Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain

Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain
Bertemu Sandi


__ADS_3

"Terimakasih, Mas!


Terimakasih untuk perubahan kamu ini. Aku tau saat ini kamu begitu menyayangi ku dan anak anak, kamu selalu berusaha menyenangkan kami dengan cintamu. Semoga tidak ada Clara yang lain dalam rumah tangga kita." batin Risma berharap dengan senyuman tipis yang terukir di bibirnya yang indah.


"Hmmm, kenapa senyum senyum lihat aku? Jatuh cinta sama suami kamu yang tampan ini kan?


Iya, iya! Aku memang tampan, jangan dilihatin terus, di cium juga boleh!" Pandu menyadari tengah diperhatikan sang istri yang terus tersenyum ke arahnya.


"Apaan sih, Mas! lebay!" balas Risma yang langsung mengalihkan pandangannya ke arah jendela dan menahan senyum karena malu.


Pandu memarkirkan mobilnya di pelataran parkir mall, turun dan menggandeng tangan istrinya. Ingin menunjukkan pada semua orang, wanita cantik yang ada disampingnya adalah miliknya.


"Kamu mau langsung belanja, apa cari makanan dulu?" suara Pandu membuyarkan lamunan Risma yang teringat tentang sikap dingin suaminya selama ini. Rasanya masih seperti mimpi jika Pandu bisa bersikap manis dan berubah seratus persen.


"Belanja dulu, Mas! aku masih belum lapar. Tapi kalau kamu sudah lapar, kita cari makan dulu juga gak papa." Sahut Risma dengan sedikit gugup, berusaha bersikap baik baik saja, agar tidak merusak moment yang saat ini tengah dirajutnya.


"Kita belanja saja, aku juga masih kenyang.


Kamu mau kemana, cari apa dulu? Tas? sepatu? baju? atau kebutuhan dapur? Aku akan temeni dan siap membawakan semua barang belanjaannya." balas Pandu dengan senyuman jahil menggoda sang istri yang terlihat merona.


"Baju sudah banyak, Mas! gak usah beli lagi. Aku mau cari sepatu saja ya?' sahut Risma yakin, karena belum ada satu bulan sudah sangat sering di belikan gamis oleh suaminya.


"Baiklah, apapun, oke?" sahut Pandu tersenyum dan terus menggandeng tangan sang istri mesra.


Saat Risma tengah asik memilih sepatu, tak jauh dari tempatnya berdiri terlihat ada seseorang yang tengah memperhatikannya. Karena merasa yakin mengenalnya, laki laki tinggi tegap dengan kulit sawo matang dan berwajah cukup tampan berjalan menghampiri Risma yang terlihat sendirian. Karena Pandu sedang ijin pergi ke toilet.


"Risma ya?" sapa laki laki yang sedari tadi mengamati Risma dari kejauhan.


Risma menoleh dan menatap laki laki di hadapannya dengan senyuman dan wajah pria dihadapannya sudah sangat familiar untuknya.


"Sandi?


Ini sandi kan?


Anak dari budhe Dian?" balas Risma menebak laki laki yang kini tengah menatapnya dengan senyuman sumringah.


"Iya, aku Sandi. Apa kabar? Lama gak ketemu ya kita?" sahut Sandi senang bisa bertemu saudaranya dari sang ibu.


"Alhamdulillah, baik!

__ADS_1


Kamu gimana, pa kabar?" balas Risma ramah dengan tatapan penuh pada laki laki yang berdiri di hadapannya.


"Alhamdulillah baik. Doakan semoga akhir tahun ini, aku segera bisa mengakhiri masa jombloku ya?" sahut Sandi percaya diri.


"Eh, belum nikah ya?


Duh maaf sampai lupa!


Emang sudah ada perempuan yang membuat seorang sandi jatuh cinta?


Penasaran! Kenalin dong siapa perempuan beruntung itu." balas Risma sedikit menggoda Sandi, dan terlihat Pandu sedang berdiri ditempat, melihat sikap istrinya yang begitu akrab dengan laki laki asing di matanya.


