Cinta Seorang Ustadz

Cinta Seorang Ustadz
Coba dulu


__ADS_3

بسم الله الرحمن الرحيم


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Aku belinya untuk Yuli!" Seru Dea dengan suara yang tidak kecil. "Puas? Laki-laki kepo bangat." Lanjutnya.


"Untuk Yuli?"


"Iya, aku belinya untuk Yuli. Aku tau Yuli pasti gak berani belinya, jadi yaudah biar aku yang beliin."


"Yuli sudah itu ya?" tanya ustadz Azmi sembari menggaruk tenggukknya.


"Belum, hanya aku siap kan buat dia nanti." Jawab Dea, ia sudah paham dengan maksud sang suami.


"Oh gitu ya, Dek!"


"Udah makan belum? Kalau belum aku buatkan nasi goreng." Dea turun dari tempat tidur berjalan ke arah pintu.


"Udah Dek, tadi baru aja makan kok. Istrahat saja Dek," pinta ustadz Azmi.


"Aku mau ke rumah Umma, Mas aja yang istrahat pasti capek kan?"


Ustadz Azmi menghembuskan napas pasrah seraya mengangguk.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dea menutup pintu rumah sebelum ia pergi ke rumah sebelah. Baru saja ia melangkah, terdengar suara seseorang yang memanggil namanya. Suara tersebut terdengar begitu lembut. Seperti suara Yuli, dengan cepat Dea berbalik menghadap ke arah suara. Tampaklah Aleyna, yang berdiri agak jauh darinya.


"Kak Aleyna ..." Panggil Dea.


"Iya Dea, kakak kemari ingin memberitahumu satu hal." Tutur Aleyna mendekat ke arah Dea.


"Mari masuk dulu kak, kita bicara di dalam." Dea kembali membuka pintu yang tadi sempat di tutupnya.

__ADS_1


Aleyna tersenyum, lalu ia mengikuti langkah kaki Dea masuk ke dalam rumah. Tiba di ruang tamu, Aleyna mendudukan tubuhnya di samping Dea.


"Suatu hal apa kak?" tanya Dea semakin penasaran melihat raut wajah Aleyna.


"Kakak ingin mengajakmu berliburan walau hanya sehari saja. Itupun jika kamu bersedia, kakak gak memaksamu." Aleyna berucap dengan ragu-ragu, pasalnya saat ini Dea sedang mengandung. Tentu akan di larang oleh suami atau pun mertuanya.


"Liburan ke pantai kak?" tanya Dea dengan wajah berbinar gembira.


"Boleh, kalau kamu maunya ke pantai."


"Aku mau kak, ntar aku ajak Yuli juga ya!" Seru Dea.


"Tapi izin dulu sama suami kamu, kalau gak ajak sekalian." Usul Aleyna.


"Iya kak, kakak tenang saja."


"Ada apa kok heboh amat? Sampe salam aku gak di jawab lo." Yuli ikut duduk di dekat Dea.


"Wa'alaikumsalam." Dea dan Aleyna kompak menjawab salam, walau mereka tidak sempat mendengar Yuli mengucapkan salam.


"Gak apa apa, lagi bahas apa emang?" Yuli menatap Dea dan Aleyna secara bergantian.


"Mau liburan kepantai, kamu ikut gak? ikut dong ya." Dea memegang lengan Yuli.


"Boleh, ntar aku izin dulu. Kamu juga harus izin ke kakak."


"Kalau gitu kakak pulang dulu ya, Dea, Yuli." Aleyna bangkit dari duduknya.


"Kenapa cepat amat kak?" tanya Dea.


"Kakak masih ada kerjaan, kalian kasih kabar ke kakak kalau di izinin pergi berlibur. Kakak tunggu."


"Oke siap kak."

__ADS_1


"Kakak pamit dulu, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Setelah kepulangan Aleyna, Dea mengajak Yuli ke kamarnya. Tujuannya yaitu, memberikan benda yang di belinya tadi pada Yuli.


"Mas ..." Dea menghampiri ustadz Azmi.


"Iya, ada apa Dek?"


"Istrahat di kamar sebelah ya, aku sama Yuli mau ngecek sesuatu." Ustadz Azmi mengangguk paham, ia segera bangun dan keluar kamar.


"Ngecek apa Adea?" tanya Yuli bingung.


Melihat kebingungan yang di pancarkan Yuli, Dea mengambil test pack di atas nakas. Lalu menyerahkan benda itu pada Yuli.


"Buat apa?" tanya Yuli masih tidak mengerti.


"Buat ngecek kamu hamil apa tidak." Jawab Dea.


"Belum Adea," Yuli menaruh benda itu kembali ke atas nakas.


"Coba dulu." Dea melototkan matanya, berlaga galak.


"Bukannya kalau mencobanya nanti pagi ya?"


"Jangan banyak tanya, coba dulu sekarang. Aku juga gak sempat coba yang kegini dulunya." Dea membuka jilbab yang di kenakannya.


"Terus kenapa aku harus mencobanya, Adea?"


"Agar kamu tau, hasilnya positif atau negatif. Banyak tanya sih."


"Baiklah, tapi nanti besok pagi." Yuli meraih test pack, dan menaruh di kantong baju yang ia kenakan.

__ADS_1


"Besok pagi aku tunggu hasilnya."


__ADS_2