Cinta Seorang Ustadz

Cinta Seorang Ustadz
Sedih


__ADS_3

بسم الله الرحمن الرحيم


▪︎▪︎▪︎


Pagi hari Dea membuat sarapan di bantu Ulma dan juga Yuli. Sesekali Ulma dan Yuli bercanda tawa, Ulma memang baru mengenal Yuli. Tapi sifat Yuli yang ramah membuatnya cepat akrab dengan orang lain. Apalagi Ulma yang banyak tingkah dan suka bercanda.


“Yuli, apa kamu punya satu kakak lagi?” tanya Ulma.


Yuli menggeleng. “Gak ada, aku hanya dua bersaudara. Kenapa emang?”


“Kalau ada, aku bakal lamar dia.” Ulma tersenyum pasrah.


“Yah, kebalik sih. Laki-laki seharusnya yang mengelamar bukan perempuan.” Balas Yuli sembari meraih segelas susu.


“Gak apa-apa, kalau udah kebelet juga.”


Ulma dan Yuli tertawa bersama, sedangkan Dea hanya tersenyum tipis. Kemudian, ustadz Azmi menghampiri meja makan duduk di samping Dea.


“Tunggu anak kak Azmi dan Dea aja, baru itu kamu nikah. Jadi Dea bakal jadi mertua kamu,” tutur Yuli, memasukan roti bakar ke dalam mulutnya.


“Gak mau ahh, keburu tua.” Tolak Ulma.


“Ehh, kalau aku sama Dion cocok gak?” tanya Ulma menghadap Dea.

__ADS_1


“Cocok kok,” jawab Dea singkat. Ia menatap Ulma dan memaksa untuk tersenyum, sehingga senyumannya membuat Ulma curiga.


Selepas sarapan, ustadz Azmi berpamitan. Dea mencium punggung tangan sang suami tanpa menatap wajahnya. Bahkan raut wajah Dea tak ada senyum sedikit pun.


Ulma yang melihat tingkah Dea merasa heran. Ia tau jelas bagaimana tingkah Dea, walau Dea agak sedikit kasar. Tapi ia selalu tersenyum, jika berhadapan dengan seseorang. Apalagi dengan suaminya, yang sudah dua bulan lebih tinggal bersamanya.


Terlebih lagi, tadi Ulma menanyakan perihal Dion. Biasanya Dea yang selalu heboh jika Ulma membahas Dion, tapi kali ini ia terlihat tidak peduli.


“Dea, kamu kenapa?” Ulma menghampiri Dea.


“Gak apa-apa kok,” jawab Dea gugup.


“Dea, kita hidup bersama itu sudah 19 tahun. Aku tau semua tentang kamu, kalau ada masalah jangan di simpan sendiri. Aku ada di sini untukmu.”


“Dea, aku harap kau tidak menyembunyikan apa pun dariku. Ayo cerita sekarang, Yuli sudah pulang ke rumahnya, di sini hanya ada kita berdua.” Ulma mendekati Dea, dan memeluk tubuhnya.


Hiks...hiks...hiks.


Isak tangis Dea semakin terdengar, ia menutup wajahnya dengan jilbab hitam yang ia kenakan.


“Berceritalah, aku akan mendengarnya. Kita saudara kembar, jadi jika kau sedih aku juga ikut sedih.”


Dea tersenyum, kata-kata itu yang selalu di gunakan Ulma ketika menghiburnya.

__ADS_1


Dea melepaskan pelukannya. “Semalam aku tak sengaja membuka whatsApp di ponsel mas Azmi. Dan yang mengirimnya perempuan, namanya Aleyna. Aku membuka profilnya, dan ternyata foto mas Azmi. Aku mengira hanya keluarganya saja, tapi itu salah. Diprofil ternyata tertulis calon imamku.”


“Dea, kamu gak bisa menyimpulkan bahwa kakak ipar mencintainya. Kamu harus menanyakan langsung, agar tidak terjadi salah paham.”


Dea menggeleng. “Aku gak mau!!”


“Bagaimana kamu bisa mengetahui siapa sebenarnya Aleyna, jika kau tak ingin bertanya. Apa kamu sudah mencintai kakak ipar?”


Dea menghembuskan napas kasar, sebenarnya ia belum mencintai ustadz Azmi. Tapi ia akan berusaha, setelah menyetujui ia mau mengandung anak ustadz Azmi. Namun, ia tidak terima ada perempuan lain di hati sang suami.


“Belum, tapi aku akan berusaha. Karena aku sudah siap untuk hamil.”


“What?” teriak Ulma kaget. “Kamu gak lagi bercanda kan?”


Dea menggeleng lemah. “Aku serius.”


“Baiklah-baiklah, apa pun keinginanmu aku akan mendukungnya.”


▪︎▪︎▪︎


Mohon beri 'ana vote, ins'allah menjadi berkah bagi yang memberikannya!!


—Man Jadda WaJada

__ADS_1


__ADS_2