
"Clara, stop!
Jangan bicara kasar tentang Risma. Dia begitu karena dia merasa kita mengkhianatinya. Dia perempuan baik dan istri yang lembut selama ini, perubahan sikapnya karena aku sudah banyak melukai hatinya. Jadi tolong, jangan bicara kasar, aku gak suka itu!" Balas Pandu sedikit keras, karena bagaimanapun Risma istri yang baik untuknya selama ini. Ada rasa tak rela jika ada yang menjelekkan di depannya.
"Kamu membelanya, Mas?
Jahat kamu!" Clara lari kedalam kamar setelah mengucapkan rasa kecewanya karena Pandu membela istri pertamanya. Menutup pintu dengan keras dan terisak di dalam sana.
Pandu hanya bisa membuang nafasnya kasar dan memilih melangkah pergi kerumah mamanya.
Tak perduli dengan Clara yang merasa terluka dengan sikapnya.
Meninggalkan halaman rumah mewah yang dibelinya untuk mahar istri keduanya, melajukan mobilnya kencang, agar cepat sampai di rumah orang tuanya. Selama diperjalanan jantungnya berdetak kencang, pikirannya kacau dengan bayangan wajah Risma yang begitu tenang namun menyimpan kebencian di sorot matanya yang tajam.
Sedangkan Clara terisak makin kencang saat melihat kepergian Pandu yang bahkan tidak mau menenangkan dirinya yang tengah kecewa.
Di balik jendela kamarnya, Clara mengintip kepergian laki laki yang begitu dicintai nya. Rasa sesak langsung menghimpit dadanya, Pandu seolah sangat takut dengan amarah istri pertamanya.
"Kamu bilang, kamu tidak mencintainya.
Kamu bilang, kamu hanya sekedar menjalankan peranmu sebagai seorang suami. Tapi, aku bisa melihat sorot luka dari matamu, Mas. Kamu menaruh rasa pada Risma. Bahkan aku bisa melihat ketidakberdayaan mu menghadapi istri pertama kamu itu. Aku yakin kamu akan tunduk dengan mau istrimu itu. Padahal kamu pun sudah tau, kalau dia perempuan serakah yang hanya ingin menguasai harta kamu, tapi kenapa kamu masih mempertahankan dia. Aku kecewa sama kamu, Mas! Aku kecewa!"
Clara terisak dalam tangis akan rasa kecewanya terhadap sikap Pandu. Namun tak ada yang bisa dia lakukan selain diam dan menerima.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Pandu memarkirkan mobilnya di samping mobil Risma, menatap ragu rumah bercat coklat dengan gaya Jawa yang kental. Perasaan campur aduk telah menemani langkah pandu memasuki rumah yang penuh kenangan.
Sepi, namun terdengar sayup suara isak tangis dari arah ruang keluarga. Dengan langkah tegap Pandu langsung mengayunkan langkahnya ke arah sumber suara dengan pikiran tak karuan, tiba tiba hatinya terasa nyeri dan sesak, bayangan wajah Risma terus mengganggu konsentrasinya.
__ADS_1
"Asalamualaikum." Pandu mengucap salam dengan suaranya yang sedikit bergetar, menatap wanita yang sedang ada di pelukan ibunya dengan Isak tangis yang tertahan.
"Waalaikumsallm." semua menatap Pandu dengan tatapan tak biasa, apalagi dengan sorot tajam Bu Sonia yang jelas menunjukkan kekecewaannya terhadap sang anak yang sudah begitu ia banggakan.
"Duduk!" perintah Permadi ketus dengan sorot tak suka menatap adik satu satunya.
Pandu menghirup udara dengan kasar, melangkah menjemput tangan sang ibu dan menciumnya takzim. Lantas memilih duduk tak jauh dari sang istri yang sedang berusaha menenangkan dirinya dengan segera menghapus sisa air mata, tak ingin Pandu melihatnya rapuh.
"Pandu! Mama sangat kecewa sama kamu!
Harusnya kemarin kamu dengarkan omongan mama, dan keadaan ini tidak akan terjadi. Kamu sudah begitu menyakiti hati istri kamu.
Mama ingin tau, apa sebenarnya yang kamu cari dari perempuan itu?
