
"Iya, ma! Risma mau menginap dua hari disini. Boleh kan?" sahut Risma menahan tangis, teringat dengan perlakuan Pandu yang berbanding terbalik dengan orang tuanya. Mertuanya begitu menyayangi Risma.
"Alhamdulillah, kebetulan sawahnya Pandu juga besok itu mau panen, jadi kamu disini, nanti biar kamu yang mengawasi penjualan hasil panennya."
Bu Sonia mengatakan apa yang sebenarnya menjadi tujuan Risma datang, sebelum bertanya ternyata mertuanya sudah membuka apa yang sudah disembunyikan suaminya selama ini. "Kena kamu mas." batin Risma lega, karena tidak perlu repot repot mencari kalimat untuk mengungkap harta suaminya yang belum Risma tau.
"Panen?"
Risma mengerutkan dahinya, menampakkan wajah bingung di depan sang mertua.
"Loh, apa selama ini Pandu tidak pernah cerita, kalau dia membeli sawah disini?
lumayan luas loh. Setiap panen hasilnya lumayan, bisa dua puluh sampai dua puluh lima juta. Sudah lima kali panen ini." Bu Sonia menerangkan apa yang beliau tau pada menantunya, menatap heran pada Risma yang terlihat bingung.
"Apa kamu gak tau to nduk,
Suami kamu punya beberapa usaha disini?
Ada cafe buat nongkrong anak anak muda, di pegang sama Permadi kakaknya, terus juga ada ternak ikan lele yang ditaruh dibelakang rumah, mungkin ada sekitar seratus ribuan ekor.
Gimana to Pandu itu, masak sama istri kok gak terbuka." Bu Sonia mengatakan semua pada Risma dan tidak ada yang ingin ditutupinya.
Bu Sonia berusaha untuk menahan dirinya, untuk tidak menceritakan soal pernikahan nya Pandu, sebelum Risma menanyakan nya sendiri.
"Risma gak pernah tau, Ma. Mas Pandu tidak pernah bilang. Tapi sekarang Risma tau dari mama. Makasih ya, Ma!" Risma tersenyum dan dengan sekuat hati menahan tangis yang sudah ingin keluar.
"Kamu wajib tau nak, kamu istrinya. Ada hak kamu dan anak anak di hartanya Pandu. Nanti mama akan tegur Pandu, kenapa dia tidak memberitahu kamu hal sepenting ini." sahut Bu Sonia lembut, dan mengusap bahu menantu nya penuh kasih sayang.
"Kalian makan dulu, tadi mama sudah minta tolong sama Permadi untuk membeli sate sama gulai. Itu orangnya sudah datang." sambung Bu Sonia dengan tatapan penuh kasih sayang pada Risma.
"Ajak sekalian mbak Romlah dan itu Mas siapa namanya?" Bu Sonia mengalihkan pandangan pada Waluyo yang sedari tadi lebih memilih diam, sibuk dengan ponselnya.
"Waluyo." sahut Waluyo sopan dan dibalas anggukan ramah oleh Bu Sonia.
"Yuk, langsung kebelakang saja." ajak Bu Sonia dengan menggandeng tangan Risma. Sedangkan Cinta dan Galang sudah bergelayut di tangan pakdhenya.
Semua menikmati makanan yang dihidangkan dengan khidmat, tidak ada satupun yang bersuara hingga makanan yang ada di piring masing masing habis.
__ADS_1
"Pandu kemana? kok belum ada kelihatan."
Permadi menanyakan keberadaan Pandu, karena sejak dia datang, tidak melihat Pandu, Padahal, semalam Pandu menelepon kalau akan pulang.
"Mas Pandu ada tugas di luar kota, Mas! Sahut Risma tenang, dan menatap dalam pada kakak iparnya yang terlihat mengernyit bingung.
"Tugas luar kota, semalam dia telpon kalau akan pulang kok, apa mungkin dari luar kota langsung kesini nantinya." sahut Permadi santai dan tidak berpikir macam macam tentang adiknya.
"Owh iya, kamu naik mobil putih itu, Ris?" Sambung Permadi melanjutkan obrolannya.
"Iya, Mas!" sahut Risma sopan dan singkat.
"Lebih baik kita lanjutkan ngobrolnya diruang tengah saja, biar lebih enak dan santai.
Mbak Romlah tolong temani anak anak ya, ajak ke kamar yang sebelah tangga.
