
"Pak Aji, mampir ke mini market sebentar ya, mau beli oleh oleh buat Dania!" Bu Desmita bicara singkat pada pak aji untuk berhenti di mini market terdekat.
"Baik Bu!" sahut pak Aji sangat sopan.
Melirikkan pandangannya di kaca spion melihat perempuan umur hampir enam puluh tahun itu terus mengalirkan air matanya. Merasa iba dan juga ikut merasakan kesedihan dengan keadaan Clara. Karena pak Aji juga selalu diperlakukan dengan sangat baik oleh Clara, bahkan Clara juga menghormati pak Aji sebagai orang yang lebih tua.
Pak Aji menghentikan mobil di depan pelataran mini market. Dengan langkah gontai Bu Desmita melangkah masuk. Belanja apa saja yang jadi kesukaan cucunya, tak lupa juga membelikan cemilan untuk pak aji dan Bi Marni. Bu Desmita orang yang royal dan gak pelit sama pembantu di rumah Clara.
Setelah selesai membeli apa yang di inginkan, Bu Desmita kembali ke dalam mobil dengan membawa empat kantong kresek belanjaan.
"Kita langsung pulang saja pak aji!" Bu Desmita duduk dengan menyenderkan kepalanya di kuri belakang sopir.
"Baik Bu!" pak aji langsung menyalakan mobilnya dan melaju dengan kecepatan sedang, karena jarak rumah sudah sangat dekat, hanya kurang lima ratus meter saja.
Dania yang sudah di beri tahu kalau neneknya akan datang, sudah menunggu di depan dengan ditemani suster dan Bu Rosa.
"Nenek!" teriak Dania dengan senyuman ceria, berlari menyambut neneknya penuh kerinduan.
Memeluk erat wanita tua yang terlihat masih cantik dan segar di usianya.
Bu Desmita berusaha kuat dan tetap tersenyum meskipun hatinya teras perih.
"Ah, cucu nenek!
Nenek kangen banget sama Dania!
Dania sehat nak?" Bu Desmita menyamakan tingginya dengan sang cucu, berjongkok membalas pelukannya, membelai lembut rambut panjang Dania dan mengecup keningnya berulang ulang.
"Nek, kata papa, mama masih sakit karena melahirkan adik bayi, masih harus menginap di rumah sakit dulu, biar cepat sehat.
Dania mau jenguk mama!" wajah polos itu menatap neneknya penuh harap, kedua bos matanya yang bening terlihat begitu tulus akan kasih sayangnya terhadap mamanya.
"Iya sayang, nanti kalau mama sudah boleh di jenguk ya, sekarang mana masih harus istirahat, belum boleh di jenguk sama dokternya. Dania disini mama ya, nak!" Bu Desmita tersenyum dan kembali memeluk cucunya, mati matian menahan air mata yang ingin tumpah. Harus bisa menahan diri agar tak terlihat sedih.
"Dania, nenek bawain jajan kesukaan Dania tuh, minta ke pak Aji ya, nenek mau istirahat sebentar saja, boleh kan?" Bu Desmita mencari alasan agar Dania tidak terus menanyakan mamanya, karena tak kuasa menyembunyikan kesedihan jika terus menerus mendengar Clara disebut.
Dania lari mencari pak Aji, dan meminta diambilkan belanjaan neneknya.
Pak aji dengan senang hati, membantu gadis kecil yang lucu dan menggemaskan itu dengan langsung menggendongnya dan membawanya menuju mobil dan membuka bagasi, lalu mengeluarkan semua belanjaan Bu Desmita.
"Wah banyak banget!" teriak Dania senang dan menatap ceria ke arah kantong kantong berisi jajanan.
__ADS_1
"Pak aji, Bi Marni, dan suster di bagi ya sayang!" Bu Desmita menatap cucunya sayang, dengan perasaan tak karuan.
