
Saat minggu lalu, Clara memeriksakan kehamilannya tanpa ditemani Sandi.
Karena Sandi tengah berada di luar kota.
Dan dokter meminta Clara untuk istirahat total, kandungannya yang lemah membuatnya semakin cemas.
Bahkan dokter pun sudah menyarankan untuk melakukan operasi demi keselamatan sang ibu.
Namun Clara dengan tegas menolaknya.
Clara memilih mempertahankan bayinya, meskipun nanti taruhannya adalah nyawanya sendiri.
Clara menyembunyikan semua itu kepada semua orang, termasuk ibunya.
Clara tidak mau, semuanya cemas hanya karena dirinya. Dan Clara juga ingin memberikan anak untuk Sandi.
Untuk hidup dan matinya, Clara sudah pasrahkan pada takdir.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Usia kandungan Clara sudah menginjak tuju bulan, perutnya juga sudah terlihat membesar, tapi Clara masih sering mengalami pusing, mual dan bahkan tubuhnya juga lemah.
Hingga hari ini saat Clara akan membuat susu untuk dirinya, tiba tak ha Clara pingsan. Bu Desmita yang ada dirumah pun sangat panik dan histeris, dengan di bantu Bu Marni dan pak Aji, Clara di masukkan mobil dan di bawa kerumah sakit.
"Bu Marni tolong titip Dania ya, biar aku yang bawa Clara ke rumah sakit, Sandi biar nanti di jalan aku telpon." Bu Desmita tak bisa membendung air matanya, Clara terlihat begitu pucat dan lemah.
"Iya Bu, tidak perlu khawatir, Dania akan saya jaga. Semoga Bu Clara baik baik saja!"
Bu Marni juga gak kuasa melihat kondisi Clara yang sudah memprihatinkan. Bu Marni pun tak kuasa menahan air matanya. Ikut sedih melihat Clara yang sudah tak berdaya, karena baginya Clara adalah orang baik, selama ada Clara dirumah Sandi, Bu Marni selalu di perlakukan sangat baik dan sopan oleh Clara, bahkan Clara selalu memberinya uang saku kadang dibelikan daster. Yang paling menyentuh hati Bu Marni, Clara itu baik dan menghormati dirinya yang lebih tua, walaupun dirinya hanya pembantu dirumahnya.
Bu Desmita menelpon Sandi namun tak kunjung diangkat hingga lima kali. "Mungkin sandi sibuk!" gumam Bu Desmita cemas dan meminta pak aji untuk mempercepat laju mobilnya.
Setelah beberapa saat terlihat di layar ponselnya, Sandi ganti menghubungi balik mertuanya.
"Hallo nak Sandi!
Clara! Clara sedang perjalanan kerumah sakit, tadi pingsan dan pendarahan!" sambut Bu Desmita langsung pada intinya dengan air mata yang terus membanjiri wajahnya.
"Apa? Ya Alloh!
__ADS_1
Rumah sakit mana Bu?" balas Sandi yang terdengar suaranya parau menahan rasa sesak di dadanya.
"Rumah sakit Bakti Indah. Ini sudah sampai.
Ibu tutup dulu teleponnya, segeralah kesini!" balas Bu Desmita yang langsung turun dari mobil dan menunggu perawat datang membawa brankas untuk Clara.
Clara langsung di bawa ke UGD, dokter pun langsung datang untuk memeriksa.
"Apa ada keluarga pasien?" tanya dokter menanyakan keberadaan keluarga Clara, dan Bu desmita yang ditemani pak aji pun mendekat dengan tubuh bergetar dan air mata yang terus berjatuhan.
"Pasien harus segera di lakukan tindakan operasi untuk menyelamatkan keduanya. Saya butuh tanda tangan dari keluarga untuk persetujuan." jelas dokter yang melihat keadaan Clara sangat tidak baik dan harus dilakukan tindakan operasi.
Tak berselang lama Sandi pun datang, karena jarak kantor dan rumah sakit tidak terlalu jauh.
