Cinta Seorang Ustadz

Cinta Seorang Ustadz
Bee?


__ADS_3

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته


Next ya.


Dan hari itu, menjadi hari paling bahagia bagi kedua pasangan tersebut. Ustadz Azmi dan Dea bersama keluarga menyambut hangat kelahiran anak pertamanya. Dea sudah di perbolehkan pulang ke rumah, tapi masih dengan kondisi yang lemah. Selang impus masih tertancap pada tanggan Dea.


Ustadz Azmi duduk di samping Dea sembari mengelus lembut wajah Dea yang terlihat pucat itu. Ia tak habis habis mengucapkan rasa syukur kepada allah swt, atas keselamatan istri dan putri kecilnya yang di beri nama Veyla Agha (Vey). Itu adalah nama yang di berikan Dea pada putrinya.


"Nak," terdengar suara dari balik pintu.


Ustadz Azmi beranjak dari duduknya menghampiri umma Sila yang sedang memanggilnya.


"Iya, umma."


"Makan dulu, umma sudah menyiapkan makan malam untukmu dan Dea."


Ustadz Azmi mengangguk sembari tersenyum, lalu berkata "Iya, umma. makasih!"

__ADS_1


Kemudian ia kembali menghampiri Dea, dan duduk di samping Dea Ditataplah wajah Dea yang terlihat begitu tenang. Ia mengingat yang di ucapkan Dea pas di klik, Aku mencintaimu mas. Rasa haru dan bahagia pun sudah menjadi satu, sebab rasa cintanya selama ini sudah terbalas.


"Hm..." Dea membuka matanya pelan, yang langsung di sugukan dengan senyum manis penuh ketulusan dari sang suami, ustadz Azmi.


"Anak kita mana, Bee?" tanya Dea melihat di sekitar kamar yang tak menemukan anak mereka.


Bukannya menjawab ustadz Azmi malah melongo, Bee? Kata kata itu berputar di pikirannya. Sejak kapan dia di panggil Bee? Kok bisa nama nya di ubah dengan sekejap?


"Bee,,,kok bengong sih?" lagi dan lagi kata Bee yang di lontarkan Dea.


Dea menggangkat sudut bibirnya, lalu berdecik. "Sekarang mas paggil aku bee, kalau gak sayang aja."


Raut wajah ustadz Azmi langsung berubah yang awalnya bingung kini jadi cerah, menahan tawa. Menurutnya lucu, pasalnya Dea mengungpkan perasaan cintanya, baru beberapa jam yang lalu. Tapi begitu cepat ia mengubah nama panggilan mereka sehari-hari.


"Panggil, Bee!" celetuk Dea lagi.


"Iya, Byby." balas ustazd Azmi.

__ADS_1


"Bee, bukan Bibi." Dea melirik ustadz Azmi dengan sinis.


Ustadz Azmi hanya bisa tersenyum menghadapi tingkah Dea yang baginya begitu menggemaskan. Akan tetapi di sisi lain ia juga agak kaku memanggil Dea dengan sebutan Bee. Maklum ustadz Azmi tidak pernah menggalamin masa masa romantis layaknya cowok pada umumnya. Ia baru bisa merasakan romantis baru sama istrinya ini, itu pun terkadang Dea yang bersikap romantis duluan.


"Iya, Bee!" ujar ustadz Azmi sambil tertawa, memperlihatkan giginya yang berjejer rapi. "Sebaiknya, istrahat dulu yang banyak bee. Nanti kalau udah pulih total baru kita bicarakan lagi soal nama paggilan ini ya."


"Aku baik-baik aja kok, cuma lemas dikit. Lagian cuma ganti sebutan aja susah," cibir Dea.


"Bukannya susah, belum terbiasa."


***


Segitu dulu ya man teman sekalian. Karna 2 tahun gak up 'ana juga butuh penyesuain alur ceritanya.


Jangan lupa like dan kalau ada typo di penulisan silahkan di komentari. Keluh kesah kalian tentang novel ini boleh di komen juga ya. Jangan lupa tambahkan kek favorite kalian biar 'ana up bakal ada notice (pemberitahuan) sama teman teman semua.


Like, koment, vote juga ya☺ and tambahkan favorite

__ADS_1


__ADS_2