Cinta Seorang Ustadz

Cinta Seorang Ustadz
Malu sebagian dari iman


__ADS_3

بسم الله الرحمن الرحيم


▪︎▪︎▪︎


Di depan pintu, perawat itu berpapasan dengan Dea dan Yuli. Dea yang begitu khawatir dengan kondisi ustadz Azmi, memaksa perawat menangani luka suaminya. Tanpa tau bagaimana reaksi suaminya, saat perawat yang tadi di tolaknya kini kembali bersama Dea.


"Mas, maafkan aku!!" Seru Dea memeluk erat tubuh sang suami.


Ustadz Azmi meringgis kesakitan, tapi ia berusaha untuk menahan sakit.


"Maaf ya Dek, mas belum sampai ke tempat penjualan bakso tapi sudah mengalami kecelakaan."


Dea menggeleng, "Mas gak salah, aku yang salah." Dea benar-benar menyesal, tanpa sadar air matanya jatuh. Di saat kondisi ustadz Azmi sudah seperti ini, masih memikirkan makanan yang Dea mau.


"Aku sebenarnya hanya ingin mengerjai mas, dan aku sangat menyesal melakukannya." Tutur Dea merasa bersalah.


"Gak apa-apa sayang," balas ustadz Azmi tenang. Dea buru-buru mendekatkan wajahnya ke wajah ustadz Azmi. Namun, suara deheman seseorang menghentikan niatnya.


"Hmm," deheman perawat perempuan. "Apa boleh saya langsung membersihkan lukanya?" tanyanya yang sudah tak tahan melihat drama di depan mata.


"Ya ampun, gak ngerti bangat sih. Bikin aku iri saja," batin perawat perempuan itu kesal.


"Silahkan," Dea tersenyum ramah. Lalu perawat perempuan berjalan mendekat ke arah ranjang.


"Silahkan di bantu bapaknya buka baju ya bu," tutur perewat melihat baju berwarna putih yang di kenakan ustadz Azmi ada bercak darah.

__ADS_1


Dea mengangguk, ia hendak meraih kaos ustadz Azmi terlebih dulu. Namun, ustadz Azmi menahan tangannya sembari menggeleng.


"Mas buka baju dulu dong, biar aku yang lepasin ya." Bujuk Dea, ia berpikir bahwa suaminya takut saat lukanya akan di bersihkan.


"Jangan Dek, mas belum pernah buka baju selain di depan Adek." Tutur ustadz Azmi pelan, tapi masih dapat di dengar oleh perawat yang berdiri tepat di belakang Dea.


"Hah?" Dea kaget, ia menutup mulutnya dengan telapak tangan. "Tapi sekarang mas masih luka, pokonya harus buka baju." Dea berlaga galak, berharap agar suaminya takut. Namun, hal tersebut hanya menimbulkan tawa di dalam ruangan. Ustadz Azmi, Yuli, dan perawat itu tertawa bersama melihat tingkah Dea seperti seorang ibu yang menakuti anaknya.


"Kenapa malah ketawa sih?" Dea menyembunyikan wajahnya di belakang ustadz Azmi. Jujur saja ia sangat malu, terlebih lagi sang suami ikut menertawakannya.


"Bapak ini suami ibu, bukan anak ibu. Jadi ibu gak perlu berlaga galak seperti itu." Ucap perawat di iringi tawa kecil.


"Adea, kamu seperti membujuk dede bayi. Tapi kak Azmi bukan dede bayi kamu." Yuli tersenyum geli. Tatapan yang di pancarkan ke arah Dea penuh ledekkan.


"Mas ..." Panggil Dea meminta pembelaan pada suaminya.


Tak beberapa lama kemudian, seorang perawat laki-laki masuk ke dalam ruangan untuk menggantikan perempuan tersebut. Ustadz Azmi sangat bersyukur, bahkan saat itu juga ia tak lagi di bantu Dea melepaskan bajunya.


Setelah semua selesai, Mereka berjalan menuju parkiran. Tiba di parkiran Dea merampas kunci motor yang ada di tangan ustadz Azmi. Karena kalau ia tak bertindak demikian sudah pasti ustadz Azmi akan mencegahnya.


"Yuli, kamu sendiri aja ya. Aku mau bawah motor mas Azmi," ucap Dea menyembunyikan kunci motor di dadanya.


Yuli pun mengangguk. "Ayo buruan!" serunya.


Dea segera mendudukan tubuhnya di atas motor, dengan tangan yang masih menyembunyikan kunci di depan dada.

__ADS_1


"Dek jangan seperti ini sayang, Adek hamil. Mas mohon ya, lagian mas udah gak apa-apa." Tutur ustadz Azmi.


Dea menggeleng. "Mas itu lagi sakit, gak usah bantah deh. Ayo cepat naik," Dea menyalakan motor.


Di saat yang bersamaan, ustadz Azmi meraih kunci motor. Dari tadi, ia ingin mengambil kunci motor. Namun, Dea sudah tau kelemahannya. Ia tak mau bermesraan di depan umum, apalagi sampai menyentuh area sensitif istrinya. Walau pun, ia selalu menyentuh tapi ia tak berani di tempat umum.


"Mas," panggil Dea saat tubuhnya sudah di angkat ustadz Azmi ke belakang.


"Sudah biar mas yang bawah motornya Dek," ustadz Azmi naik ke atas motor. Lalu kembali menatap wajah Dea, "Kita ke tempat makan bakso dulu ya, Dek."


"Gak, aku gak ingin makan bakso. Pulang aja," Ustadz Azmi mengangguk, lalu ia melajukan motornya.


"Kenapa tadi mas malu buka baju di depan perawat itu?" tanya Dea mendekatkan wajahnya ke arah ustadz Azmi. Karena angin begitu kencang di desa mereka. Sehingga suara Dea tak dapat di tangkap dengan jelas oleh panca indra ustadz Azmi.


"Adek kan tau, mas belum pernah buka baju di depan siapa pun selain Adek." Jawab Ustadz Azmi.


"Ihh ..tapi rasa malu mas sudah berlebihan. Udah kayak perempuan aja sih," ledek Dea.


"Bukan kegitu Dek, tapi semua itu wajar." Balas ustadz Azmi fokus mengemudikan motor.


"Wajar?" ulang Dea sewot.


"Malu sebagian dari iman." Balas ustadz Azmi menghentikan motornya, saat tiba di depan rumah.


▪︎▪︎▪︎

__ADS_1


Selamat hari raya Idul Adha!! Bagi yang menjalankannya🙏


__ADS_2