Dan buat mas Waloyo, kamarnya ada di ujung, kalau mau istirahat, gak usah sungkan. Anggap rumah sendiri." sambung Bu Sonia ramah.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Risma, Permadi dan Bu Sonia berjalan menuju ruang keluarga, dan duduk di lesehan yang diberi alas karpet empuk.
"Nduk, kamu baik baik saja?" dengan lembut Bu Sonia mengusap punggung tangan menantunya. Bu Sonia tau, kalau anak laki lakinya sudah berbuat salah pada menantu kesayangannya.
"Tidak, Ma!
Risma sudah tidak sanggup lagi, Ma!
Risma lelah menghadapi anak mama, dan Sekarang Mas Pandu justru menikahi perempuan masa lalunya. Maafkan Risma, Ma! Risma sudah. benar benar lelah." Risma menjawab dengan suara yang bergetar.
"Mama tau, nak!
Maafkan mama yang tidak bisa mencegah keinginan Pandu untuk menikahi wanita itu, maafkan mama.
Tapi mama ada di pihak kamu. Bertahanlah demi anak kalian.
Besok sawah akan panen, ambil uangnya, simpan untuk masa depan anak anak. Dan untuk cafe yang dikelola Permadi, kamu bisa langsung bicara dengan Permadi, ambil alih keuntungannya, sebelum Pandu menyerahkan pada istri keduanya." Bu Sonia menatap iba pada Risma yang sudah terisak. Meskipun Pandu anaknya, Bu Sonia tidak akan membela jika memang Pandu bersalah.
__ADS_1
"Apa kamu ingin menemui Pandu di rumah istri sirinya?
Aku akan mengantarkan kamu, kalau kamu menginginkannya." sahut Permadi dengan wajah serius, karena Permadi dari awal menentang keputusan Pandu.
Risma tak bisa berkata kata, hanya air mata yang terus mengalir, tidak menyangka, keluarga suaminya begitu perduli dan berada di pihaknya.
Bu Sonia merengkuh tubuh Risma yang terguncang sebab menahan tangis agar tidak bersuara, takut anak anaknya akan mendengar tangis nya.
"Aku ingin bertemu mereka, Mas!
Ingin tau apa yang akan mas Pandu katakan saat aku ada dihadapan nya, saat dia sedang menikmati waktu bersama wanita lain dengan dalih dinas luar kota." Risma menatap kosong bersama perih yang menyayat hatinya. Berusaha sekuat apapun tetaplah dia wanita yang rapuh saat dihadapkan pada sebuah pengkhianatan.
"Baiklah, nanti habis sholat magrib, aku akan mengantarkan kamu ke rumah perempuan itu.
Tapi, apa kamu yakin?
Jika iya, siapkan hati dan mental kamu.
Ambilah rumah itu, rumah yang ditempati perempuan itu, karena rumah itu dibeli dengan uang Pandu." Balas Permadi tegas dengan wajah datarnya. Permadi begitu membenci perselingkuhan, karena dulu rumah tangganya hancur juga karena ulah istrinya yang berselingkuh dengan atasannya di kantor.
"Baik, Mas. Terimakasih!
Insya Allah aku yakin dan insya Allah aku siap!
Terimakasih, mama dan Mas Permadi sudah mau membantu Risma!"
Bu Sonia memeluk Risma erat dan ikut terisak, kecewa karena ulah anak laki lakinya. Namun. Bu Sonia juga tidak mau ikut masuk dalam permasalahan rumah tangga anaknya terlalu jauh, hanya sekedar memberi jalan, nasehat dan rangkulan.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Risma yang ditemani kakak iparnya, meluncur ke tempat, dimana Pandu dan Clara sedang berbagi peluh dengan begitu panasnya, bahkan seolah tidak punya rasa lelah, sehingga terus ingin mengulanginya.
Risma selama dalam perjalanan terus menguatkan hatinya, Berdoa semoga mampu berdiri tegap tanpa air mata saat melihat suaminya dalam pelukan wanita lain dengan mata dan kepala nya sendiri.
Risma semakin gemetar dengan jantung yang berdetak kencang, saat mobil yang dikendarai kakak iparnya berhenti di depan rumah minimalis yang terlihat mewah dari luar.
"Keterlaluan kamu, Mas!" batin Risma semakin meradang, kebencian dan amarah telah menumbuhkan kekuatan dirinya untuk melangkah tegap, menemui pasangan yang ada di dalam rumah tepat di hadapannya.
__ADS_1
"Kamu siap?"
Permadi memastikan sekali lagi keyakinan Risma sebelum kakinya melangkah masuk ke dalam halaman rumah yang terlihat indah dan elegan.