
Pria yang tak lain adalah Habil pun membelalakan matanya kaget. Ia menatap sejenak wajah gadis yang ada di depannya. Lalu ia memandang mobil yang tak jauh dari jangkauan matanya.
"Anda teman Adea, kan?" tanya Habil.
Ulmayirah, ialah gadis yang mobilnya mogok di perjalanan menuju desa tempat tingal Dea saat ini. Ulma menatap Habil lekat, sembari mengingat siapa sebenarnya pria yang ada di depannya. Ia sudah lupa siapa Habil.
"Iya aku sahabat Dea, kau siapa? Apakah kita pernah bertemu?"
Habil hanya mengangguk sembari tersenyum tipis. Ia mengetik sesuatu di ponselnya. "Mari saya antar ke rumah Dea, mobil anda biar di perbaiki sama teman saya. Sebentar lagi beliau sampai," Habil kembali memasukan ponsel ke dalam sakunya.
Ulma mengamati penampilannya dari pantulan kaca mobil. "Masa iya, aku boncengan semotor sama dia dengan penampilan kayak gini. Apa kata orang coba?" Batin Ulma.
"Gimana mau gak?" tanya Habil lagi.
"Mmm... gini aja deh."
"Gimana?"
"Kau pergi aja duluan, biar aku menunggu seorang yang akan memperbaiki mobilku."
Habil hanya diam, ia menatap lurus ke depan. Dan belum juga menyalakan motornya. Melihat Habil hanya diam di tempat, Ulma kembali membuka percakapan di antara mereka.
__ADS_1
"Kenapa belum pergi?"
"Gak baik ninggalin perempuan seorang diri di tempat kegini, apalagi gak ada orang."
Deg...
Jantung Ulma berdetak kencang, bukankah ia sudah memiliki pacar? Kenapa detak jantungnya berpacu lebih kencang saat mendengar penuturan pria di depannya. Pedahal ini pertama kali bagi mereka berbicara empat mata. Walau sebelumnya mereka pernah bertemu, tapi tak saling sapa satu sama lain.
"Ada apa Yirah?" Habil emang tak menatap Ulma, hanya saja ia bisa tau kalau Ulma sedang gugup.
Ulma semakin gugup, bahkan detak jantungnya semakin cepat berpacu. "Namaku Ulmayirah, panggil Ulma."
Kali ini, Ulma kehilangan kata-kata. Ia menundukkan pandangannya, tak ada keberanian lagi menatap pria yang ada di depannya. Suasana di antara mereka kembali hening. Tidak beberapa lama kemudian, teman Habil yang di hubungi tadi tiba.
"Tenang saja Mbak, kami akan segera memperbaiki mobilnya. Bisa di tunggu." Kata seorang pria bertubuh besar dengan rambut panjang sebahu.
"Terima kasih Pak."
Pria itu kembali mengangguk, kemudian berbicara dengan Habil. Setelah itu, Habil menyalakan motornya.
"Tunggu ..." Teriak Ulma.
__ADS_1
Habil menghentikan motornya, "ada apa?"
"Aku mau pulang bareng kamu," Ulma buru-buru mendekat ke arah Habil.
Melihat tindakan Ulma, Habil tersenyum simpul. "Bukannya Yirah mau nunggu mobilnya di perbaiki ya?"
"Haduh, kenapa harus bertemu sama cowok yang sekalem ini sih. Jatuh cinta aku kalau gini caranya." Ulma menggigit bibir bawahnya sembari menutup mata.
"Ehmm... Yirah" panggil Habil.
Seketika Ulma membuka matanya, wajahnya bersemu merah menahan malu. Bagaimana tidak, tadi diajak pulang ia menolak. Giliran Habil tinggal malah berterik, dan meminta pulang bareng.
Ulma memutar otaknya mencari alasan, untuk menutupi rasa malunya saat ini. "Aku takut sama om-om itu, kalau di apa-apain gimana? Jadi aku pulang bareng kamu aja."
"Astagfirullah, mereka orang baik. Gak bisa mikir jorok yang kegitu," tegur Habil.
"Aku benaran takut," Ulma memasang wajah sedih.
"Yaudah, ayo naik."
Senyum Ulma mengembang sempurnah, dengan cepat ia ikut naik ke motor Habil.
__ADS_1