
"Sudah! Istirahatlah!
Jangan terus menangisi masa lalu, cukup kamu berusaha untuk kembali menjadi pribadi yang lebih baik dan menyesali kesalahan yang pernah di perbuat. Banyak Istighfar agar hatimu selalu menemukan ketenangan.
Beri aku waktu, untuk kembali menata hati." Sandi berusaha untuk menenangkan Clara agar tidak terus menyalahkan dirinya.
Tanpa banyak membantah, Clara mengikuti langkah Sandi untuk menuju kamar yang sudah dipersiapkan untuknya. Mengistirahatkan diri dan pikirannya dari rasa yang telah begitu menyiksanya.
Masa lalu, semua orang punya masa lalu, bedanya, ada yang lurus lurus saja dan ada yang penuh dengan duri. Sebagai makhluk yang sama sama lemah, kita tak harus menghakimi setiap kesalahan yang diperbuat seseorang, asal orang tersebut mau memperbaiki dan benar benar ingin berbenah menjadi pribadi yang lebih baik, dengan menjadikan masa lalunya sebagai ujian.
"Istirahatlah dulu. Sekali lagi aku minta maaf dan beri aku waktu. Aku akan tidur di kamar tamu.
Aku tetap akan bertanggung jawab dan memenuhi kewajibanku sebagai seorang suami."
Sandi keluar dari kamarnya dan menutup pintunya.
Berjalan menuju kamar tamu. Merebahkan tubuhnya dengan pikiran yang tak menentu. Bahkan tidak tau dengan apa yang kini ada di otaknya itu. Yang ia tau, tiap kali mengingat bayangan wajah Risma, dadanya terasa sesak.
"Aku harus segera bertemu Risma dan bicara dengannya. Aku hanya ingin tau apa yang ada dipikirannya soal Clara. Pun dengan Pandu, aku ingin tau bagaimana reaksinya nanti setelah tau, jika kini Clara adalah istriku.
Kenapa ini harus ada dalam perjalanan cintaku, selama ini aku begitu sulit membuka hati, namun saat hatiku belajar terpaut pada seorang wanita, ternyata dia orang yang pernah menyakiti Risma, wanita yang dari dulu telah ku anggap sebagai adikku." Sandi bicara sendirian dengan tubuh telentang menatap langit-langit kamar nya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sedang di lain tempat Risma tengah merasakan mual yang begitu hebatnya, kandungannya kali ini benar benar sangat lemah. Tidak enak makan bahkan sulit menerima makanan apapun, tiap kali mulutnya kemasukan makanan, Risma pasti akan langsung memuntahkan. Kehamilan yang paling berat diantara kehamilan kedua anaknya.
Bu Fatma memutuskan menjaga dan menemani Risma saat Pandu sedang ada tugas ke luar kota selama beberapa hari kedepannya.
__ADS_1
Pandu sedang ada di kota Bandung selama satu Minggu.
"Nduk! Minum anget anget dulu, biar mualnya sedikit berkurang ya!" Bu Fatma membuatkan teh manis hangat dan diberikannya pada Risma yang duduk lemas di sofa ruang keluarga dengan wajah sedikit pucat.
"Makasih Bu!" Risma menerima gelas yang berisi teh hangat dari tangan ibunya, meneguknya berlahan dan tenggorakan serta perutnya terasa enakkan setelah meminumnya.
"Bu! kenapa aku kok mualnya gak ilang ilang ya?
Rasanya tubuh ini lemas terus dan kepala pusing banget, apa nanti bayiku sehat? aku kok jadi cemas ya, Bu!" Risma mengutarakan isi hatinya pada sang ibu, dan duduk bersandar di bahu ibunya.
