
بسم الله الرحمن الرحيم
▪︎▪︎▪︎
Seminggu berlalu, Dea selalu menemani Ulma. Memberi semangat pada sahabatnya, agar tidak sedih lagi.
Ulma pun sudah bisa melupakan kesedihannya. Walau terkadang ia merindukan kehadiran ibunya ketika malam tiba. Di saat yang bersamaan Dea selalu ada untuknya. Tapi tidak dengan hari-hari berikutnya.
Dea dan ustadz Azmi sedang menunggu kedatangan Yuli dan Habil. Ya, Yuli dan Habil sempat pulang ke desa mereka. Tidak dengan ustadz Azmi, ia mengirim surat izin ke pesantren. Ia khawatir meninggalkan Dea, terlebih lagi Ulma sedang berduka. Tentu saja Ulma tak dapat menjaga Dea.
"Aku pamit pulang dulu ya, jangan bersedih lagi." Pamit Dea saat Yuli dan Habil sudah tiba.
Ulma hanya menunduk, sebutir air mata lolos dari kelopak matanya. Ia tak rela Dea akan kembali, tapi apalah daya. Sahabatnya sekarang sudah punya suami, sudah tak seperti yang dulu lagi.
"Ulma jangan sedih dong, kita kan saudara kembar. Kalau kamu sedih, aku juga bisa sedih. Kan kasian ponakan kamu." Tutur Dea menghibur sahabatnya.
Ulma mengangkat wajahnya menatap Dea, senyum di wajahnya terukir dengan indah walau pun buliran air mata masih terlihat jelas di pipnya. Kata-kata tersebut mampu membuat keduanya tersenyum, jika diantara mereka berdua ada yang sedang bersedih.
"Iya, aku gak sedih lagi." Ulma berjalan mendekat ke arah Dea, lalu ia mencium lembut perut Dea. "Ingat jaga baik-baik ponakan aku!" serunya.
"Insya'allah." Dea tersenyum sembari memeluk tubuh Ulma sejenak.
"Aku akan ikut sama Bang Andre ke rumah kamu." Ulma mengecup pipi sahabatnya yang terlihat imut. Karena sejak hamil berat badan Dea bertambah beberapa kg.
"Kapan emang?" tanya Yuli yang dari tadi hanya diam.
"Belum tau, soanya besok sidang perceraian Bang Andre." Jawab Ulma diiringi senyum menggoda ke arah Yuli.
"Bagus kalau gitu, semangat terus Bang. Yakinlah allah pasti menggantikan sakit hati Bang Andre dengan kebahagiaan yang tiada tara." Dea menepuk punggung Andre. Ia sudah mulai terbiasa dengan Andre, ia pun menganggap Andre sebagai kakaknya seperti hal dirinya dengan Ulma.
"Makasih Adea, kamu juga semoga bahagia selalu." Andre menatap Dea sejenak, lalu ia kembali pokus pada sang pujaannya yaitu Yuli. Jujur saja ia sangat mengagumi Yuli saat pertama bertemu, tak hanya itu ia pun sudah mulai mencintai Yuli. Namun, mendapatkan hati Yuli tidaklah mudah. Maka dari itu ia memutuskan untuk menceraikan Ranty apapun tantangannya.
▪︎▪︎▪︎
Sebelum pulang ke desa, Dea meminta Habil, yang sedang mengendarai mobil mampir ke rumahnya. Tiba di rumah yang berlantai dua dengan bernuansa putih biru, Dea turun dari mobil diiringi yang lainnya dari belakang.
"Dek," panggil ustadz Azmi sembari menelusuri setiap sudut ruangan dengan kedua matanya.
"Ada apa mas?" Dea menaruh segelas jus ke atas meja.
__ADS_1
"Apa Mang Udin hanya tinggal sendiri?" tanya ustadz Azmi menatap Mang Udin berjalan ke arah mereka.
Dea menggeleng. "Ada istrinya, tapi sekarang masih menjaga toko bunga." Jawab Dea. Sejak Dea ikut bersama Paman Zaki dan Bibi Rani ke desa, Bibi Rani menyuruh Mang Udin tinggal di rumah bersama keluarga kecilnya.
"Neng Dea udah mau pulang? tunggu Bi Yayu dulu, sebentar lagi pulang." Cegah Mang Udin ketika melihat Dea bersiap-siap berangkat.
"Gak bisa Mang, titip salam aja sama Bi Yayu ya Mang." Dea mencium punggung tangan Mang Udin begitupun dengan yang lainnya.
