Cinta Seorang Ustadz

Cinta Seorang Ustadz
Kebiasaan Dea ketika tidur


__ADS_3

بسم الله الرحمن الرحيم


▪︎▪︎▪︎


Dea meringkuk di balik selimut, sambil menunggu ke pulangan ustadz Azmi. Ia melirik jam yang ada di atas nakas, waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Ustadz Azmi belum juga pulang, pedahal jam pulang ustadz Azmi sebelum masuk shalat asar.


“Awas saja kau,” gerutu Dea kesal. Ia turun dari ranjang menuju ruang tengah.


Dea menyalakan tv, untuk mengusik kebosanannya menunggu ustadz Azmi pulang. Ia menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, semua tanyangan tv tak ada yang menarik bagi Dea. Hanya membuatnya bertambah bosan.


“Assalamu'alaikum.”


“Adek buka pintunya sayang!!” Seru ustadz Azmi dari balik pintu.


Dea bangkit dari duduknya menuju pintu, ia membuka pintu. Lalu mencium punggung tangan ustadz Azmi.


“Kenapa gak sekalian pulang besok aja?” ketus Dea melepaskan tangan ustadz Azmi.


Dea menghentakan kakinya, kembali ke ruang tengah. Ustadz Azmi pun mengikuti Dea dari belakang. Ia tau istri lagi kesal, atau lebih tepatnya ngambek.


“Dek maaf ya,” Ustadz Azmi duduk di samping Dea.


“Emang kamu ngapain sampai pulang malam kayak gini?” tanya Dea dengan nada kesal.


“Tadi siang ada pertemuan dengan donatur baru di pesantren, kebetulan beliau membantu pembangunan pesanten. Jadi saat pulang, kiyai masih mengadakan musyawah.” jawab ustadz Azmi.


“Pembangunan? maksudnya?” Dea mengerutkan alisnya.


“Pembangunan pesantren Dek, pesantren itu belum di pisahkan. Maksudnya laki-laki dan perempuan itu tempatnya harus terpisah. Hanya saja belum punya biaya untuk membangun tempat khusus bagi laki-laki. Dan sekarang sudah ada biayanya, mungkin besok sudah mulai di bangun.”


“Lah terus kalau udah pisah mas tetap mengajar di tempat khusus perempuan?”

__ADS_1


Ustadz Azmi menggeleng. “Tidak Dek, kalau udah selesai akan di bagi. Para ustadz mengajar khusus pada laki-laki, dan ustadzah khusus bagi perempuan. Jangka waktunya hanya sebulan, jadi Yuli akan menggati mas, mengajar akidah akhlak dan juga sastra arab. Sastra arab hanya mata pelajaran tambahan.”


“Tadi kata Yuli, nanti umurnya genap 20 tahun baru itu ia mau.”


“Abah akan berbicara dengan Yuli, tadi mas menghibungi Abah. Dan memberitahu semua.”


“Oh ...mas sana makan dulu,” Dea beranjak dari duduknya.


“Iya, apa Adek sudah makan?” tanya ustadz Azmi.


“Sudah, aku duluan ke kamar.” Pamit Dea.


Selesai makan malam, ustadz Azmi masuk ke dalam kamar. Ia membersihkan tubuhnya terlebih dulu sebelum tidur.


Ustadz Azmi menghampiri Dea yang sedang mengutak-atik ponselnya. Ia merebahkan tubuhnya di samping Dea.


“Adek shalat kan tadi?” tanya ustadz Azmi.


“Kok masih ngambek sih Dek? Bukannya tadi udah baikan ya?”


“Aku kesal sama kamu, setidaknya hubungi aku. Apa gunanya punya hand phone?” teriak Dea kesal.


Usatdz Azmi menutup kupingnya, Dea berteriak di dekat kupingya. Ia lupa mengabari Dea terlebih dulu, karena terlalu sibuk. Ia juga sibuk dengan urusan sebagai umat islam, seperti shalat dan juga membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an.


“Maaf Dek, bisakan Adek ngertiin mas?” ustadz Azmi menyelipkan rambut panjang Dea ke belakang telinga.


Dea terdiam, tindakan ustadz Azmi selalu membuat Dea membeku. Dea akui sebenarnya ustadz Azmi pria yang selalu bersikap romantis pada pasangannya. Walau di marahi, di bentak, di bohongi, bahkan di pukul. Ustadz Azmi tidak marah sedikit pun, ia tetap tersenyum dan bersuara lembut.


Pertengkaran di ruangan ustadz Azmi kemarin, Dea benar-benar lepas kendali. Ia memukul, dan melepar buku yang cukup tebal ke arah ustadz Azmi. Yang membuat lengan dan dada ustadz Azmi membiru.


Dea mendekati ustadz Azmi, sembari tersenyum manis. Lalu ia mengangkat baju yang di kenakan sang suami.

__ADS_1


“Mau apa Dek?” Ustadz Azmi tersentak kaget.


“Aku gak bakal macam-macam, tenang aja. Aku hanya ingin melihat dada mas, apa masih sakit?” Dea meraba dada sang suami, yang masih sedikit membiru.


“Udah gak sakit kok Dek, yang di lengan mas udah sembuh juga. Mas olesi dengan salep.”


“Yaudah ayo tidur, aku mau memeluk mas.” Pinta Dea.


Ustadz Azmi menuntun Dea membaca doa sebelum tidur. Lalu ia merebahkan tubuhnya di ikuti Dea, yang langsung melingkarkan tangannya di leher ustadz Azmi.


“Dek?” panggil ustadz Azmi, dengan jarak antara wajahnya dengan Dea sangat dekat.


“Hm,” sahut Dea dengan mata yang sudah terpenjam.


“Waktu Adek belum menikah, siapa yang Adek peluk di leher saat tidur?”


Dea membuka matanya lebar, dan saat itu juga mata mereka berdua bertemu dalam satu garis.


“Aku beritahu asal mas jangan ketawa.” Ucap Dea sembari memutuskan kontrak mata antara dirinya dan ustadz Azmi.


“Gak, tenang aja.” Ustadz Azmi mendekatkan wajah, hingga hidungnya menempel di pipi kanan Dea.


“Memeluk leher seseorang saat tidur, timbul di saat usia ku 11 tahun. Waktu itu, Ulma selalu menemaniku tidur. Jadi aku selalu melakukannya pada Ulma, lama-kelamaan sudah menjadi kebiasaanku. Tapi pas kami berumur 15 tahun, Ulma udah gak mau di peluk lagi. Katanya ntar jadi lesbian.”


Ustadz Azmi tersenyum, tapi di balik senyumnya itu ia merasa sedih sekaligus bahagia. Ia sedih karena hidup Dea yang bebas, ternyata ada banyak kesedihan. Dea tidak pernah merasakan kasih sayang kedua orangtuanya. Bermanja saja hanya pada sahabatnya, yaitu Ulma.


Ia juga bahagia karena Allah mempertemukan dirinya dengan Dea. Yang sudah sah menjadi istrinya.


▪︎▪︎▪︎


الله يحفظنا

__ADS_1


__ADS_2