Cinta Seorang Ustadz

Cinta Seorang Ustadz
Test Pack


__ADS_3

بسم الله الرحمن الرحيم


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dea meraih satu benda, yang membuat Yuli syok setengah mati. Baru saja Yuli membuka suara, Dea sudah lebih dulu melototkan matanya. Memberi isyarat agar Yuli diam, Yuli menutup rapat-rapat mulutnya. Tapi pikirannya kembali pada benda yang ada di genggaman Dea saat ini. Benda tersebut sudah di bungkus, dan di bayar Dea.


"Ayo pulang, ngapain bengong disitu?" sergah Dea.


"Iya—iya."


Tiba di rumah, Dea turun dari motor di ikuti Yuli dari belakang. Yuli masih bingung dengan tingkah Dea, dia mau ngapain lagi? pikir Yuli.


"Dari mana Dek? Yuli?" tanya ustadz Azmi.


"Dari sebelah kak, abis makan bakso." Jawab Yuli.


"Kok udah balik mas?" Dea tersenyum, sembari menyembunyikan kantong plastik pada jilbab yang ia kenakan.


"Iya Dek, nanti sore balik ke pesantren lagi."


"Oh gitu ya," Dea tersenyum kaku. "Aku ke kamar dulu," pamitnya.

__ADS_1


Ustadz Azmi dan Yuli hanya mengangguk heran, mereka berdua menatap Dea hingga hilang di balik pintu kamar yang ada di lantai dua.


"Kenapa Yuli?" Ustadz Azmi berbalik menatap sang adik, seakan meminta penjelasan.


"I—itu tadi, Adea membeli ..." Yuli menjadi gugup, wajahnya yang selalu menampakkan ketenangan kini di ganti dengan kegugupan.


"Yang jelas ngomongnya, ada apa? Kok kamu gugup Yuli." Ustadz Azmi menggelengkan kepalanya tak mengerti suasana.


"Tadi kami mampir ke apotek kak." Yuli menampakkan senyum semanis mungkin. Agar sang kakak tidak bingung.


"Apotek? Adek beli obat apa emangnya?" tanya ustadz Azmi semakin penasaran, sekaligus bingung. Obat apa yang di beli Dea di apotek?


"Bukan obat kak."


"Adea membeli test pack." Akhirnya Yuli mengeluarkan kegaduhan di dadanya. Rasa penasarannya mengapa Dea membeli test pack, padahal Dea sedang hamil. Memang sudah tak tertahan lagi.


"Adea kan hamil kak, terus untuk apa membeli benda itu?" tanya Yuli.


Ustadz Azmi tersenyum simpul, ia sudah tau ada yang di rencanakan oleh sang istri. Walau belum menanyakan langsung. "Nanti kakak tanyakan ya, kamu tenang saja."


"Iya, makasih kak. Aku kerumah sebelah dulu!"

__ADS_1


Ustadz Azmi mengangguk, lalu ia melangkah menuju kamar. Untuk menemui Dea.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Dek ...." Panggil ustadz Azmi, ketika tiba di dalam kamar.


"Ada apa?" tanya Dea masih pokus pada ponsel yang ada di genggamannya.


"Tadi Adek membeli test pack untuk apa?"


Dea menaruh ponselnya ke atas kasur, kemudian ia menatap wajah sang suami yang terlihat waspada. "Mau cek kahamilan, terus buat apa lagi."


"Adek kan sudah hamil, kenapa harus di cek lagi?" Ustadz Azmi tertawa kecil.


"Ada yang lucu ya?" Ketus Dea, walau tawa ustadz Azmi tanpa suara, tetap saja Dea bisa menebak bahwa suaminya tertawa. Karna ustadz Azmi tidak pernah tertawa lepas, cukup tertawa tanpa suara.


"Iya lucu aja Dek, semua orang tau kalau Adek itu udah hamil. Kenapa harus di cek lagi?"


"Tertawa aja terus." Tegur Dea melihat senyum ustadz Azmi masih terukir dengan indah.


"Iya iya mas gak ketawa lagi, sekarang jawab. Buat apa beli benda itu?" Ustadz Azmi kembali memasang wajah serius.

__ADS_1


"Aku membelinya untuk seseorang, jangan salah mengartikan. Mas pikir aku udah gila? Udah tau hamil masih saja membeli test pack."


"Maaf Dek, maka dari itu mas bertanya buat apa membelinya. Terus Adek belinya untuk siapa?"


__ADS_2