Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain

Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain
Kamu akan hancur oleh penyesalan kamu Mas!


__ADS_3

"Berikan uang seharga rumah itu, untuk istri kamu! Kalau tidak, aku sendiri yang akan bertindak untuk mengambil rumah itu dari selingkuhan kamu!" Permadi menyorot tajam pada Pandu yang terlihat kaget dan terlihat frustasi dengan mengusap wajahnya kasar. Pandu tau, jika kakaknya tidak pernah main main dengan ucapannya.


"Aku tidak punya uang sebanyak itu, Mas!


Jangan buat aku gila dengan tuntutan kalian yang tak masuk akal ini!


Semua sudah aku berikan untuk Risma dan anak anak, apa masih kurang itu semua?" Pandu meninggikan suaranya. Benci, kesal, kalut dan segala rasa bercampur menjadi satu di hatinya yang menyebabkan dadanya merasakan sesak.


"Kamu lupa, sedang bicara dengan siapa, Pandu?


Permadi Aditama. Jadi jangan pernah menunjukkan kebodohan itu di hadapan ku!


Apa kamu ingin, aku sendiri yang mencari kebenarannya dengan mengobrak abrik rekening kamu?


Atau aku yang datang menemui selingkuhan kamu dan menarik paksa sertifikat rumah itu dan mempermalukan nya di depan umum?


Apa kamu ingin kakakmu ini melakukan hal gila itu?" Permadi menyahuti dengan tatapan tajamnya dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celananya.


"Baiklah, aku akan transfer uang itu ke rekening Risma sesuai harga rumahnya Clara, tapi harus ke Bank dulu, karena memindahkan uang sebanyak itu tidak bisa sekali dua kali tarik." Sahut Pandu lesu, wajahnya memucat seiring gemuruh di dalam dadanya.


Risma tersenyum penuh kemenangan, tidak menyangka kakak iparnya begitu membelanya, karena bisa saja, Mas Permadi membela Pandu lantaran darah lebih kental daripada air.


"Risma!


Pegang ucapan suami kamu, jika dia tidak memenuhi ucapannya, bilang saja padaku, biar aku sendiri yang akan menyelesaikannya." Permadi mengalihkan pandangannya pada Risma yang sedari tadi memilih diam menyimak ketegangan antara kakak beradik itu.


"Iya, Mas! Terimakasih!" Sahut Risma lirih dengan masih memilih bersikap dingin pada Pandu yang tengah menatapnya dengan pandangan yang tak bisa di artikan.


"Nduk, istirahatlah, tenangkan hati kamu. Mama minta maaf atas semua kesalahan yang dibuat anak mama. Mama berharap, kamu tetap memilih bertahan, karena mama sangat menyayangi kamu.

__ADS_1


Percayalah, jika permata akan jauh berkilau dari pada batu kali."


Bu Sonia menatap lembut sang menantu dan mengusap pipinya penuh haru. Tersenyum tipis memberi kekuatan lewat perhatian dan kasih sayangnya.


"Mama masuk kamar dulu ya, kepala mama sedikit pusing. Kamu istirahat lah, nak!" sambung Bu Sonia dan mulai beranjak meninggalkan ruang keluarga menuju kamar pribadinya.


Rasa kecewanya terhadap Pandu telah membuatnya tak ingin menatap ke arah anaknya sedikitpun.


"Aku juga mau pamit pulang, kalau ada apa apa jangan sungkan untuk menghubungiku, Ris!


Ma! Aku pamit pulang ya!"


Permadi menatap Risma dan ibunya bergantian, mencium takzim tangan ibunya dan mengatupkan kedua tangannya saat menatap ke arah Risma dan melewati begitu saja keberadaan Pandu. Sebagai kakak, Permadi benar benar kecewa dengan pilihan yang Pandu ambil.


Hingga tersisa Risma dan Pandu yang saling memilih mengatupkan mulutnya.


Risma bahkan tak ingin menatap suaminya, dan memilih untuk memasuki kamarnya, namun dengan cepat Pandu mengikuti dari belakang dan ikut masuk kedalam kamar yang dulu jadi miliknya saat masih bujangan.


