
Kisah masa lalu yang mematahkan hati juga kebahagiaan di hidup Clara, membuatnya sadar, jika tak baik mengejar sesuatu yang memang bukan miliknya. Kepergian Pandu yang lebih memilih istri dan anaknya, menjadikan Clara tau, jika tak selamanya keinginan itu akan berjalan sesuai dengan apa yang diharapkannya.
Clara benar benar ingin beranjak dari sifat buruknya di masa lalu, mencoba pasrah dan iklas dengan takdir yang kini tengah dijalaninya.
Terus memohon ampun atas khilaf yang pernah dia lakukan, menyadari jika pernah menyakiti banyak hati oleh sikapnya. Dan kini Clara sedikit demi sedikit juga merasakan seperti apa rasanya saat berada di posisi Risma. Berstatus seorang istri yang tanpa dicintai, tersiksa lahir dan batinnya, namun harus tetap bertahan selama Tuhan belum berkata "Berhenti."
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Setelah puas jalan jalan dan belanja. Sandi kembali mengajak anak dan istrinya untuk mencari restoran dan mengisi perut yang sudah lapar.
Bagi siapa saja yang gak tau kebenaran rumah tangga mereka, pasti akan mengira mereka adalah pasangan serasi yang sangat bahagia.
Karena cara Sandi memperlakukan Clara dan Dania begitu lembut dan penuh perhatian.
"Makasih ya, Mas! Sudah ajak kami jalan jalan begini. Dan terimakasih untuk semua hadiahnya, ini banyak sekali." Ucap Clara di sela sela acara makan malamnya. Sedangkan Dania sudah tertidur di pangkuan Sandi dengan begitu pulas nya.
"Sudah jadi kewajiban aku memberikan semua ini pada kalian. Sudah terimakasih nya, dari tadi kamu terus mengatakan terimakasih!" sahut Sandi tertawa lirih dengan tingkah Clara yang terus mengatakan terimakasih.
Clara tersipu dan akhirnya memilih diam dan menghabiskan makanan yang ada di piringnya.
Begitu juga Sandi, yang seolah seperti sudah terbiasa makan sambil memangku Dania yang telah tertidur pulas. Saat Clara ingin menggantikannya, Sandi menolaknya, dan menyuruh Clara menghabiskan makanannya.
"Kita pulang!
Besok aku mau ada acara di kantor, papa mau mengenalkan aku dengan rekan rekan bisnisnya.
Kamu mau dampingi aku kan?
Tapi tanpa Dania, karena kamu sendiri yang tidak mau status Dania dipertanyakan bukan?
Biarkan Dania dirumah dengan Bi Marni.
Gimana, kamu keberatan?" Sandi mengutarakan maksudnya dan ingin mengenalkan Clara pada rejan rekannya juga. Bersikap seperti pasangan pada umumnya, seolah rumah tangga mereka baik baik saja.
"Iya, Mas!
Aku mengerti kok dan aku gak keberatan.
Tapi apa kamu gak malu, membawaku di acara pentingnya itu?
Pasti banyak orang-orang penting yang hadir nantinya, sedangkan aku, hanya berstatus janda saat menjadi istri kamu!" Clara menunduk, mengutarakan kegelisahannya dan membuat Sandi paham akan kecemasan Clara.
__ADS_1
"Mereka tidak akan berani bertanya macam macam Clara!
Kamu tenang saja, selalu berada di sampingku, pasti kamu akan baik baik saja. Bukankah kamu yang bilang, kalau itu hanyalah masa lalu, jadi jangan terlalu mencemaskan yang sudah berlalu." Sandi beranjak dari tempat duduknya sambil menggendong Dania, meminta Clara untuk membayar pesanannya, kembali menyerahkan kartu kredit miliknya untuk dipegang Clara.
"Aku tunggu di dalam mobil ya?" Sandi memilih untuk berjalan lebih dulu ke mobilnya, lalu clara menyusul setelah membayar makanan yang tadi di pesan nya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sandi menidurkan Dania di bok khususnya.
Mengganti pakaian dengan baju tidur dan mengambil laptopnya lalu meneruskan pekerjaannya yang tadi belum diselesaikan di kantor.
Clara juga mengganti pakaiannya di dalam kamar mandi, karena sekarang mereka sudah tidur dalam satu kamar yang sama, atas keinginan Sandi.
Clara memakai krim perawatan wajahnya, menatap Sandi yang terlihat serius dengan laptopnya dari kaca rias di hadapannya.
Clara tersenyum tipis, menahan perih, karena belum sama sekali disentuh oleh suaminya.
Sandi akan kembali dingin saat mereka sedang dirumah dan berdua.
Seolah keberadaannya tidak ada di hati Sandi.
Memilih tetap bertahan, karena Sandi laki laki yang baik, yang memperlakukan dirinya dan Dania begitu baik, meskipun belum ada perasaan cinta dihatinya untuknya.
"Mas! Mau aku buatkan kopi?" Clara memberanikan diri untuk menawarkan Sandi minuman, ingin memberi perhatian dan menunjukkan rasa pedulinya sebagai seorang istri.
"Boleh!
Gulanya sedikit saja ya!" sahut Sandi yang tetap fokus pada layar datar di depannya.
Clara hanya mengangguk lemah dan keluar dari kamar untuk membuatkan suaminya kopi.
"Ini mas, kopinya!" Clara meletakkan cangkir di meja samping Sandi.
Sandi menoleh dan tersenyum tipis menanggapi.
"Kamu tidur saja kalau sudah ngantuk, aku akan menyelesaikan pekerjaanku!" Sandi berbicara Tania menatap Clara yang mati matian menahan tangis karena merasa tak dianggap keberadaannya sebagai istri saat mereka sedang berdua. Sandi yang selalu dingin dan bersikap datar datar saja. Sungguh semua itu semakin menjadikan dada Clara terasa sesak karena luka pengabaian yang masih terus berlanjut antara hubungan suami istri diantara dirinya dan Sandi.
Clara meninggalkan Sandi menyelesaikan pekerjaannya, dan mulai merebahkan diri diatas kasur, menutupi tubuhnya dengan selimut tebal, menangis tanpa suara hingga matanya terasa berat dan akhirnya terlelap.
Sandi menyadari Clara yang tengah menangis, namun milih diam dan membiarkannya.
__ADS_1
Takut akan semakin melukainya. Sandi masih ingin mengumpulkan keyakinannya, jika Clara pantas untuk kembali dicintai, menguji kesabaran dan keteguhan hati sang istri.
"Maafkan aku Clara, semoga kita mampu melewati ujian rumah tangga ini, tanpa harus ada yang saling menyakiti lagi diantara kita." gumam Sandi, menatap Clara yang berbalut selimut dan tertidur dengan begitu pulas nya.
Sandi merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang ada di kamarnya. Memilih memejamkan matanya dan mengistirahatkan pikirannya yang begitu tertekan dengan banyaknya masalah yang ia hadapi hari ini.
Menjalani rumah tangga tanpa sentuhan, tanpa perasaan, hanya melakukan karena sebuah kewajiban dan keharusan, adalah sesuatu yang membuat dadanya kian sesak dan tersiksa.
Mengumpulkan kembali puzzle puzzle yang telah berantakan memang tidak mudah, butuh kesabaran dan juga ketelatenan.
Hingga hatinya benar benar yakin, jika pilihannya memang pantas untuk dia pertahankan.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Kasih sayang yang salah
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
Happy ending ❤️
__ADS_1