Cinta Seorang Ustadz

Cinta Seorang Ustadz
Ide konyol Dea (Part 2)


__ADS_3

بسم الله الرحمن الرحيم


▪︎▪︎▪︎


"Iya, mas penuhi keinginan Adek. Jangan nangis lagi," walaupun berat ustadz Azmi tetap memenuhi keinginan Dea.


Seketika Dea langsung menghentikan tangisannya. Sebenarnya ia hanya berpura-pura menangis, agar ustadz Azmi mau membantunya. Untuk menjalankan rencananya.


"Akhirnya, air mataku gak sia-sia juga." Batin Dea kesenangan.


"Kok malah senyum-senyum sendiri." Ustadz Azmi menatap Dea heran, tadinya menangis tapi sekarang malah tersenyum senang.


"Gak apa-apa, aku senang mas mau nurutin permintaan aku." Dea memeluk tubuh ustadz Azmi. Agar suaminya tak curiga kalau ia hanya pura-pura menangis saja.


Ustadz Azmi mengelus lembut punggung tangan Dea. "Ayo istrahat Dek, udah malam!" Dea mengangguk, lalu ia menggandeng lengan sang suami masuk ke dalam kamar.


▪︎▪︎▪︎


Malam jum'at telah tiba, seperti biasa ustadz Azmi berceramah di pesantren. Tapi kali ini ia di temani Habil bukan Dea, kebetulan Habil juga pernah menjadi ustadz pesantren tersebut. Jadi para santri sudah banyak yang mengenalnya.


"Alhamdulillah sudah selesai," Habil mengusap wajahnya tanda syukur ketika melihat ustadz Azmi berjalan menghampirinya.


"Iya, ayo pulang. Ada yang mau aku bicarain sama kamu." Ajak ustadz Azmi.


"Ayo!" seru Habil beranjak dari duduknya. Mereka berdua berpamitan pada para ustadz dan ustadzah lainnya.


Tiba di rumah Umma Sila, ustadz Azmi mendudukan tubuhnya pada salah satu kursi diikuti Habil di sampingnya.

__ADS_1


"Mau bicara apa Az?" Habil menatap ustadz Azmi.


"Begini Habil, apa tidak boleh rencana ta'aruf kamu sama Aleyna di batalkan saja?"


Habil kaget dengan ucapan ustadz Azmi, tiba-tiba saja pikirannya melayan pada masa lalu ustadz Azmi dan Aleyna. Dimana usia mereka sekitar 11 tahun, Aleyna berkata jika dewasa nanti ia akan menikah dengan ustadz Azmi. Namun, dengan cepat Habil menepis pikirannya sembari beristigfar.


"Kenapa seperti itu? Umma dan Abah sudah tau soal ini, mereka juga yang merencanakannya." Tutur Habil, karena ia sudah anak yatim piatu. Jadi Umma Sila dan Abah Rahman yang sudah mengatur semua.


Ustadz Azmi menghela napas, seakan mengerti dengan perubahan raut wajah Habil. "Ini semua kemauan Adek, jadi kamu gak usah khawatir."


"Apa? kemuan Dea?" Habil membulatkan matanya, bahkan suaranya agak sedikit meninggi. "Masa iya, Dea ijinin kamu menikah lagi."


Ustadz Azmi tertawa kecil, "Kamu aja yang mikirnya kejauhan."


"Lah terus? Bukannya kamu juga suka sama Aleyna ya?"


Ustadz Azmi menggeleng cepat. "Aku itu sukanya hanya pada Adek, dan gak mungkin aku menikah lagi."


"Adek ingin kamu menikah sama Ulma, dan Dion sama Aleyna. Katanya biar seimbang," akhirnya ustadz Azmi mengutarakan maksudnya.


"Gak bisa kegitu, bukannya Ulmayirah pacaran sama Dion itu?"


"Iya, tapi Adek pinginnya Dion sama Aleyna. Kamu ngerti kan maksud aku?" ustadz Azmi menepuk punggung Habil. Habil yang terbiasa dengan ajaran agama, tentun saja ia mengerti dengan kata seimbang yang di ucapkan ustadz Azmi.


"Tapi Ulmayirah sama Dion—" ucapan Habil terhenti, seakan tertahan di tenggorokannya.


"Apa?"

__ADS_1


"Lupakan saja, sudah malam Dea pasti sedang menunggumu." Tutur Habil.


"Iya aku duluan, asslamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Ustadz Azmi beranjak dari duduknya menuju rumahnya. Ia hendak membuka pintu, namun pintu sudah lebih dulu di buka oleh seseorang yang tak lain adalah Dea.


"Astagfirullah Dek," ustadz Azmi mengusap dadanya kaget.


Tanpa menjawab Dea langsung memeluk tubuh suaminya. "Gimana kak Habil setuju kan?" tanya Dea antusias, karena sejak tadi ia sedang memantau gerak-gerik ustadz Azmi dan Habil. Walau pun suara keduannya tidak sampai ketelinganya.


"Belum Dek, dia belum mengiyakan. Tapi Adek tenang saja, mas akan berusaha."


"Makasih masku sayang, ayo masuk. Aku udah buatkan susu untuk mas juga!" Dea melepaskan pelukan sang suami. Lalu ia melangkah menuju kamar diikuti ustadz Azmi dari belakang.


"Di minum mas, ini susu bukan khusus ibu hamil kok!" seru Dea yang melihat ustadz Azmi hanya memandangi segelas susu yang baru saja di serahkan.


"Bentar dulu Dek, mas ganti baju dulu." Ustadz Azmi kembali menaruh segelas susu ke atas nakas.


"Biar aku ambilin baju ganti." Ucap Dea, baru saja ustadz Azmi akan mencegah. Tapi jari telunjuk Dea sudah lebih dulu menyentuh bibirnya. Agar ustadz Azmi diam.


▪︎▪︎▪︎


Sekedar pemberitahuan.


'ana sudah mendapat visual yang cocok dari: Adea, Ulmayirah, Yuli, Aleyna, Ranty, Andre, dan Dion. Tapi visual ustadz Azmi sama Habil belum, soanya agak susah mencari visual yang cocok dengan karakter keduanya.

__ADS_1


Insya'allah jika sudah dapat yang cocok akan 'ana publikasikan.


Like, vote, tambahkan favorite. Jika anda suka novel ini!


__ADS_2