
Setelah semua clear, Sandi kembali pulang dengan mengendarai mobilnya menyusuri jalan raya, memilih lewat jalan tol, biar lebih cepat sampai. Karena harus segera mengurus banyak hal soal kepemimpinan nya yang akan di amanah kan pada pundaknya oleh sang papa.
Saat sampai di rumahnya, rumah sudah sepi.
Clara sudah tertidur dengan Dania.
Sandi langsung masuk ke kamarnya tanpa ingin menemui Clara.
Merebahkan tubuhnya di kasur empuk yang ada di kamar tamu.
Masih memikirkan perbincangannya dengan Risma dan Pandu.
Entahlah kenapa hatinya begitu sulit menerima, cinta yang dulu begitu besar dan kekaguman pada sosok Clara yang begitu dalam, menguap entah kemana, perasaan nya berubah jadi hambar, namun ada rasa tak tega ketika akan meninggalkannya. Memilih bertahan dengan separuh hati, itulah pilihan yang kini ada di pikiran Sandi.
Takut Clara akan kembali pada Pandu dan menyakiti Risma kembali, jika Sandi memilih melepaskan, jadi bertahan adalah solusi terbaik, meskipun jiwanya begitu hampa dengan perasaan yang hambar.
"Apa yang akan terjadi itu adalah takdir, aku hanya tak ingin salah dalam mengambil keputusan. Disini taruhannya adalah kebahagiaan Risma. Bisa saja Clara datang menemui Pandu dan meminta pertanggungjawaban. Dan aku harus mencegah itu terjadi." batin sandi dalam lamunannya.
Memejamkan mata dengan tubuh yang mulai lelah, berusaha untuk tetap bersikap baik baik saja demi kebaikan semua orang.
Menjalani rumah tangga yang penuh tekanan adalah sesuatu yang tak pernah terpikir olehnya.
Padahal saat pertama kali melihat Clara, kekaguman dan keinginan untuk memilikinya begitu besar, dan kini menguap begitu saja saat mengetahui jika Clara adalah wanita yang pernah memporak porandakan hati Risma yang sudah Sandi anggap sebagai saudara kandungnya.
Ketika rasa lelah sudah begitu membuatnya tak berdaya, akhirnya Sandi tertidur dalam pikiran yang tak bisa lagi dimengerti. Jalan satu satunya melepas bebannya dengan bersikap seperti yang di ingin hatinya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Clara terbangun di jam menunjukkan pukul empat pagi, saat adzan subuh mulai berkumandang.
Membersihkan diri dan menunaikan kewajiban dua rakaat nya.
Dania masih terlelap begitu pulsanya, setelah selesai menunaikan kewajibannya, Clara pergi ke dapur, berniat membantu pembantunya menyiapkan sarapan.
"Mau masak apa Bu?" tanya bi Marni saat melihat Clara datang.
"Apa saja bi, lagian cuma kita kan.
Aku apa aja doyan." sahut Clara tersenyum ramah, gak pernah canggung bersikap baik dengan pembantunya.
__ADS_1
"Kan pak Sandi sudah pulang, Bu!" sahut BI Marni menatap Clara dengan dahi mengerut.
"Loh iya kah, Bi? kok aku gak tau.
Emang semalam mas Sandi pulang jam berapa?" tanya Clara kecewa, karena Sandi tidak membangunkan dirinya, merasa tak dianggap keberadaan nya sebagai seorang istri.
"Sudah larut kok, jam sebelas malam lebih.
Mungkin pak Sandi mau bangunkan Bu Clara gak enak, kasihan, kan sudah tidur nyenyak gitu!" sahut Bi Marni tersenyum, paham dengan perubahan wajah Clara yang terlihat murung.
"Iya, Bi!" jawab Clara singkat dengan memaksakan untuk tersenyum, menutupi rasa nyeri di hatinya yang kian menghujam.