Masalah Cantik, Risma sangat cantik!
Masalah tubuh, Risma masih segar dan berisi.
Mama benar benar kecewa sama kamu!" Sungut Bu Sonia kesal dengan tingkah anak keduanya.
Pandu tidak bisa berkata apa apa di hadapan ibunya. Dari dulu Pandu begitu menghormati sang ibu, tak pernah sekalipun berani menyanggah ucapannya saat dirinya benar benar sudah melakukan kesalahan.
"Langsung pada intinya saja.
Risma, katakan apapun yang menjadi keinginan kamu. Sebagai istri sah kamu berhak mengungkapkan bahkan menuntut tanggung jawab suami kamu yang sudah berbuat curang ini.
Jangan takut, kami tidak pernah membela sebuah kesalahan. Katakan saja di depan kami, biar kami juga tau, apa yang akan menjadi keputusan Pandu. Apakah dia akan bisa bersikap bijak, atau justru sebaliknya!" Permadi ikut menimpali, masih dengan gayanya yang dingin dan sangat tegas dalam setiap ucapannya.
Risma mengatur nafasnya yang sempat sesak.
__ADS_1
Berusaha mengumpulkan kekuatan untuk kembali bersikap baik baik saja. Memperjuangkan haknya sebagai istri sah dan menuntut apa yang seharusnya menjadi milik anak anaknya.
"Terus terang, aku sangat kecewa dengan penghianatan kamu, Mas!
Aku bisa kuat dan aku masih bisa sabar dengan sikap dingin kamu selama ini. Semua itu aku anggap ujian untukku, ujian untuk memperjuangkan hati kamu, aku berusaha mati matian menahan perih setiap kali kamu menolak ku, setiap kali kamu mengabaikan keberadaan ku, aku masih bisa terima dan aku tetap menghargai dan tetap patuh padamu.
Akan tetapi, saat perselingkuhan kamu dengan wanita itu aku ketahui, tak ada lagi kalimat yang bisa terucap untuk mewakilkan rasa sakit hati ini.
Semua menjadi gelap, dingin dan sulit.
Aku memutuskan berhenti, berhenti dari mengharapkan mu, dan berhenti untuk memperjuangkan cintamu.
Aku capek, lelah, lelah sekali!"
Risma tak mampu meneruskan ucapannya, meskipun sudah berusaha menahan untuk tidak menangis, tetap saja air mata itu lolos begitu saja. Tetes demi tetes jatuh membasahi wajah ayunya.
Bu Sonia tak bisa menahan diri untuk tidak menangis, direngkuhnya tubuh Risma dalam pelukannya, mengusap bahunya lembut dan membisikkan kalimat kalimat yang menumbuhkan kekuatan di hati sang menantu.
Pandu tertegun, tak mampu berucap sepatah kalimat pun, dia seperti pesakitan yang sedang menunggu keputusan sidang.
Sedangkan Permadi berusaha mengatur nafasnya, menahan kesal pada adik lelakinya, yang ternyata sudah sangat bersikap keterlaluan pada istrinya.
"Lebih baik kita akhiri pernikahan ini , Mas!" Lanjut Risma dengan mengusap air matanya menahan perih yang tak terkira. Sakit dan teramat sangat sakit.
"Nduk, jangan bicara perpisahan. Pikirkan anak anak, mental mereka akan terganggu dengan perpisahan orang tuanya. Mama tidak setuju kalian berpisah, Pertahankan hak kamu, kamu kuat, kamu bisa nduk!" sahut Bu Sonia lembut dan tak rela kehilangan menantu sebaik Risma.
"Aku akan menuruti keinginan kamu, Ris!" Sahut Pandu dengan nada bergetar, rasa bersalah namun tak bisa memperbaiki kesalahannya. Hanya satu kata yang tersemat untuk seorang Pandu. Egois!
"Apa katamu?
__ADS_1
Apa kamu sudah tidak bisa berpikir jernih, akalmu sudah tidak berfungsi lagi?
Sampai sampai kamu memilih berpisah dan menghancurkan harapan seorang ibu, Pandu, jangan gila kamu!" Sahut Permadi emosi, kedua tangannya terkepal erat, ingin sekali memukul adiknya yang sudah tidak bisa berpikir sehat.