"Iya, hati-hati di jalan!" seru Mang Udin.
"Assalamu'alaikum." ucap Dea, ustadz Azmi, Yuli, dan juga Habil.
"Wa'alaikum salam."
Ustadz Azmi melajukan mobil membelah ramainya kota, menuju desa mereka. Perjalanan cukup jauh, hingga Dea tertidur di sandaran Yuli. Karena ustadz Azmi mengganti Habil mengemudikan mobil. Habil yang merasa capek ia menyetujui permintaan ustadz Azmi.
"Astagfirullah Adek ketiduran kasian," ustadz Azmi kaget melihat Dea tertidur pulas di sandaran Yuli.
"Cepat gendong aja Az, kasian Yuli. Pasti udah pegal dia," sergah Habil.
Dengan cepat ustadz Azmi menggendong tubuh Dea menuju rumah. Umma Sila dan Abah Rahman segera menghampiri keduannya dengan raut wajah penuh kecemasan.
"Syukurlah," Umma Sila bernapas lega begitu pun dengan Abah Rahman.
▪︎▪︎▪︎
Waktu sholat isya, ustadz Azmi membangunkan Dea menunaikan kewajibannya. Usai sholat Dea memasak makan malam. Namun, langsung di cegah ustadz Azmi.
"Umma sudah memasak Dek, tunggu sebentar biar mas ambil dulu makanannya." Ustadz Azmi hendak melangkah, tapi langkahnya terhenti ketika melihat Umma Sila sudah berdiri di depan pintu.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum'salam Umma, tidak perlu repot-repot. Biar Azmi yang ambil," ustadz Azmi meraih napan dari tangan Umma Sila.
"Tidak apa-apa Nak, kalian pasti capek."
"Terima kasih banyak Umma."
Umma Sila mengangguk, lalu ia mengucapkan salam dan melangkah pergi.
__ADS_1
"Dek, ayo kita makan." Panggil ustadz Azmi.
Dea menyimpan ponselnya di kantung piama berwarna biru yang ia kenakan. Kemudian berjalan mendekati suaminya di meja makan.
"Mas ada yang ingin Dea katakan." Ucap Dea di sela-sela makannya.
Ustadz Azmi terkejut, wajahnya memerah. Hampir saja ia menyeburkan air putih yang baru saja ia minum ke wajah Dea. Ini kali pertama ia mendengar Dea berbicara menyebut nama sendiri.
"Ihh ...mas jorok deh." Dea meraih selembar tissue, untuk membesihkan wajahnya.
"Masa sih Dek, mas udah berusaha menahannya. Sampai wajah mas merah kayak gini," ustadz Azmi melirik kaca di sebelahnya. Terlihat jelas wajahnya masih memerah.
"Mas?" panggil Dea sembari melototkan matanya.
"Iya-iya mas yang salah, apa yang ingin Adek katakan?"
"Setelah makan saja!" seru Dea kembali pokus pada makanannya.
Usai makan malam, ustadz Azmi menghampiri Dea yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Apa yang ingin Adek katakan?" tanya ustadz Azmi.
"Aku ingin—" jawab Dea ragu.
"Ingin apa Dek? ayo katakan."
"Aku ingin bulan madu mas, selama kita menikah kan belum berbulan madu." Dea memeluk mesra tubuh ustadz Azmi. Sedangkan ustadz Azmi syok dengan keinginan Dea. Menyentuh saja ia tak berani, apalagi harus berbulan madu. Yang tentunya Dea akan memintanya berhubungan lagi. Ia khawatir dengan anak mereka, bukan berarti ia tak doyan dengan bumil.
"Mau gak?" Dea menatap wajah ustadz Azmi penuh harap.
"Iya mau, tapi Adek istrahat dulu ya. Udah malam biar mas buatkan susu dulu." Tutur ustadz Azmi, walau berat hatinya memenuhi keinginan Dea tapi ia akan berusaha. Ia juga tak mau mengecewakan sang istri yang begitu berharap.
▪︎▪︎▪︎
Alhamdulillah novel ini sudah lulus kontrak ya! 'ana sangat bersyukur.
Disini 'ana juga memberitahu, setiap update kemungkinan besar antara sore dan malam. Untuk setiap hari, jadi 'ana sarankan tambahkan ke favorite kalian. Agar kalian semua bisa tau udah up atau belum.
Jangan lupa juga like, komen, dan bagi Poin kalian ya. Dengan cara vote!!
__ADS_1
“Man Jadda WaJada”