
Pagi hari seperti biasa, ustadz Azmi menjalankan rutinitasnya. Sedangkan Dea memutuskan untuk berkunjung ke rumah Paman dan Bibinya. Jarak antara rumah mereka cukup dekat. Namun, Dea jarang berkunjung. Karena sejak hamil, Dea tidak lagi di bolehin keluar rumah tanpa ada yang menemani.
Sesampainya di rumah Paman dan Bibinya, Dea di sambut hangat oleh Bibi Rani, juga Aleyna. Kebetulan hari ini, Aleyna tak ada kegiatan. Jadi ia hanya di rumah menemani ibunya. Sedangkan Paman Zaki tak ada di rumah.
"Bibi merindukanmu, Nak." Bibi Rani memeluk Dea penuh kasih.
"Aku juga merindukan Bibi," Dea pun balas memeluk Bibi Rani erat.
"Ehhh... Jangan erat gitu dong meluknya, kasian debaynya." Tegur Aleyna.
Mendengar teguran yang di lontarkan Aleyna, Dea pun segera melepaskan pelukannya dari Bibi Rani. Ia menjauhkan tubuhnya, walau sebenarnya ia masih ingin memeluk Bibi Rani lebih lama lagi.
"Azmi mana, Nak?" tanya Bibi Rani tak melihat keberadaan ustadz Azmi di antara mereka.
"Biasa Bi, Aku datangnya sendirian dari tadi lo." Jawab Dea.
Bibi Rani pun, mengangguk mengerti. Lalu beliau mengajak Dea sarapan bareng. Namun, Dea menolak ajakan sang Bibi. Sebab, tadi sebelum berangkat ia menyempatkan diri sarapan bareng suaminya.
"Dea bagaimana?" tanya Aleyna menghampiri Dea, setelah sarapan.
"Apanya yang bagaimana?" Dea balik bertanya, ia tak mengerti dengan arah bicara Aleyna.
__ADS_1
"Itu soal liburan, apa suamimu memberi izin?"
Dea tersenyum tipis, "gak di izinin kak, aku sama Yuli di larang."
"Yaudah kalau gak diizinkan pergi, jangan memaksa. Kakak bisa pergi sendiri kok, kakak mengajak kalian itu hanya buat nemanin kakak aja."
"Iya kak, aku ngerti."
***
Saat waktu pulang, ustadz Azmi tak menemukan keberadaan Dea di rumah. Begitu pun di rumah Umma Sila, pertanda bahwa Dea belum pulang dari rumah Paman dan Bibinya.
"Adek udah pulang?" tanya ustadz Azmi kaget saat melihat Dea sudah ada di belakangnya. Yang membuatnya tambah shock, Dea memeluknya dari belakang saat ini.
"Jawab salamku dulu," pinta Dea.
"Wa'alaikumsalam, maaf Dek, mas gak dengar salamnya."
"Mas udah tuli ya," Dea melepaskan pelukannya dari ustadz Azmi, seraya mundur selangkah menjauh dari jangkauan suaminya.
"Lah kenapa, Dek?" Ustadz Azmi menautkan alisnya heran.
__ADS_1
"Gak apa-apa, mas lanjutkan masaknya, aku mau mandi dulu." Dea melangkahkan pergi.
"Tunggu dulu Dek," cegah ustadz Azmi.
"Ada apa?" Dea membalikan badannya kembali menghadap sang suami.
"Adek udah makan apa belum? Kalau belum ayo makanlah, makanan sudah matang." Ustadz Azmi memindahkan sayuran yang baru saja ia masak ke piring, yang sudah di siapkan.
"Mmm ... aku masih kenyang kok." Ucap Dea kembali melangkahkan kakinya.
"Oh yaudah istrahat saja kalau gitu." Pinta ustadz Azmi.
"Hmm," dehaman Dea sembari melanjutkan langkahnya.
***
Seorang gadis berpakain mini berdiri di tepi jalanan, menunggu kendraan yang lewat. Namun, sudah sejam ia menunggu tak ada satu pun kendraan yang lewat. Gadis itu mondar mandir di tepian jalan dekat sawah. Perasaan was-was mulai tumbuh di benaknya, hari sudah mulai sore. Sedangkan dirinya hanya seorang diri.
"Assalamu'alaikum, ada yang bisa saya bantu, Mbak?"
"Wa'alaikumsalam." Gadis tersebut membalikkan badannya, menghadap pria berjubah putih di depannya.
__ADS_1