Kenapa kamu bisa berubah dan berbuat seperti ini?


Aku sudah katakan, aku akan adil pada kalian, dan aku juga mulai mencintai kamu. Tolong jangan buat aku hilang respect sama sikapmu ini!"


Pandu membuka obrolan dengan mengatakan apa yang jadi pemikirannya tanpa perduli jika ucapannya semakin melukai hati wanita yang masih sah menjadi istrinya.


"Cukup, Mas!


Hentikan kata kata adil dan cinta itu, karena sedikitpun tidak akan bisa mengembalikan keadaan.


Aku sudah lelah dengan semua ini.

__ADS_1


Biarkan aku hidup sesuai dengan apa yang akan membuatku nyaman. Dan kamu akan aku bebaskan menjalani kehidupanmu dengan istri barumu.


Saat ini, aku hanya sedang mempertahankan apa yang menjadi hakku dan anak anak. Untuk selanjutkan itu terserah kamu, aku sudah tidak ingin lagi perduli!" Risma berusaha kuat dan tidak ingin menangis di hadapan Pandu, sekalipun dadanya terasa sesak dan begitu nyeri.


Pandu menghembuskan nafasnya kasar, tidak tau harus berbuat apa lagi untuk membuat Risma mau menuruti keinginannya.


"Baiklah kalau itu yang kamu mau, aku akan menuruti mau kamu. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan, dan aku akan melakukan apa yang ingin aku lakukan." Sahut Pandu kesal dengan tatapan kecewa menyorot ke arah Risma yang justru tersenyum tipis dan terlihat sangat tenang.


"Iya, Mas! Terimakasih!


Jangan lupa, segera penuhi janji kamu, untuk mengalihkan sawah dan cafe atas nama anak anak. Dan mama sudah bilang, besok sawah akan panen, dan hasilnya itu akan menjadi haknya Galang dan cinta.


Dan satu lagi, jangan lupa untuk uang satu setengah milyar nya. Aku menunggunya, Pak Pandu Aditama!" Sambung Risma dengan penuh penekanan dan dengan gaya yang dibuat semenyebalkan mungkin, agar Pandu kesal dan tertekan.


"Iya!" hanya kalimat itu yang mampu pandu lontarkan dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar menuju teras belakang rumah. Menahan gejolak amarah dan segenap sesal akan kecerobohannya. Bingung harus bagaimana menjelaskan apa yang terjadi pada Clara saat nanti dia meminta penjelasan.


Jika hanya mengandalkan uang dari hasil ternak lele dan sisa tabungannya, Itu tidak seberapa, paling paling Pandu hanya mampu memberi uang jatah belanja sekitar dua hingga tiga juta dalam sebulan. Pandu benar benar berada di posisi sangat sulit saat ini.


Risma yang dikiranya akan tetap diam dan menurut. Ternyata mampu menghancurkan nasibnya dalam sekejap.


Apalagi, Pandu selalu tidak bisa marah saat melihat wajah ayu sang istri yang selalu terlihat teduh dan menenangkan. Terselip rasa bersalah dan penyesalan tiap kali air mata jatuh di pipi wanita yang selalu diabaikannya. Namun Pandu juga tidak bisa meninggalkan Clara begitu saja tersebab perasaan cinta yang sudah tumbuh sebelum Pandu mengenal Risma.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Sedangkan di tempat lain, Clara sedang mondar mandir gelisah menunggu kabar dari Pandu. Pikirannya kacau saat membayangkan semua aset jatuh pada Risma dan tanpa menyisakan sedikitpun untuknya. Bayangan untuk menjadi ratu dan hidup bahagia dengan Pandu terkikis oleh rasa cemas yang begitu menakutkan.


"Jika Mas Pandu menuruti keinginan istri pertamanya, apa yang harus aku lakukan?


Apakah aku akan kembali bekerja lagi dan menerima begitu saja keputusan Mas Pandu?

__ADS_1


Tapi aku juga istrinya, aku berhak dengan apa yang Mas Pandu punya. Argh kenapa harus serumit ini, hanya karena perempuan serakah itu. Benar benar menyebalkan!" Sungut Clara kesal dengan pikirannya sendiri.


__ADS_2