
"Kamu jahat, Mas! Kamu jahat! Aku benci kamu!
Kamu sudah membohongi ku, katanya kamu gak cinta, tapi nyatanya kamu masih melewati malam dengannya, bahkan tidak perduli bagaimana aku menunggu kabar darimu. Kamu jahat, Mas. Aku benci kamu!"
Clara menangis histeris bersama rasa kecewa dan sakit hatinya, melihat kemesraan pandu bersama istri keduanya dari foto yang dikirim oleh Risma.
Dan Clara merasa dunianya seolah runtuh oleh rasa sakit yang begitu menghujam hatinya. Melewati malam dengan tangisan dan rasa sakit hatinya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Pandu terbangun saat mendengar adzan subuh. Kepalanya sudah tidak pusing lagi. Dan badannya sudah agak enakkan.
Dengan perlahan, Pandu beranjak dari tidur nyenyak nya. Membersihkan diri dan menjalankan kewajiban dua rakaat.
'Risma menaruhnya dimana ya? Sudah aku cari kemana mana tapi tidak ada. Mau tanya nanti salah paham lagi yang ada. Aku cuma butuh sebentar, ingin memberi kabar pada Clara dan meminta maaf karena tidak menghubungi nya sama sekali sejak kemarin.'
Pandu berbicara sendiri dan terus mencari ponsel miliknya yang kemarin di bawa sang istri pertama.
Sudah meneliti semua isi kamar tapi tidak menemukan apa yang dicarinya.
Pandu menyerah dan memilih untuk berbaring lagi di ranjang empuk miliknya. Memulihkan tubuhnya agar benar benar fit kembali. Karena hari ini akan memulai aktifitasnya ke kantor lagi.
Pandu menatap foto pernikahan yang ada di dinding kamar, bahkan selama ini hampir tidak pernah dilihatnya. Senyuman cantik yang terukir di bibir indah sang istri membuat hatinya berdesir, merutuki kebodohannya sendiri yang sudah mengabaikan dan bersikap acuh pada wanita yang selama ini begitu tulus dan memperlakukan dirinya begitu baik. Hingga tanpa sadar Pandu kembali memejamkan matanya, hingga ada tepukan tangan yang membangunkan Pandu dari tidurnya.
"Mas, bangun! Sudah siang, kamu gak ke kantor?"
Mas!" Dengan lembut Risma membangunkan Pandu yang terlihat sangat pulas.
"Iya, sudah jam berapa, Ma?" sahut Pandu setengah membuka matanya malas.
__ADS_1
"Sudah jam enam lebih. Sarapan dulu! Aku sudah buatkan kamu makanan kesukaan kamu dan susu jahe, biar badan kamu enakan." balas Risma kembali dengan sikap lembutnya dan membuat Pandu menarik nafas lega.
"Yasudah, aku mau cuci muka dulu. Nanti ke kantor jam delapan. Masih ada banyak waktu." kembali Pandu menimpali ucapan sang istri dengan senyuman dan tatapan penuh arti.
Risma memilih menyiapkan baju ganti sang suami, seragam lengkap dan juga tas kerjanya. Lalu meletakkan ponsel milik Pandu di atas kasur, namun Risma sudah menghapus chat dan panggilan dari Clara dari riwayat panggilan dan pesan masuk.
Risma sudah menyiapkan diri, jika nanti Pandu akan marah karena dia sudah lancang mengotak Atik privasi sang suami. Karena ini untuk pertama kali seorang Risma berani memegang kendali ponsel milik suaminya.
Risma sengaja masih berada di dalam kamar, dengan alasan memakai krim wajahnya dan membalurkan handbody di seluruh tubuhnya. Ingin melihat reaksi suaminya saat melihat ponselnya sudah tergeletak di atas kasur.
Pandu keluar dari kamar mandi dengan wajah basahnya, lalu mengambil handuk kecil yang sudah Risma siapkan, mengeringkan wajah dan tangannya lalu mengganti bajunya dengan seragam dinasnya.
"Ma, aku dari tadi cari ponselku loh, kamu yang bawa ya?" Pandu bersuara dengan nada biasa saja dan menunjuk ponselnya ke arah sang istri.
"Iya, Pa! Maaf! semalam kelupaan, ponsel kamu tertinggal di dalam tas." sahut Risma santai dan Pandu juga bersikap biasa saja, bahkan tidak langsung menyentuh ponselnya, membuat Risma mengernyit heran, namun tak mau ambil pusing.
