
Di perjalanan menuju tempat tinggal Dea, suasana menjadi hening. Tak ada obrolan sama sekali, yang terdengar hanya bunyi motor. Ulma yang merasa bosan, ia mencari sensasi untuk mencairkan suasana di sore itu.
Bruk.
"Dasar, kenapa rem mendadak sih?" teriak Ulma kesal.
"Maaf, kalau saja tadi Yirah tidak memeluk saya, maka saya tak ada rem mendadak."
Ulma membulatkan matanya, sembari memandang punggung Habil yang membelakanginya. "Aku takut jatuh, jadi aku pegangan sama kamu. Tapi bukan berarti aku memelukmu."
"Sama saja Yirah, kamu tadi itu memeluk saya bukan pegangan. Kalau pegangan tak mungkin seerat itu."
Ulma menggeleng kepalanya, alasan apa lagi yang harus ia lontarkan?
"Aku belum pernah naik motor sebelum-sebelumnya. Jadi agak takut, gimana kalau aku bisa jatuh." Ulma membela dirinya, walaupun nyatanya ia sering naik motor dengan Dion. Bahkan setiap mereka jalan bareng Dion selalu menggunakan motor.
"Saya paham kok, tapi bisakah Yirah tidak memeluk saya kayak tadi? gak baik kalau di lihat sama orang."
"Aduh, salah benar cari sensasi pake meluk nih orang." Umpet Ulma dalam hati. "Bisa bangat, tapi jangan ngebut-ngebut ya."
"Pasti!" seru Habil.
Habil kembali melajukan motornya, dan kali ini Ulma sudah mengatur jarak. Ia sudah tak ada keberani memegang Habil, apalagi sampai memeluk Habil seperti yang ia lakukan barusan. Jika Dion yang di perlakukan seperti itu, sudah barang tentu ia akan di olok-olok hingga menangis. Namun kali ini, berbeda Habil bahkan tak menampakan tawanya.
"Untungnya dia beda sama Dion, kalau Dion sudag pasti aku di olok-olak lagi." Gumam Ulma, seraya turun dari motor.
Habil tersenyum tipis mendengar penuturan Ulma, ia dengar apa yang baru saja Ulma ucapkan. Jujur saja ia merasa lucu dengan gadis yang ada di depannya saat ini. Tapi ia tak tertawa atau apalah itu, cukup hanya tersenyum saja.
"Terima kasih banyak ya, udah nolongin aku." Ulma tersenyum lebar.
"Sama-sama, sudah sepantasnya kita harus saling membantu satu sama lain."
"Iya, sekali lagi makasih ya."
__ADS_1
Habil mengangguk, "Mobilmu tunggu aja, kalau sudah beres pasti akan di antar ke sini. Saya pamit dulu. Assalamu'alaikum," pamit Habil meninggalkan Ulma yang masih melongo melihat kepergiannya.
"Wa'alaikumsalam."
Dea yang ada di dalam rumah, langsung berlari keluar saat melihat keberadaan Ulma.
"Ulma ..." Teriak Dea.
Spontan Ulma sadar dari lamunannya, ia berbalik menghadap Dea beserta ustadz Azmi yang sudah ada di depannya.
"Dea aku rindu," ucap Ulma berhambur kepelukan Dea.
"Mana mobilmu? Kau kesini diantar atau gimana?" tanya Dea melepaskan pelukannya.
"Ceritanya panjang biar aku ceritaiin, tapi—" Jawab Ulma melirik ustadz Azmi sejenak.
"Tapi apa?" desak Dea.
"Sudahlah Dek, ajak Ulma masuk dulu. Pasti capek kan."
"Tuh benar kata kakak ipar, aku capek, haus, laper, juga mau mandi." Ulma mengibaskan rambutnya kebelakang.
"Ayo masuk," ajak Dea.
Dea mengajak Ulma masuk ke dalam rumah, sedangkan ustadz Azmi pergi ke mesjid.
***
Malam hari, usai sholat isya Dea dan Ulma duduk di ruang tengah. Ulma memanfaatkan kesempatan, ia menceritakan detail pertemuannya dengan Habil sore tadi. Jujur saja ia malu jika menceritakan semua jika ada ustad Azmi.
"Hahaha ...." Dea tertawa lepas, mendengar cerita Ulma.
"Ya'allah kamu malah ketawa sih." Ulma melempar selembar tissue ke wajah Dea.
__ADS_1
"Sumpah lucu bangat, emang kamu udah gak ada ide yang lain apa? Pake meluk kak Habil segala lagi." Ledek Dea.
"Abisnya gak ada cara lain buat cairkan suasana." Ulma tersenyum malu mengingat kejadian sore tadi.
"Tapi bukan dengan meluk juga kali, hahahaha...." Dea kembali tertawa.
"Kecilin dikit suaramu Dea, kalau di dengar orang gimana." tegur Ulma.
Dea mengangguk, suaranya sudah tak terdengar lagi. Namun ia masih tertawa.
"Kau juga tak ada bedanya sama aku," sindir Ulma.
"Sembarangan," tunjuk Dea pada Ulma.
"Sebelum kau menikah juga kegitu kan, sama kakak tingkat kita dulu." Ulma mengungkit awal mereka jadi mahasiswa.
"Lupaiin ahhh ... udah lama juga," Balas Dea songong.
"Walau udah lama tetap saja perlu di kenang."
Di tengah-tengah perbincangan mereka, Yuli datang. "Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam," jawab Dea dan Ulma barengan.
"Lagi bahas apa? kok kayak lucu bangat," tanya Yuli berjalan menghampiri Dea dan Ulma.
"Ini Ulma Salah meluk orang," jawab Dea terus terang diiringi tawa.
"Haa ...Salah meluk gimana maksudnya?" tanya Yuli kembali dengan senyum tipis, berasa lucu saat melihat Dea tertawa.
"Ulma tuh meluk kak Habil pas tadi mereka boncengan. Dia pikir kak Habil kayak sih Dion," Jawab Dea.
Mendengar jawaban Dea, Yuli ikut tertawa. Mereka tertawa bersama, Ulma hanya bisa pasrah di tertawakan saat ini.
__ADS_1