
"Kuatkan hatiku ya Tuhan, untuk melewati ujian ini. Hijrah ini begitu berat, karena aku sadar aku hanyalah wanita pendosa dan berkubang dosa. Ijinkan aku kembali pada jalan MU, jalan yang ENGKAU meridhoi, Aamiin!" Lirih Erna menguatkan dirinya sendiri dan memilih tidak mendengarkan komentar komentar miring dari orang orang yang tak menyukai perubahan dirinya.
Erna menganggap semua itu ujian yang harus Erna lewati dan tak harus melemahkan niatnya.
"Aku harus bisa!
Aku mampu ya Tuhan, Bismillah!" Erna terus bicara sendiri di dalam hatinya, menguatkan dirinya sendiri dan meneguhkan niat nya.
Erna meletakkan kopernya begitu saja di apartemennya, menghubungi salah satu sahabatnya yang memiliki profesi saja dengannya, seorang model cantik yang berusia dibawahnya Erna, namun mereka sering menghabiskan waktu bersama, karena merasa sama sama kesepian dan merasa sendiri di dunia ini.
Arin, model cantik yang masih berusia dua puluh lima tahun, sejak SMU memilih hidup sendiri, menjauhkan diri dari orang tuanya yang bercerai dan sudah sama sama menikah lagi, sehingga mereka sibuk mengurusi keluarga barunya dan Arin tidak pernah lagi dianggap, sehingga Arin memutuskan pergi dan mencari kehidupannya sendiri.
Awal pertama Arin keluar rumah tak memiliki tujuan, hingga Atin bertemu dengan Erna yang mau menolongnya, memberikan tumpangan dan memperlakukan Arin seperti adiknya, hingga Arin memutuskan untuk menggeluti dunia yang sama dengan Erna, yaitu menjadi model panas di usianya yang masih belia.
Setelah Arin memiliki penghasilan sendiri, dengan dalih tak ingin merepotkan, Arin menyewa apartemen sendiri dan mulai hidup mandiri dengan penghasilan uang ia dapatkan.
Erna ikut senang melihat Arin yang sudah bisa bangkit dan menghidupi dirinya sendiri.
"Hallo, Rin?
Kamu sibuk gak hari ini?" sapa Erna saat sambungan teleponnya di angkat oleh Arin diseberang sana.
"Gak kok, mbak!
Mbak Erna sudah di Jakarta lagi?" sahut Arin senang mendengar suara Erna yang hampir dua Minggu tidak pernah berkirim kabar, hilang begitu saja.
"Iya! Aku baru saja sampai.
Kalau kamu gak sibuk, kemarilah.
Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan. Karena besok aku akan pergi ke Bandung, mungkin dalam waktu cukup lama, aku juga gak tau sampai kapan disana." Erna mengatakan niatnya pada Arin yang tengah terlihat mengerutkan wajahnya, meskipun tidak terlihat oleh Erna, Arin merasa ada sesuatu yang terjadi dengan diri Erna.
"Mbak Erna gak papa?
Mbak baik baik saja kan?" sahut Arin yang mulai meras cemas dengan suara serak dan lembut dari Erna. Karena biasanya Erna paling suka bicara black blakan dengan nada kasar dan terdengar keras.
"Aku baik baik saja kok, insyaallah lebih baik dari yang sebelumnya.
__ADS_1
Kamu kemarilah, Rin! Aku tunggu sekarang ya! Asalamualaikum!" Erna mematikan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Arin lebih dulu.
Erna yakin, Arin pasti akan datang menemuinya.
Dan Erna mulai memilih baju bajunya yang akan dibawanya kerumah budhenya yang ada di Bandung. Hanya beberapa baju saja, itupun yang terlihat sopan dan tertutup.
Erna juga membawa buku tabungan dan barang barang berharganya.
"Apa aku jual saja ya perhiasan ini?
Aku akan sisakan beberapa saja untuk dipakai, lainnya lebih baik aku jual dan uangnya aku masukkan ke dalam tabungan. Untuk biaya hidup saat aku akan berada di pondok untuk menuntut ilmu." gumam Erna menatap kotak perhiasan miliknya yang penuh dengan perhiasan perhiasan emas yang cantik-cantik.