"Masak rendang saja ya Bu, Pak Sandi sangat suka kalau dimasakin itu, nanti buat non Dania bikin SOP daging saja. Gimana?" Bu Marni meminta persetujuan Clara dengan ide masakan pilihannya.
"Iya, Bi! itu juga boleh. Aku juga ingin bikin Cha sawi setengah masak. Pasti enak buat sarapan.
Di kulkas ada kan sawi hijaunya?" sahut Clara mencoba menata kembali hatinya agar tidak larut dalam rasa sedih oleh sikap Sandi yang tak kunjung berubah.
"Ada kok Bu, masih seger seger, kemarin bibi baru beli di mang sayur!" sahut Bu Marni dan membuka kulkas untuk mengambil bahan bahan yang dibutuhkan.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Semua masakan sudah tersaji di atas meja makan, dengan beberapa menu yang dibuat Bi Marni dan Clara. Rendang, sop daging, Cha sawi jadi menu pilihan untuk sarapan pagi ini.
"Wah anak bunda sudah bangun, minum susu habis itu kita mandi ya!" Clara mengajak bicara anak balitanya dengan perasaan bahagia, Dania tumbuh sangat baik, tubuhnya yang gembil dan sudah mulai bisa mengoceh, membuat Clara semakin gemas dengan pertumbuhan anaknya.
"Pulang jam berapa Mas?" Clara menatap Sandi yang sudah duduk di kursi meja makan dengan tenang.
"Jam sebelas kalau gak salah, kalian sudah tidur. Jadi gak enak kalau mau bangunin!" sahut Sandi santai tanpa melihat ke arah Clara yang tengah menatapnya dengan rasa kecewa.
"Dania mana?" Sandi justru menanyakan keberadaan Dania dan dengan tetap fokus mengunyah makanan di dalam mulutnya.
"Ada sama Bi Marni di taman belakang.
Mas Sandi hari ini kerja?" Clara berusaha untuk mendekatkan diri dan membangun keakraban dengan laki laki yang sudah berstatus suaminya.
"Iya, hari ini aku akan mengundurkan diri dari kantor. Karena papa memintaku untuk memegang kantor cabang yang ada di Surabaya. Sudah saatnya aku ikut andil di dalam bisnis keluargaku. Dan kamu harus siap, kalau akan sering aku tinggal, karena pekerjaanku akan begitu menguras waktu." sahut Sandi santai tanpa sedikitpun ada beban, padahal Clara langsung dibuat terkejut dengan apa yang Sandi sampaikan.
"Mas! Apa kita akan terus seperti ini?" tanya Clara memberanikan diri mengungkapkan isi hatinya.
__ADS_1
"Maksud kamu?" Sandi mengerutkan wajahnya bingung dengan apa yang Clara maksud.
"Sampai kapan kamu akan bersikap dingin, jujur aku mulai merasa tak ada artinya sama sekali disini, seolah keberadaan ku, tidak pernah kamu anggap ada. Aku kecewa, rasanya sakit sekali!" keluh Clara yang tak bisa menyembunyikan kesedihannya akan sikap Sandi yang terlalu cuek padanya.
"Semua akan berjalan baik baik saja Clara, percayalah. Mulai malam ini, kita akan tidur sekamar. Minta Bi Marni untuk memindahkan barang barang ku ke kamar atas lagi." sahut Sandi dengan ekspresi yang tak bisa di tebak.
Clara menatap tak percaya ke arah Sandi, hatinya kembali merasakan getar bahagia.
"Apa kamu yakin, Mas?" sahut Clara dengan binar bahagia.
"Iya, kita akan mencoba hidup normal selayaknya Pasangan suami istri.
Habis ini aku akan langsung pergi ke kantor ya, mungkin aku pulang agak telat." Sandi menjawab dengan wajah datarnya, namun Clara berusaha menepis prasangka buruk di hatinya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Kasih sayang yang salah
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
__ADS_1
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
Happy ending ❤️