"Iya, nek!" sahut Dania polos dengan membawa satu kantong yang berisikan jajan kesukaan nya. Sisanya dibawakan pak Aji.
"Sus, temani Dania. Alihkan pikirannya dari mamanya dulu, agar tidak terus minta bertemu sama mama nya. Clara masih kritis belum bisa untuk ditemui." Bu Desmita bicara sangat pelan pada suster yang menjaga Dania.
"Baik Bu, Bu Desmita tenang saja. Semoga Bu Clara segera sehat kembali." sahut suster Ani sopan.
"Makasih sus!" balas Bu Desmita dengan tersenyum kecil.
Menghembuskan nafasnya kasar lalu menatap besannya sayu.
Bu Rosa paham dengan apa yang dirasakan Bu Desmita.
"Sebaiknya Bu Desmita istirahat di dalam, buat tidur meskipun hanya sebentar. Bu Desmita juga harus sehat demi Clara dan Dania."
"Iya, Bu! kalau begitu saya tinggal ke kamar ya?
Maaf tidak bisa menemani Bu Rosa!" sahut Bu Desmita sungkan.
"Gak papa, kita sama sama tau seperti apa kondisi saat ini. Bu Desmita Monggo Istirahat saja.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Pandu merasa ada yang mengganjal di dalam hatinya, tapi tidak tau itu apa. Akhir akhir ini dia sering merasa gelisah dengan sesuatu yang dia sendiri tidak pahami. Biasanya saat ngumpul dengan keluarga kecilnya, hatinya selalu merasakan bahagia, tapi akhir akhir ini hampa karena perasaan gelisah nya.
"Ada apa denganku, kenapa aku sering cemas dan gak nyaman seperti ini. Apa yang sebenarnya terjadi?
Semoga tidak ada hal buruk dengan firasat tidak enak akhir akhir ini yang aku rasakan." Pandu bergumam lirih sendirian sambil menikmati kopi di dalam cangkirnya.
Risma sedang menemani anak anaknya tidur, dan ikut ketiduran di kamarnya Galang. Sedangkan Cinta sudah tertidur pulas di kamarnya sendiri.
Saat pikirannya menerawang, tiba tiba ponselnya bunyi, bahwa ada pesan yang masuk. Pandu mengernyitkan dahinya, menatap pesan dari Sandi yang meminta untuk bertemu tanpa sepengetahuan Risma, karena ada sesuatu yang ingin disampaikan, dan sangat penting sekali.
"Ada apa sand?" jangan buat aku penasaran!" balas Pandu dan segera mengirimkan pesannya pada Sandi.
"Besok saja kita kalau sudah ketemu, aku harus menemui jam berapa?
Karena waktuku tidak banyak, dan ini sangat penting. Ada hal yang harus kamu tau." balas Sandi semakin membuat Pandu penasaran.
"Baiklah, temui aku jam sebelas siang di cafe tak jauh dari kantorku, gimana?" Pandu dengan cepat membalas pesan dari Sandi.
__ADS_1
"Oke, aku akan kesana besok!
Terimakasih!" balas Sandi pasti dan menutup obrolan dengan Pandu.
Sandi sudah meyakinkan dirinya untuk bicara soal Dania dengan Pandu. Apapun itu, harus siap menghadapi.
Sedangkan Pandu, terus menerka nerka apa yang ingin Sandi sampaikan, hatinya kembali merasakan cemas dan perasaan itu muncul lagi, perasaan yang membuatnya tidak nyaman.
"Apa ini ya Alloh?" Pandu meremas rambutnya frustasi, karena sungguh jika di dalam hatinya sedang merasakan tidak baik baik saja tapi tidak mengerti apa itu.
Pandu bangkit dari duduknya, dan pergi ke kamar anak perempuan nya, berbaring disamping Cinta dan berusaha memejamkan mata. Karena Pandu tau kalau Risma juga tengah tertidur bersama dia jagoan nya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Kasih sayang yang salah
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
Happy ending ❤️
__ADS_1