Dokter kembali menjelaskan dan Sandi akhirnya setuju dan menandatangani surat persetujuan dilakukan tindakan operasi.
Sandi terus mondar mandir di luar ruangan, cemas dan takut terjadi sesuatu dengan anak dan istrinya.
Sedangkan Bu Desmita memilih duduk termenung di kursi tunggu yang disediakan dengan dada yang begitu sesak, doanya terus ia panjatkan dan air matanya juga tak berhenti mengalir.
Hati ibu mana yang sanggup melihat anaknya bertaruh nyawa diruang operasi.
Cukup lama, hampir dua jam, tapi pintu ruangan belum juga terbuka. Sandi semakin kalut dan tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Hatinya tak bisa tenang dan rasa khawatir terus menghantui pikirannya. "Clara, kamu harus kuat, kamu harus bertahan. Aku dan anak anak kita butuh kamu. Aku sayang kamu!" Isak Sandi yang terduduk lemah dilantai dengan memegangi kedua lututnya, tak perduli bagaimana tanggapan orang yang melihatnya, yang ia tahu hanyalah dirinya begitu lemah dengan keadaan saat ini. Istri dan anaknya sedang berjuang di ruang operasi.
Terdengar pintu dibuka, terlihat dokter keluar yang diikuti oleh suster dibelakangnya.
"Dok, bagaimana keadaan anak dan istri saya?" Sandi langsung menodong pertanyaan pada dokter Alisa yang baru saja keluar dari ruangan operasi. Di name tag tercantum nama dokter Alisa, sehingga mudah untuk mengenali namanya.
"Bayi bapak selamat tapi harus dalam pengawasan kami, untuk menguatkan jantungnya.
Bapak boleh melihatnya setelah kami memindahkan bayinya ke inkubator.
Sedang istri bapak!" dokter menjeda ucapannya, membuat Sandi dan Bu Desmita seketika cemas.
"Bagaimana keadaan anak saya, dokter?" isak Bu Desmita lemas dan terus menangis.
"Katakan dok, bagaimana keadaan istri saya?
Dia baik baik saja kan?" sahut Sandi yang tak kalah cemasnya. Matanya memerah masih dengan sisa isakan.
__ADS_1
"Keadaan Bu Clara kritis, karena kehilangan banyak darah. Dan juga selama ini kandungannya sangat lemah. Kami sudah memberi pilihan pada Bu Clara, tapi sepertinya Bu Clara ingin mempertahankan bayinya, meskipun nyawanya yang harus dipertaruhkan." balas dokter Alisa, mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Membuat Sandi semakin tak kuasa menahan kesedihannya, kakinya langsung lemas mendengar begitu besar pengorbanan istrinya demi mempertahankan anaknya agar tetap bisa lahir ke dunia ini.
"Kami akan memindahkan Bu Clara diruangan ICU. Nanti suster yang akan memberitahu bapak kapan harus menemui bayi bapak.
Berdoa saja yang terbaik, insyaallah semoga baik baik saja, pak! Bu!
Baiklah kamu permisi!" sambung dokter Alisa dan pergi meninggalkan ruangan.
"Apa ini ya Alloh?" Sandi terduduk lesu sambil meremas rambutnya frustasi, dia memang menginginkan anak dari Clara, tapi tidak ingin Clara sampai mengorbankan nyawanya demi mempertahankan bayinya. Sandi memang sering bersikap cuek, tapi sesungguhnya Sandi juga sangat mencintai Clara. Mendengar Clara kritis langsung membuatnya lemah dan tak berdaya. Air matanya berjatuhan bersama isakan isakan kecil yang tertahan seiring rasa sesak di dalam dadanya.
Bu Desmita terdiam, tak mampu berucap apa apa, dadanya sudah sangat begitu sesak, hanya doa yang selalu ia panjatkan, untuk kesembuhan dan keselamatan anak serta cucunya. Meskipun air matanya juga tak kunjung berhenti, hingga wajahnya basah dan bahunya ikut terguncang.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Kasih sayang yang salah
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1
Happy ending ❤️