Lalu Erna mulai memilih beberapa perhiasan untuknya disimpan, tiga cincin, dua kalung, dua gelang, itu saja! Dan sisanya Erna masukkan lagi ke dalam kotak beserta surat suratnya. Erna memutuskan untuk menjualnya saja dan dijadikan uang agar bisa ditabung, karena setelah ini, dirinya akan benar benar meninggalkan hidupnya yang bebas yang penuh dengan gemerlap. Erna akan merubah hidupnya menjadi pribadi yang lebih baik. Meninggalkan dunia modelling nya dan menjauhi seorang santri di salah satu pondok.
Saat Erna melamun, bel apartemennya berbunyi, Erna tau siapa yang datang. "Pasti Arin." gumamnya tersenyum.
Erna berdiri dan membuka pintunya, terlihat Arin dengan senyum manisnya, tangannya membawa bungkusan yang berisi makanan.
"Mbak, apa kabar?
"Ayo masuk, kita ngobrol di dalam!" Erna kembali menutup pintunya setelah Arin masuk kedalam.
"Aku bawain pizza sama martabak ketan hitam kesukaan mbak! Ayo dimakan, mumpung masih anget!" Arin membuka bungkusan kresek dan mengeluarkan dua kotak yang berisikan pizza dan martabak manis.
Mereka menikmati dengan saling mengobrol santai. Erna masih belum membahas tujuannya meminta Arin menemuinya.
"Mbak Erna mau ke Bandung?
Ada acara apa?" Arin membuka obrolan lebih dulu, karena sedari tadi sudah penasaran dengan yang Erna ucapkan sewaktu ditelepon.
"Iya. Insyaallah besok berangkat. Aku mau kerumah budeku dan ingin mencari ilmu ke pondok yang tak jauh dari tempatnya budhe." sahut Erna santai namun sangat yakin dengan yang apa dia ucapkan. Membuat Arin langsung tersedak dan matanya membulat tak percaya menatap Erna yang justru tersenyum.
"Apa aku gak salah dengar mbak?
Pondok?
mbak Erna mau mondok?
__ADS_1
Serius?" Arin dengan wajah serius dan masih belum percaya, menatap Erna penuh selidik, sampai sampai Arin pindah tempat duduk di dekat Erna dan menatap dalam ke arah wanita yang sudah banyak berjasa membantunya itu.
"Yakin, bahkan sangat yakin. Aku nyaman dengan diriku saat ini. Aku sudah terlalu lama tersesat hanya karena rasa sakit masa lalu ku. Sekarang sudah saatnya aku menjadi diriku yang lebih baik. Aku gak mau begini terus, Rin. Pertemuanku dengan sahabat lamaku di Surabaya kemarin, sudah menyadarkan aku dari jalanku yang salah. Aku ingin mencari ketenangan dan kebahagiaan ku dengan menggapai ridho dariNYA." sahut Erna tenang dan membuat Arin semakin tak percaya, sampai mulutnya terus saja terbuka dengan mata yang membulat, Arin benar benar dibuat shock dengan pengakuan Erna yang tiba tiba, meskipun di dalam hatinya, Arin juga ikut bahagia sekaligus terharu dengan perubahan Erna yang selama ini dinilainya memiliki kepribadian ganda. Sulit terkontrol saat emosinya mulai meledak, Erna akan jadi pribadi yang sangat mengerikan.
"Jangan mangap kayak gitu, aku sudah yakin dengan keputusan ini, makanya aku menyuruh kamu kemari. Ambillah semua baju bajuku yang di lemari, itu kalau kamu gak keberatan. Kalau gak mau, kamu bisa kasihkan ke yang mau saja.
Banyak yang belum kepakai dan masih terbungkus plastik, karena sekarang aku tidak membutuhkan pakaian pakaian itu." Erna dengan sikap tenang mengungkapkan apa yang ada di pikirannya, dengan sambil terus mengunyah martabak ketan hitam kesukaannya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Kasih sayang yang salah
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
Happy ending ❤️
__ADS_1