"Bawaan hamil itu gak sama nduk, mungkin kali ini anakmu lagi ingin menguji kamu di awal kehamilan. Iklas ya, dan jangan mikir macam macam, biar ibu dan calon bayinya sehat. Ibu akan terus mendampingi kamu. Yang penting kamu tetap berusaha untuk bisa mengisi perutmu, makan apa yang bisa masuk saja, jangan biarkan kosong perutnya, kasihan calon anak kamu." sahut Bu Fatma bijak, dan mengelus lembut rambut sang anak penuh kasih sayang.
"Iya, Bu! tapi Risma gak bisa masuk nasi, baunya saja bikin mual, hampir semua makanan gak bisa masuk di mulut Risma ini, pasti muntah setelahnya.
Hanya apel dan pear saja yang bisa masuk. Untung masih bisa minum susu. Tapi rasanya tetap lemes banget!" balas Risma manja, dan mulai memejamkan matanya, kepalanya sedikit berat setelah sejak tadi muntah muntah karena mencium masakan mbak Romlah di dapur.
"Semoga kamu bahagia terus, Nak! Tapi entahlah, kenapa perasaan ini selalu tidak enak tiap kali melihatmu lemah seperti ini. Ibu masih belum bisa percaya penuh sama suami kamu. Perasaan ibu sulit untuk bisa dijelaskan. Semoga resah yang ada di hati ibu hanyalah sekedar perasaan cemas karena ibu begitu menyayangi mu, Ibu harap, suami kamu benar benar bisa berubah dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Karena ibu pasti tidak akan sanggup melihatmu terluka lagi dan ibu juga tidak akan pernah membiarkanmu untuk bertahan pada laki laki yang tak bisa menjagamu dengan baik." Bu Fatma bergumam di dalam hatinya, menatap dalam wajah teduh sang anak yang mulai bisa terlelap.
Bu Fatma memang tak pernah bisa begitu saja melupakan sikap Pandu yang sudah berselingkuh dan menyakiti anaknya. Meskipun Pandu telah berusaha memperbaiki dan menunjukkan perasaan cintanya pada Risma, namun di sudut hati sebagai seorang ibu, Bu Fatma menyimpan kecemasan dan tak bisa percaya begitu saja pada perubahan sikap Pandu. Baginya, sekali berselingkuh, itu tak menutup kemungkinan, kalau Pandu akan mengulanginya. Entahlah.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Dilain tempat, Bu Desmita sedang menyuapi Dania yang semakin hari semakin tumbuh sehat, jarang sekali rewel bahkan Dania adalah anak yang sangat mudah soal makan. Meskipun dokter tidak mengijinkan untuk diberi makanan apapun sebelum usia enam bulan, namun Bu Desmita tak perduli, Dania sudah di beri pisang sejak umur satu bulan, namun dengan porsi sangat sedikit.
Dania meminum susu formula karena air susu Clara tidak bisa keluar lancar.
"Semoga kamu tumbuh jadi anak yang kuat ya, Nak! Jadi semangat untuk ibumu! Sehat sehat terus dan semoga Sandi bisa menerima kehadiran kamu sebagai anaknya dengan tulus. Nenek berharap kalian berada di tangan laki laki yang tepat." Bu Fatma berbicara pada Dania yang masih belum tau apa apa, belum bisa memahami apa yang diucapkannya. Namun Bu Fatma berharap Dania bisa merasakan ketulusan dan harapannya.
__ADS_1
Sejak semalam perasaan Bu Desmita tak enak, bahkan bermimpi Clara yang sedang menangis mendekap Dania. Firasatnya sebagai seorang ibu mengatakan jika putrinya sedang tidak baik baik saja, namun akalnya berusaha menolak dan berharap itu hanya sekedar bunga tidur.
"Kalau Clara ada apa apa, pasti dia akan pulang kesini dan memberitahuku. Semoga ini hanyalah pikiranku saja, mungkin aku lelah karena beberapa hari ini mengurus Dania sendirian." batin Bu Desmita menguatkan hatinya sendiri.
Karena bagaimanapun insting seorang ibu itu begitu tajam.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Pembalasan Istri Yang Terhina (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
Happy ending ❤️🔥
__ADS_1