"Tumben kamu, Mas! Biasanya kamu tidak bisa lepas dari ponselmu itu. Tapi setidaknya ada usaha kamu untuk menghargai perasaanku. Kita lihat setelah ini, siapa yang akan lebih menderita dari hubungan tak sehat ini. Semoga aku tetap memiliki hati yang kuat dan mampu mengendalikan hati dan perasaan, agar tidak lagi merasakan sakit hatinya pengkhianatan kamu. Aku ingin menikmati permainan yang kalian buat dan akulah yang memerankan permainan itu. Maafkan aku ya Tuhan, maaf kalau aku sudah berpikir jahat untuk membalas rasa sakit ini, Maaf, Mas! biasakan diri kamu tanpa Risma yang dulu." Batin Risma yang terus berperang dengan logika dan perasaannya.
Pandu mendudukkan diri di kursi samping anak anaknya yang sudah menunggu di meja makan dengan pakaian sekolahnya. Dengan riang kedua anak pintar Cinta dan Galang menyambut kedatangan mama dan papanya. Pandu sangat menyayangi kedua anaknya, karena memang mereka adalah anak anak yang lucu, cerdas dan menggemaskan.
"Pagi sayang." sapa Pandu dan mulai menciumi pucuk kepala sang anak satu persatu.
"Pagi juga, papa! mama!" sahut Cinta dan Galang bersamaan dengan senyuman mengembang dari bibir mungilnya.
Menikmati sarapan pagi dengan rasa bahagia dan nyaman, itulah untuk pertama kali, Pandu bisa merasakan kehangatan yang sesungguhnya dari pernikahan yang bahkan sudah berjalan hampir sepuluh tahun lebih, miris sekali.
Setelah selesai menghabiskan menu sarapannya, Pandu melangkahkan kakinya kembali ke kamar. Namun lebih dulu mengantar putri cantiknya menuju mobil jemputan dari sekolahnya. Sedangkan Galang masih berangkat nanti satu jam lagi, karena dia masih sekolah di paud dan sekolahnya pun juga tak jauh dari rumah.
Sementara Risma memilih membantu mbak Romlah membereskan dapur.
__ADS_1
Ting, tanda ada pesan masuk dari ponselnya Risma yang berada di saku gamisnya. Risma tersenyum saat membaca sederet kalimat dari kontak sang istri muda. Lalu mengarahkan kameranya ke arah Pandu yang sedang menemani Galang mewarnai di buku gambarnya, karena memang sejak tadi Galang sengaja menempel pada sang papa manja.
Mengirimkan nya pada Clara yang mungkin kini sedang emosi karena suaminya tak kunjung menghubunginya, itu bisa terlihat dari beberapa kalimat yang dia kirimkan melalui pesannya sejak tadi pagi.
"Jangan serakah kamu, Mbak!
Aku ini juga istrinya, katakan pada suami kita, suruh menghubungiku sekarang, aku ingin bicara dengannya!" sederet pesan terakhir yang Clara kirim di ponsel milik Risma, namun hanya dijawab dengan sebuah foto Pandu yang sedang bersama anaknya oleh Risma tanpa mau memberi embel embel satu kata pun. Biar semakin tersiksa madunya!
Tidak perlu menghabiskan tenaga menghadapi sang penyusup keluarga, cukup bermain cerdik dengan logika dan bersikap tenang, jauh akan lebih mematikan mental sang lawan. "Menyenangkan." Risma bergumam lirih dan langsung ditangkap oleh pendengaran mbak Romlah.
"Menyenangkan?" sahut mbak Romlah bingung menatap majikannya yang tersenyum sendirian.
"Eh, mbak Romlah dengar?" sahut Risma masih dengan senyuman dan terlihat wajahnya yang lebih ceria.
"Ya dengar to, Bu!
Bu Risma, sepertinya sedang senang, ada apa?" balas Romlah agak sedikit memelankan suaranya, karena merasa ada yang ganjil dengan sikap majikan perempuannya yang terlihat sedikit ganjil.
Risma mengangguk dan masih dengan senyuman di bibirnya yang indah. Membuat mbak Romlah ikut tersenyum karena ini pertama kalinya melihat Risma bisa senyum selepas itu.
"Bermain main dengan selingkuhan suami, ternyata sangat menghibur dan menyenangkan ya, Mbak?" balas Risma sambil membekap mulutnya, takut terdengar oleh Pandu.
Mbak Romlah langsung menganga tak percaya, menatap Risma tak berkedip dengan wajah polosnya.
"Biasa saja, Mbak!" Risma tertawa melihat ekspresi pembantunya yang berlebihan bahkan terkesan sangat lucu di matanya.
"Ma!"
tiba tiba Pandu muncul dan mengubur senyuman sang ratu.
__ADS_1