Cinta Seorang Ustadz

Cinta Seorang Ustadz
Alhamdulillah


__ADS_3

بسم الله الرحمن الرحيم


▪︎▪︎▪︎


“Gak usah malu Dek,” ustadz Azmi menggandeng tangan Dea keluar rumah Umma Sila menuju rumah mereka.


“Mas, donatur itu masih muda bangat ya? Aku lihat-lihat kayaknya dia suka sama Yuli deh.” Tutur Dea menyandarkan kepalanya di bahu ustadz Azmi yang sedang duduk di sofa ruang tamu.


“Pak Andre sudah punya istri Dek, masa dia suka sama Yuli.” Ustadz Azmi menatap ke dua bola mata Dea heran.


“Jadi dia sudah menikah? Aku pikir belum punya istri. Soanya tatapannya ke Yuli itu beda bangat saat dia menatapku. Aku rasa mereka cocok kok.” Dea membalas tatapan sang suami.


“Dia sudah punya istri Dek, gak ada orang yang mau di madu. Begitu pun dengan istrinya, walau mereka cocok tapi tidak mungkin untuk bersama.”


“Emang mas pernah bertemu dengan istrinya?” tanya Dea sembari memainkan jari-jarinya di atas dada ustadz Azmi.


“Iya, waktu mas pulang malam waktu itu. Pak Andre datang bersama istrinya,” jawab ustadz Azmi. Lalu ia menahan tangan Dea.


“Huhh dasar pria mata keranjang, sudah punya istri masih saja mengincar perempuan lain.” Gerutu Dea menarik tangannya dari genggaman ustadz Azmi.


“Awas aja kalau mas ke gitu, aku gak bakal layanin mas lagi. Ngerti?” ancam Dea sambil melototkan kedua matanya.


“Iya-iya sayang, gak bakal. Bagi mas satu sudah lebih dari cukup, jadi Adek gak bisa juga macam-macam.” Ustadz Azmi balik mengancam Dea.


“Gak kok, mas tenang saja.” Balas Dea di ikuti kecupan lembut di pipi dan bibi ustadz Azmi.


▪︎▪︎▪︎

__ADS_1


Sebulan berlalu, tepat hari ini genap empat bulan usia pernikahan Dea dan ustadz Azmi. Seiring dengan berjalannya waktu yang sudah empat bulan ini, Dea banyak berubah. Mulai dari cara bicaranya yang semula tidak bisa lembut kini sudah sangat lembut. Sudah tidak lagi membuka aurat jika bukan di depan ustadz Azmi.


Ia juga sudah bisa membaca Al-Qur'an, bahkan tanpa di suruh ia membaca Al-Qur'an. Ustadz Azmi sangat bersyukur, dengan perubahan sifat Dea.


“Duh, kok kepala aku pusing bangat.” Dea memegang kepalanya yang terasa berputar-puatar. Ia memejamkan mata sambil merabah kursi untuk mendudukan tubuhnya.


Bruk.


Tubuh Dea jatuh ke lantai, karena belum sempat mencapai kursi ia sudah lebih dulu pingsang. Umma Sila yang sedang menyapu di ruang tamu berlari menghampiri Dea.


“Asagfirullah, Nak Dea.” Panggil Umma Sila panik yang melihat wajah Dea begitu pucat.


“Abah, Abah ...” Teriak Umma Sila panik.


“Ada, apa?” tanya Abah Rahman yang tak kala panik. Melihat tubuh Dea yang tergetak di lantai dengan wajah yang begitu panik.


Abah Rahman dan Umma Sila membawa Dea ke klinik terdekat. Tiba di klinik Dea langsung di tangani, sedangkan Umma Sila menelpon ustadz Azmi memberitahu jika Dea ada di klinik yang tidak jauh dari rumah.


Tak beberapa lama kemudian, ustadz Azmi tiba dengan wajah yang penuh kekhawatiran. Karena ia tau bahwa Dea baik-baik saja.


“Assalamu'alaikum,” ucap ustadz Azmi.


“Wa'alaikum salam, Nak.” Balas Umma Sila dan Abah Rahman.


“Umma, Abah, kenapa Adek sampai pingsang?” tanya ustadz Azmi menghampiri Umma Sila.


“Umma juga tidak tau Nak, Umma sedang menyapu. Tiba-tiba Adea jatuh kelantai, dan tak sadar diri.” Jawab Umma Sila.

__ADS_1


Ustadz Azmi mengangguk, kemudian seorang perempuan keluar dari ruangan Dea. Ia tersenyum ke arah Umma Sila dan yang lainnya.


“Bagaimana Sus? Apa istri saya baik-baik saja?” tanya ustadz Azmi yang hendak masuk ke dalam ruangan Dea.


“Iya pak, tapi saya ingin berbicara dengan anda.” Jawab suster.


Ustadz Azmi membalikan badannya menghadap suster tersebut. “Ada apa ya sus?”


“Begini pak, istri anda hanya kelelahan. Jadi saya sarankan jangan dulu berhubungan untuk akhir-akhir ini. Jika kesehatannya sudah pulih baru itu bisa.”


“Iya sus, saya faham.” Ustadz Azmi tersenyum malu, memang akhir-akhir ini ia selalu meminta Dea untuk memenuhi keinginannya. Dan selama itu pula Dea tidak pernah menolak, walau ia lelah.


“Istri anda sudah sadar, hamil muda memang akan sering membuat seseorang lemah. Apalagi istri anda selalu melayani anda setiap saat.”


“Apa sus hamil?” tanya Abah, Umma, dan ustadz Azmi kaget.


Suster mengangguk. “Iya, jadi saya tekankan untuk menjaga kesehatannya.”


“Alhamdullih,” ucap mereka bersamaan.


“Terima kasih ya Allah, telah mengabulkan permintaan hamba. Dan telah memberikan hamba yang terbaik.” Lanjut ustadz Azmi dalam hati.


Setelah itu, mereka masuk ke dalam ruangan. Ustadz Azmi menghampiri Dea dan langsung mengecup kening Dea.


“Makasih Dek, sudah mau mengandung anak mas.” Ucap ustadz Azmi tersenyum lebar sembari mengelus pipi Dea.


“Iya mas,” balas Dea.

__ADS_1


__ADS_2