika gadis yang bernama Ulma datang ke rumah.
“Nak kamu kenapa hanya berdiri di situ?” tanya Umma Sila.
Ustadz Azmi tersenyum, lalu melangkah mendekati Umma Sila dan Yuli yang berdiri di teras rumah.
“Kak bukannya Adea anak tunggal ya?” tanya Yuli penasaran.
“Iya, nak Umma juga kaget. Ternyata Adea masih punya saudara,” timpal Umma Sila.
__ADS_1
Ustadz Azmi menggeleng. “Adek memang anak tunggal, Ibu dan ayahnya meninggal saat hari kelahiran Adek. Ulma adalah sahabat Adek dari kecil. Mereka berdua juga lahir di tahun dan bulan yang sama, hanya tanggalnya berbeda. Ulma dan Adek tumbuh bersama selama 19 tahun, jadi mereka seperti saudara. Kalau kata Adek Ulma adalah saudara kembarnya.”
Ustadz Azmi sudah tau banyak tentang Ulma, walau ia belum pernah bertemu sebelumnya. Tapi Dea selalu menceritakan Ulma padanya.