
Ustadz Azmi pulang dari mesjid, saat ia akan berbaluk ke arah rumah, terdengar suara Habil memanggilnya.
Dea menatap suaminya dari balik jendela. Namun, obrolan keduanya tak berlangsung lama. Ustadz Azmi memutuskan berpamitan lebih dulu pada Habil.
Tiba di depan pintu, ustadz Azmi mengucapkan salah dengan suara yang agak kecil. Ia berpikir bahwa istri sudah tidur lebih dulu. Tapi tiba-tiba langsung di kagetkan dengan suara Dea.
"Ngomong apa tadi."
"Belum tidur, Dek?" tanya ustadz Azmi sedikit kaget.
"Belum, tadi aku abis nemanin Ulma." Jawab Dea.
"Nemanin Ulma ngapain, Dek?"
"Tidur, mas belum jawab pertanyaanku." Desak Dea.
"Habil ngajak mas ke kota besok."
"Hah? Ngapain coba," protes Dea.
"Nemanin dia Dek, boleh kan." Ustadz Azmi menatap Dea penuh harap.
Dea mengangguk cepat. "Boleh kok, kan ada Ulma juga yang nemanin aku."
"Hanya seharian aja Dek, gak bakal bermalam di sana." terang ustadz Azmi
"Bagus dong kalau gitu," Dea tersenyum senang.
"Udah malam ayo tidur." Ajak ustadz Azmi.
"Ayo."
***
Saat waktu subuh Dea membangunkan Ulma menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim. Ulma pun menutut, dan ikut ke mesjid.
__ADS_1
Setelah selesai sholat Ulma tak langsung pulang ke rumah, ia berbicara sejenak dengan Yuli serta Umma Sila.
"Mana Dea?" Ulma melihat ke sekeliling ternyata Dea sudah tak ada di sampingnya saat ini.
"Adea sudah pergi tadi, kamu gak liat ya." Ucap Yuli.
"Yaudah, aku duluan." Pamit Ulma sembari berjalan terburu-buru.
Bruk.
Tak sengaja Ulma menabrak seseorang dari arah belakang, "Maaf saya gak sengaja."
"Tak apa-apa," seorang tersebut membalikan badannya.
Deg.
Jantung Ulma kembali berdetak saat melihat seorang yang tak sengaja di tabraknya saat ini adalah Habil. Dengan cepat ia menutup wajahnya dengan mukena yang ia kenakan.
"Makasih kak, saya permisi. Assalamu'alaikum," Ucap Ulma dan langsung meninggalkan Habil.
Habil menatap kepergian Ulma dengan senyum yang terukir di bibirnya.
"Kenapa senyum-senyum sendiri?" Tanya ustadz Azmi yang sudah berdiri di dekat Habil.
"Gak apa-apa." Jawab Habil singkat, berlalu meninggalkan ustadz Azmi.
***
Seminggu sudah Ulma berada di rumah Dea, selama itu pula ia bisa bertemu dengan Habil. Bahkan hampir setiap saat ia bisa melihat wajah pria itu.
Ulma kagum dengan Habil sejak Habil membantunya sore itu. Ulma orangnya terus terang, jadi tanpa berpikir panjang ia menemui Habil. Dan menyatakan yang sebenarnya.
"Apa? kok bisa secepat itu kau menyukaiku Yirah." Habil menggeleng kepala tak percaya.
"Betul, aku menyukaimu."
__ADS_1
"Mungkin kau hanya sekedar mengagumiku saja." Bantah Habil.
"Kagum beda sama yang namanya cinta pada seseorang, apa kau pernah pacaran?"
Habil menggeleng cepat, karena faktanya hingga ia berusia 26 tahun ini, belum sama sekali pacaran. "Aku emang belum pernah berpacaran, Yirah. Tapi aku bisa membedakannya. Karna aku bukan anak kecil."
"Kau pernah dengar tidak, kalau masa remaja itu banyak yang bilang hanya cinta monyet?" tanya Ulma menarik napas panjang.
"Pernah," jawab Habil tegas.
"Cinta anak remaja yang sering di sebut cinta monyet, tapi tanpa sepetahuan kita ada banyak remaja yang bersungguh-sungguh dalam memperjuangkan cintanya. Bahkan sampai merelakan nyawa mereka."
Habil terdiam, ia paham dengan apa yang di maksud Ulma.
"Hanya itu yang perlu ku sampaikan, aku pamit dulu." Ulma membalikan badannya.
"Jangan tiru apa yang baru saja kau katakan, Yirah." Memang benar zaman sekarang ada saja remaja yang bunuh diri, karena putus cinta. Sampai viral di media sosial.
Ulma menghentikan langkahnya, sembari tersenyum tipis. "Aku tak segila itu, yang baru saja ku katakan hanya perumpamaan. Remaja saja bisa memperjuangkan cintanya apalagi aku?"
Habil tertawa, tanpa sengaja matanya bertemu dalam satu garis dengan mata Ulma. Dengan cepat ia mengalihkan pandangannya.
"Kenapa malah ketawa?" Sergah Ulma tak terima.
"Usiamu baru saja 20 tahun kan? Berarti belum masuk kategori usia dewasa."
"Sama aja, kan tinggal setahun lagi." Bantah Ulma.
"Iya," Habil mengalah.
"Jadi bagaimana?"
"Perjalananmu masih panjang, fokus pada pendidikan dulu."
"Hm ..." Deheman Ulma berlalu meninggalkan Habil.
__ADS_1