Cemburu sudah pasti, tersiksa karena praduganya sudah tentu membuat hati Pandu kalang kabut.


"Siapa laki laki itu, tapi sepertinya wajahnya tak asing." Pandu berbicara di dalam hatinya. Dan kembali meneruskan langkahnya menuju ke arah sang istri yang terlihat tengah asik bicara dengan laki laki yang membuat pikiran Pandu terusik.


"Ma!" Pandu langsung mendekat ke arah Risma dan matanya terlihat meminta penjelasan pada sang istri yang langsung paham dengan kecemburuan suaminya.


"Kenalin, ini Mas Pandu suamiku. Dulu pas kita nikah, kamu kan masih meneruskan S2 kamu di Bandung." Risma mengenalkan Pandu pada Sandi yang langsung menyambut ramah uluran tangan dari Pandu.


"Sandi! anak dari budhenya Risma. Kamu lama gak ketemu, dulu pas kalian nikah aku masih di Bandung sedang ada ujian, jadi gak bisa pulang menghadiri pernikahan kalian. Maaf ya!" Sandi memperkenalkan dirinya dengan gayanya yang memang ramah.


"Gak papa, Paham! Cinta kadang gak butuh logika!" sahut Sandi berkelakar dan langsung disambut tawa oleh Pandu.


"Sekarang kerja dimana?" Risma ikut menimpali dengan tatapan yang beralih ke arah sang sepupu.


"Di Surabaya saja. Gak perlu jauh jauh. Kasihan mama sudah sepuh." balas Sandi sambil tersenyum.


"Gimana kalau kita cari tempat dan ngobrol dulu. Gak papakan, Mah?" sahut Pandu yang merasa sungkan karena harus bicara pada tempat yang tidak tepat.


"Aku masih harus cari keperluan ini, buru buru. Karena besok pagi pagi akan balik ke Surabaya. Nanti saja, kapan kapan kalau aku pulang lagi, insyaallah akan main kerumahnya kalian. Dan doakan semoga sudah dengan pendamping." Balas Sandi menolak secara halus ajakan Pandu.


Bukan sombong atau gak mau berlama lama bicara dengan keluarganya. Namun Sandi memang harus cepat cepat mencari sesuatu untuk nanti diberikan pada Clara sebagai kejutan.


"Owh begitu, baiklah!" balas Pandu tetap dengan wajah tenang dan senyuman ramahnya.


"Boleh minta nomor teleponnya?" sahut Sandi menatap Risma dan Pandu bergantian.


Pandu mengangguk menatap sang istri yang langsung paham dengan kode darinya.

__ADS_1


Risma menyebutkan nomor teleponnya pada Sandi yang terlihat langsung mencatatnya di ponsel mewah miliknya.


"Itu nomor baruku." balas Sandi setelah mengirim pesan di aplikasi watshap ke nomor Risma.


"Oke, aku simpan ya?" balas Risma singkat.


"Kalau begitu, aku pamit dulu. Selamat berbelanja. Asalamualaikum!" Sandi berpamitan pada Pandu dan Risma.


"Masih sendiri?" Pandu bertanya kepada istrinya tentang saudaranya yang barusan pergi dari hadapannya.


"Iya, jomblo akut. Umurnya lebih tua dari aku. Sudah tiga puluh tiga dia, kalau gak salah." sahut Risma cuek dan kembali memilih sepatu yang sempat tertunda karena kehadiran Sandi.


"Oh, semoga segera bertemu jodohnya." balas Pandu yang memilih duduk di kursi tak jauh dari tempat istrinya memilih sepatu.


"Aamiin!" sahut Risma yang masih fokus dengan pilihannya.


Terkadang kita tidak tau apa yang akan jadi pilihan kita ketika takdir sudah lebih dulu menyapa.


Yang terbaik tak selalu menjadi yang terindah, pun sebaliknya, yang terindah belum tentu jadi yang terbaik.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Pembalasan Istri Yang Terhina (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️

__ADS_1


Happy ending ❤️🔥


__ADS_2